Curhat

Curhatan Seorang Jomblo

Meita Eryanti
Ditulis oleh Meita Eryanti

“Mbak, ada paket.” Kata seorang teman kantorku.

Paket itu adalah paket buku dari jombloo.co, sebagai hadiah sayembara 3 hari menulis surat cinta beberapa waktu yang lalu.

“Kok pengirimnya jombloo.co sih? Itu klub jomblo ya? Lu ikut klub jomblo? Gitu-gitu amat ya jadi jomblo?” ejek teman yang lain.

“Ish….” Hardikku pada setiap orang yang meledekku.

Ini bukan pertama kalinya mereka meledekku yang berstatus jomblo. Aku kadang bertanya, salah ya jadi jomblo? Jangan kan mereka, adikku sendiri bisa berkomentar jahat padaku. Seperti ketika imlek kemarin, aku berencana untuk mengajak adikku jalan-jalan ke Pasar Lama Tangerang. Ternyata, adikku libur lebih lama dari sehari dan dia pergi ke rumah saudaraku di Bekasi. Saat aku menghubunginya, adikku berkata, “Dasar Jones, gak ada yang bisa diajak jalan ya sampe ngajak aku?”

“Ih, mbak-mbak jones kesepian yah? Gak ada yang diajak cerita? Trus minta adeknya telpon? He emh?” kata adekku di lain waktu ketika aku meminta adekku untuk menelponku karena aku tak punya pulsa dan ingin berbagi cerita.

Ngeselin kan? Emang…

Apa gitu yang salah dengan jomblo? Jomblo kan bukan penyakit menular dan bukan juga kebodohan yang harus diberantas. Kenapa orang memperlakukan jomblo dengan tidak adil? Kayaknya, jadi jomblo tuh nasib sial banget gitu.

Seperti ketika tahun baru yang lalu, aku dipasang untuk jaga sore bersama dengan temanku yang juga jomblo.

“Wah, paket jomblo yang jaga sore.” Teriak kawan yang lain. “Makanya Mbak, punya pacar donk, jadi bisa punya alasan buat gak jaga sore. Kayak Mbak Rosa noh, dia punya pacar, jadi dipasang pagi soalnya sore dia mau taun baruan sama pacarnya. Kalau lu pagi, lu mau taun baruan sama siapa?”

Emangnya jomblo gak boleh tahun baruan?

Dan karena aku jomblo, atasanku suka sekali membuatkan jadwal lembur untukku.

“Ya udah sih Mbak, lu aja yang lembur. Lu di kosan ngapain sih? Palingan tidur. Gak ada yang mau ngapelin juga.” Kata temanku saat aku mengklarifikasi jadwal lemburku.

Ya kali, jomblo butuh istirahat juga lho…

Pernah suatu hari aku kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam bersama dengan temanku yang sudah memiliki suami. Pagi harinya, aku merasa punggungku yang sangat kaku, di kantor aku lalu mencari racikan salep untuk pegel-pegel. Temanku yang sudah bersuami lalu menyapaku,

“Punggungmu sakit ya? Aku juga, pegel banget tau. Cuman semalem begitu pulang, trus aku dipijet sama suamiku. Lumayan enakan sekarang.” Katanya.

“Wah, senengnya, punggungku masih sakit tau. Semalem aku pulang, mandi, langsung rebahan. Bangun-bangun malah berasa kaku. Makanya cari racikan salep ni. Berasa kayak nenek-nenek tau aku.” Kataku.

“Makanya punya suami Mbak, jadi ada yang mijetin bukan pagi-pagi cari racikan salep.” Celetuk seseorang.

Ish, dia pikir punya suami gampang? Kalo gampang mah orang gak akan mengenal kata jomblo.

Jangan lah jahat dan berlaku tidak adil pada jomblo. Kami ni berusaha untuk hidup senang dalam kesendirian kami. Hidup itu bukan perkara punya pasangan aja kan? Yang penting bahagia. Jomblo juga selalu berusaha merasa bahagia dengan kehidupannya. Perlukah dia menjadi tidak bahagia karena komentar orang?

Tentang Penulis

Meita Eryanti

Meita Eryanti

Apoteker yang berusaha selalu bahagia dengan rutinitasnya dan senang bila bisa libur setiap hari sabtu. bisa disapa di @meitaeryanti