Curhat

Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Punya teman seorang aktivis persma kampus adalah sangat menyenangkan. Pertama, ia tak akan pernah menusuk dari belakang. Ia pasti bertanggungjawab dengan pertemanan yang dijalaninya. Rahasia yang kalian sampaikan sudah pasti terjaga. Karena, ia pasti sudah terlatih menjaga rahasia identitas narasumber yang tidak berkenan dipublikasikan namanya.

Kedua, ia akan sangat membantu kalian dalam menyelesaikan pekerjaan. Ketekunan, kerajinan, dan keuletannya yang sudah terlatih membuatnya menjadi sosok teman yang tangkas. Sekali kode langsung peka. Peribahasa ringan sama dijinjing berat sama dipikul, berlaku dalam pertemanan macam ini.

Ketiga, berteman dengannya akan membuat kalian jauh dari konflik. Kesabaran mereka akan selalu menuntun mereka untuk berpikir dingin acap kali menyelesaikan persoalan. Seperti halnya mereka sabar menghadapi narasumber yang ribet dan Pemred yang suka menyuruh.

Keempat, ia tak akan pernah ingkar janji. Jika tenggat saja mereka tepati, apalagi janji kepada kawan. Tak perlu kiranya kalian risau akan dikhianati tatkala ia telah berucap janji. Hujan badai sekalipun akan diterjangnya demi menepati janjinya.

Kelima, ia pastilah seorang yang kritis. Bisa jadi agak banyak bertanya. Tak apa, itulah kelebihannya. Terutama saat kalian tersesat di jalan. Ia mampu bertanya serinci mungkin arah tempat yang kalian tuju kepada seorang yang kebetulan ditemui di jalan. Lagipula ingatannya pasti kuat. Pers tak boleh melupakan detil.

Ya, begitu juga dengan teman saya yang bernama Adit. Seorang maha senior persma di kampus saya. Tak satupun yang meragukan tanggungjawab, keuletan, kerajinan, kesabaran, keamanahan dan kekritisan yang dimilikinya. Pokoknya ia seorang aktivis pers yang kafah. Teman yang sempurna.

Kesempurnaan itu membuatnya dipercaya banyak rekanan. Pekerjaan hilir mudik menghampiri. Dari soal ngurus web, sampai ngurus clothing. Namun, dia tipikal orang yang pilih-pilih. Tak asal caplok kerjaan. Ia hanya akan mengambil yang dirasanya pas dengan idealismenya: memajukan bangsa dan pro rakyat. Subhanallah.

Soal gaji? Aduh, jangan pernah berkompromi dengan Adit soal gaji. Itu adalah nomer kesekian ribu baginya ketika pekerjaan itu berkaitan erat dengan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Tak dibayarpun ia mau.

Kini, Adit adalah ujung tombak kedaulatan tembakau negeri ini. Ia adalah pembela di.garis terdepan untuk memperjuangkan nasib para petani tembakau di tengah ancaman monopoli asing. “Pokoknya RUU Pertembakauan harus disahkan!” Begitu ia pernah berucap tempo hari.

Ya, memang hanya tembakau adalah komoditi yang masih bisa diharapkan bagi kedaulatan ekonomi bangsa. Hanya tembakau yang masih sepenuhnya milik pribumi. Minyak, emas, bahkan kopra kita sudah tak lagi berdaulat. Padahal bumi ini bumi kita.

Di sinilah hati seorang Adit terketuk. Ia tak rela segala milik bangsa ini dirampas asing. Bangsa ini besar. Nenek moyang bangsa ini seorang penakluk. Penemu. Penguasa. Bukan babu! Adit tak mau jadi babu di negeri sendiri!

Menulis. Berdiskusi. Aksi. Begitulah yang Adit lakukan. Semua demi bangsa ini. Semua serba mendesak baginya. Waktu bukanlah soal lagi. Pergi pagi, pulang malam tak jadi masalah. Berhenti sejenak berarti kalah!

Bisa kalian bayangkan betapa sibuknya kawan saya ini? Ya, tentu kalian tak akan bisa membayangkannya, kecuali kalian menyaksikannya secara langsung. Dijamin merinding disco. Tertegun. Dan kalian akan bertanya-tanya di dalam hati, kapan Adit pacarannya?

Inilah sebuah hal yang sebenarnya mengusik saya. Pria tangguh macam Adit ini seharusnya punya pendamping yang aduhai bak Lady Diana. Atau, sekurang kurangnya Chelsea Islan. Pendamping yang akan bisa menghapus peluhnya di kala lelah. Menghiburnya di kala sedih. Menemani mimpinya di kala malam.

Namun, sejauh ini semua itu belum terjadi. Adit masih sendiri. Ia masih jauh dari kekasih. Waktunya masih habis untuk memperjuangkan negeri. Di situ, kadang saya merasa sedih!!!

Cepat temukan kekasih dan menikahlah, Dit. Bangsa ini butuh penerusmu!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian