Curhat

Semua Pasti Ada Hikmahnya

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Parmin memang teman yang selo. Sudah sepuluh tahun lebih kami berteman. Ia tetap sama. Hidupnya seperti tanpa beban. Cengengas-cengenges saja kerjaannya. Tak peduli saat sedih ataupun senang. Perasaannya sulit ditebak.

Kalau ada nominasi lelaki yang paling neriman di Indonesia, pastilah Parmin masuk. Pokoknya hidup selalu enak baginya. Apapun yang terjadi patut disyukuri dan diambil hikmahnya. Meskipun itu musibah.

“Tak apa, namanya juga musibah. Pasti ada hikmahnya.” Kalimat itu terlontar dari mulut Parmin, saat kami berbincang soal jatuhnya pesawat Air Asia QZ850 beberapa waktu lalu. Nada bicaranya datar. Tak terdengar bijak sama sekali.

Bukan kali pertama Parmin berucap demikian. Saat Tsunami Aceh, gempa Jogja, meletusnya Merapi, pun sama. Tak banyak cincong kayak media.

Karena sikapnya, tak banyak teman yang curhat ke Parmin. Apalagi soal asmara. Percuma. Paling jawabannya itu-itu saja. Ikhlaskan. Tabah. Ambil hikmahnya.

Parmin sendiri tak pernah sekalipun cerita soal asmaranya. Statusnya misterius. Diselidiki bagaimanapun tetap tak ketahuan. Kamipun sempat menduga dia homo, dan takut jujur kepada kami.

Pada suatu malam Minggu, saat saya, Parmin, dan dua jomblo lain sedang ngopi di kosan. Curhat ngalor ngidul. Berbagi sedu sedan. Pokoknya ngenes. Tak biasanya, Parmin tiba-tiba murung. Waini!

Merasa punya kesempatan, kami desak Parmin untuk cerita. Sulit. Ia cuma diam sambil ngudud kebal kebul. Asu! Sok misterius!

Tapi peejuangan kami tak berhenti. Segala bujuk rayu kami berikan agar ia buka mulut. Kamipun berjanji tak akan mengoloknya kalau dia jujur. Bahkan kalau memang dia homo beneran. Tak akan. Homo adalah hak!

Setengah jam berlalu. Parmin pun akhirnya buka mulut. “Gua putus sama cewek gua. Cuma dua hari jadian!” Suaranya datar. Mukanya murung. Ia bukan homo. Ududnya dimatikan. Ia beranjak. Masuk ke kamar mandi dan lama sekali. Kasihan!

Min, ikhlaskanlah. Tabah. Semua pasti ada hikmahnya!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian