Curhat

Propaganda DM Twitter, Sebuah Kesalahan

Dani Apriyan
Ditulis oleh Dani Apriyan

Cerita tentang seorang cowok dan seorang cewek

Foto itu menarik perhatianku. Sebuah foto yang berkomposisi gambar seorang gadis berkerudung sedang duduk sedikit menunduk, memegang alat tulis yang ditempelkan pada lutut, di sebuah tempat yang seperti tempat ibadah.

Aku harus bisa mendapatkan nomor teleponnya.

Kucoba untuk mengirimkan DM Twitter karena hanya itulah satu-satunya media yang aku miliki.
“hai, boleh mengenalmu? fotomu menarik perhatianku :D” ku kirimkan pesan itu. Agak lama hingga pesan itu dibalas.
“hai, boleh, foto yang mana?” balas gadis itu

Dari pesan itu aku mulai mendapatkan jalan untuk mengenal dia, nomor teleponnya yang pasti.

1 minggu menjalin komunikasi dengannya, aku mengambil kesimpulan gadis ini kepribadiannya misterius namun menarik.

Tensi komunikasi sering naik turun.

Kepribadiannya yang dia ceritakan lebih dari satu, hobinya menggambar, kadang dia juga menulis, banyak hal baru yg bisa aku ikuti untuk menguatkan impianku.

[“Egois kau, hanya memprioritaskan impianmu!!”
“Saya cowok, saya yang nanti harus bertanggung jawab menafkahi anak istri, bolehlah saya membangun impianku dulu”
“OK, lanjutkan ceritamu”]

Dari 1 minggu pertama menjalin komunikasi, muncul sebuah rasa, rasa ingin bersama dia. Entah aku sendiri tak tahu sebabnya, mungkin karena komunikasi yang menyenangkan, obrolan yang berimbang, dan lebih sering membahas masa depan tidak terlalu sering membahas masa lalu.

Hingga pada suatu saat dia mengirim emoji “kiss :* “. Ahaaa…sebuah tanda. Tapi saya tak boleh senang dulu, sebuah emoticon mungkin bisa saja efek salah pencet, supaya pas saya kirim juga emoji “kiss :* ” tanpa kalimat lainnya. Hingga dia sendiri yang melanjutkan obrolan. Bisa diartikan emoji tersebut bukan salah pencet. Aku anggap dia nyaman dengan pesan yang ingin ku sampaikan juga dengan sebuah emoticon kiss. Ada rasa bahagia sedikit mengisi hati.

Hari demi hari berganti. Komunikasi dengannya mulai mendalam. Cerita-cerita tentang hal pribadi mulai mengisi. Hingga suatu saat dia menanyakan kemana arah hubungan ini. [Lha mau dibawa kemana? Saya sebagai cowok hanya bisa dan harus siap dengan akibatnya]

Sebuah pesan di sore hari “Mas, aku ndak mau memberikan harapan untukmu”. Sebuah pesan yang sempat membuat “zoned out” karena saya harus menguraikan arti pesan itu dan efeknya nanti. Saya hanya membalasnya dengan “hmmmmm…..” sebagai tanda sedang mikir, “as you wish ….My Lady” (Menirukan logatnya Sir Jorah dari Game Of Throne) pesan lanjutan yang ku kirimkan.

Lalu malam terasa agak sesak, sampai Jeremy Clarkson dan Richard Hammond adu argumen tentang mobil mana yang paling baik. Pagi pun jadi sepi tak ada pesan yang masuk lagi.

Kegiatan sehari-hariku membuatku bisa selalu terhubung dengan internet di siang hari hingga bisa Twitteran [stalking time]. Kadang Muncul sebuah tweet dari dia yang nadanya menyindir. Apa dia sedang memikirkanku? entahlah. “Kalo rindu temui saya di jogja” sebuah pesan yang kukirimkan lagi yang dibalas dengan “aku belum bisa ke jogja, mas”. Pesan yang membuat obrolan menghangat lagi, hingga suatu saat dia bilang kalau dia lelah dengan hal ini dan mengirimkan lagi pesan yang berbunyi “mas, aku ndak mau dikira memberi harapan untukmu, kau carilah perempuan yang lain untuk menemanimu”. Ku balas pesannya “ya, terimakasih nasehatnya”

Minggu dan bulan membisu. Tanpa pesan. Menyisakan sebuah fakta aku belum pernah bertemu dengannya.

Tentang Penulis

Dani Apriyan

Dani Apriyan

aktif memainkan akun @danidant