Surat Cinta

Surat untuk Pak Jokowi

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Selamat malam, Pak Jokowi yang terhormat.

Apa kabar, Pak? Sepertinya Bapak lagi nggak sehat, kalau dilihat dari wajah bapak yang semakin redup cahayanya, akhir-akhir ini di media. Tampak semakin tua dan loyo. Sungguh berbeda dengan ketika masa kampanye Pilpres. Enerjik, ceria, dan penuh semangat. Tampilan khas ala calon Presiden Indonesia yang lagi pencitraan. Ah, mungkin Anda lupa donlot camera 360 kali ya. Entahlah.

Namun, saya mafhum kok dengan keadaan Bapak akhir-akhir ini. Jadi Presiden memang tak mudah. Melelahkan. Banyak persoalan yang menuntut diselesaikan. Kemiskinan. Korupsi. Massa KMP yang belum ikhlas. Hingga air mata jomblo yang membanjiri Indonesia setiap malam Minggu. Istirahatlah, Pak. Seperti kami para jomblo yang pergi ke kamar mandi untuk membilas kenangan.

Pak Jokowi yang terhormat.

Maksud sebenarnya saya menulis surat ini, adalah untuk menyuarakan aspirasi seluruh Jomblo Budiman di negeri ini. Tenang, pak,ini bukan soal menolak Budi Gunawan, atau tuntutan mencopot Puan. Biarlah itu menjadi tuntutan para aktipis dan LSM saja. Ini adalah aspirasi dari hati-hati yang patah diinjak mantan yang menolak balikan.

Sebagai Jomblo Budiman yang hapal Pancasila, alinea ke IV Pembukaan UUD 45′, rajin menabung, sopan santun, dan gemar bersedekah, kami sudah tak kuat menerima kenyataan. Mati takut, move on tak mampu. Kesepian dan kenangan sudah teramat menyiksa kami.

Asal Bapak tahu, bagi kami, mendapat pasangan adalah bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Padahal kami tak mengidap alergi. Keturunan kuminis juga bukan. Apa mungkin sumber daya wanita di negeri ini sudah mengalami kelangkaan, seperti minyak? Jika ya, maka buatlah kebijakan konversi wanita, Pak. Agar kami cepat dapat pasangan. Yang terjangkau. Yang setia.

Pak Jokowi yang terhormat.

Bagi kami, negeri ini sudah cukup banyak mempunyai hari besar dan tanggal merah. Hari Kemerdekaan. Hari Pahlawan. Hingga hari raya agama-agama. Tapi, mengapa Hari Valentine, tanggal merah muda itu, yang akan jatuh dua hari ke depan, harus tetap ada? Menjadi ajang bully nasional bagi kami? Hah?

Kami sangat berharap Bapak dapat segera menghapus hari yang diskriminatif itu. Karena, pasti itu adalah hal yang mudah bagi bapak. Semudah bapak menghapus nyawa para penjahat narkoba itu. Menghapus Valentine juga bagian dari menjaga pemuda loh, Pak!

Baiklah, mungkin sampai di sini dulu sajalah surat cinta dari saya buat Bapak. Saya yakin, sebagai presiden, Anda merupakan seorang yang humanis dan romantis. Sehingga, pastilah Anda akan mengabulkan permintaan kami para Jomblo Budiman ini. Dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Terimakasih telah membaca surat ini. Maaf sudah mengganggu waktu anda. Selamat beristirahat. Semoga anda cepat kembali tampak segar seperti sediakala. Amin.

Salam

Jombloo Budiman

 

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian