Berita dan Artikel

Jomblo Juga Penyair: Sebuah Teori Sederhana Bung Brewok

Bagustian
Ditulis oleh Bagustian

Menjadi jomblo tidak serta merta membuat Anda berada di titik terendah sebuah kasta sosial. Memang, jomblo seringkali terlihat sudra jika berkeliaran di Sabtu malam. Kaum papa kasih sayang ini, biasanya menghindari keramaian di hari-hari atau malam-malam yang berpotensi menyakiti pandangan mata. Tidak. Tidak. Tidak. Anda belum tentu berada di kasta sosial yang paling rendah. Jangan takut, masih ada koruptor, kok, Mblo, eh, Bro…

Jomblo juga terkenal sebagai kaum perasa. Mereka mudah merespons benda-benda dan kejadian di sekitar. Saking mudah meresponsnya, komet yang akan jatuh di muka bumi saja mereka lebih dulu tahu, tinimbang NASA. Angin yang berembus pelan dari Merapi ke Parangtritis juga bisa diresapi lebih dalam. Konon jomblo jauh lebih filosofis soal mendalami perasaan.

Saya jadi berpikir: apakah kaum-kaum penyair masa depan akan lahir dari mereka yang sudra di Sabtu malam itu? Tapi coba kita pikirkan lagi. Kenalkah kalian pada Tri Em; novelis yang menerbitkan buku “Catatan Mantan Playboy” itu? Penulis yang melabeli dirinya seorang mantan playboy ini, belakangan saya lihat sedang berusaha keras meninggalkan arah kompas. Apa tidak—Em  (begitu sapaan gaulnya) yang seorang novelis—, kini berusaha menghibur dirinya (baca: sok-sokan kuat, padahal gundah) dengan memuat status-status puitis di beranda facebook dan linimasa twitter-nya.

Bung Em, kalau saya boleh cepat menyimpulkan adalah seorang jomblo baru. Bukan begitu, wahai mantan playboy? Beberapa waktu ini saya menangkap pembaruan status di twitter miliknya. Kegiatan Em di larut malam adalah meronda dan berdiskusi dengan warga. Sungguh kegiatan yang sangat eek kucing! Why? Em hanya sedang mengalihkan kesunyian dari malam yang terus menggigit-gigit kenangannya.

Ada apa dengan kamu, Bung? Mengapa kau takut menemu malam? Tidakkah kamu sadar, bahwa cikal bakal penyair akan lahir dari patah hatimu itu? He he he. Terimalah kepenyairanmu. Mau contoh?

Subuh yang riuh

ada hati yang kencang mengeluh

Ada rindu yang membikin

pagi tampak gaduh

Ada engkau, juga aku,

yang tiada lagi berlabuh

– status twitter Tri Em, 21 Januari 2015.

Sungguh alangkah bukan, sajak kecil yang dibuat penulis cadel satu ini? Sepulang berdiskusi dengan ketua RT malah dia membuat puisi. Jangan-jangan dia sedang mengumpulkan tenaga untuk meluapkan air mata satu perumahan dengan puisi? Saya berani taruhan! Wong cuitannya indikatif sekali, kok. Emm… kalau saya boleh kasih saran, kamu harus banyak berguru pada tokoh-tokoh jomblo nasional.

Sudahlah, Bung Em. Nubuatmu telah tiba. Jadilah penyair, agar kamu bisa merasakan lilin yang meleleh karena api. Jadilah penyair agar kamu bisa menelan bulat-bulat sakit hatimu. Penyair itu keren, wahai novelisku. Setidaknya bagiku, kamu sudah memenuhi dua kriteria penyair: merokok dan patah hati. Tapi, memangnya ada ya penyair yang jomblo? Ah kamu! Merusak saja, Bung…

Tentang Penulis

Bagustian

Bagustian

Penyair, pemusik dan kuli buku. Sehari-hari bergelut dengan skripsi dan tiga ekor kucing kesayangannya. Bisa dijangkau di @ladangsandiwara