Curhat

Bantahan Jomblo Liberal Terhadap Kanan Palsu

Iceng
Ditulis oleh Iceng

*(Terserah kau mau menyebutnya sebagai apa, yang penting tulisan ini bukanlah semacam puisi esai, ini murni fiksi. Terinspirasi dari pertemuanku dengan Saut dan perdebatanku dengan kawan liberal, yang isinya telah digubah)

Seminggu yang lalu saya dan beberapa kawan sempat bertemu Saut dalam acara Asian Literary Festival di TIM. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kongkow bareng, berdiskusi, sampai ngobrol ngalor ngidul mulai dari sastra, kiri-palsu, sampai perempuan berjilbab. Suasana saat itu riuh gelak tawa, maklum banyolan-banyolan Saut cukup menghibur kami para “lelaki yang gelisah” di malam minggu. Misalnya saja soal kiri palsu, menurut Saut, kiri palsu adalah para Marxis yang menempatkan cincin akiknya di jari tangan sebelah kanan bukan di kiri. Itulah tanda bahwa dia sorang “kiri palsu”.

Perbincangan kami layaknya perbincangan abang-adek, sangat akrab, sangat intim, padahal kami baru ketemu, baru pertama di situ. Yang terpenting adalah tak sedikit pun firasat yang kami rasakan waktu itu mengarah bahwa Saut akan ditangkap oleh polisi beberapa hari setelahnya. Saat Saut ditangkap, sontak saya terkejut. saya sempat berpikir “apa itu adalah tulah buah pertemuannya dengan kami para jomblo, apa mungkin kami ini adalah sekelompok geng jomblo malapetaka, pembawa sial”. Prasangka-prasangka seperti itu sempat bercokol dalam benak saya.

Setelah peristiwa penangkapan Saut di kamis pagi, malamnya saya bertemu dengan teman saya. Joli namanya,  Jomblo Liberal. Karena memang selain jomblo, teman saya itu seorang liberalis. Kanan pol. Seluruh aktivitasnya sehari-hari mesti menggunakan tangan kanan, termasuk cebok. Rak bukunya saja penuh dengan karya para tokoh liberal: Rethinking Islam Arkoun, Membela Kapitalisme Global Johan Norberg, Merenungkan Libertarianisme Amato Assagaf, Odisei Pasar Bebas Ken Schoolland, dan setumpuk buku liberal lainnya. Kami ngopi-ngopi santai, sambil sesekali ngecek TL Twitter yang sedang ramai, sedang pada ribut Saut ternyata. Dimulailah percakapanan yang menyangkut perkara Saut.

Pertama-tama saya menanyainya dengan sebuah pertanyaan dasar tentang arti sebuah kebebasan. “Apa itu kebebasan?” kataku. “kebebasan adalah esensi  eksistensi manusia paling paripurna, tak satupun orang; jin; setan alas; bahkan tuhan sekalipun dapat merebutnya. Seperti para jomblo kita ini yang bebas menentukan hidupnya: untuk menjomblo.” katanya. “Wah keren juga ya otakmu itu, bawa-bawa setan alas segala” aku berbalas. Dia hanya tersenyum, senyumnya serupa para jomblo pada umumnya: menyimpan getir dan perih.

Percakapanan pun kami lanjutkan. Kali ini dia yang tanya balik padaku “menurutmu bagaimana? apa itu kebebasan?”. “Bagiku kebebasan sangat sederhana, tidak muluk-muluk sepertimu bawa bawa tuhan segala. Bagiku kebebasan adalah memiliki kekasih, karena  dengan kekasih kita terbebas dari kesepian, dan kita gak bakalan diganggu setan alas” kataku. “Kekekekekeke” aku tertawa. Dia hanya mengangkat kumisnya sedikit di bagian ujung paling kanan atas bibirnya, tak berkomentar sedikitpun. Ini hanyalah awal tanya-jawab dari sebuah diskusi yang nyatanya semakin asik.

Menurut berita yang saya peroleh dari TL Twitter, konon Saut dilaporkan ke kepolisian atas dasar tuduhan telah melakukan kekerasan verbal di media sosial. Saut dituduh telah menghina Fatin Hamama dengan kata-kata kasar, yang bagi sebagian orang tak layak diungkapkan di tengah peradaban suci manusia yang menumpuk moral dan etika. Salah satunya Saut menuliskan “lonte” dalam sebuah komentarnya untuk Fatin di facebook. Sehingga saut dijerat UU ITE dengan asumsi –mencemarkan nama baik.

Saya akhirnya membuka kembali percakapan yang sempat tertunda itu karena kita autis dengan hp kita masing-masing.

“Jol, benarkah nama baik itu akan kotor jika aku kritisi kau dengan kata-kata paling dalam?”

“Tidak, namaku akan tetap sama, tak berubah sedikitpun, tak bergeser makna apapun dari macam-macam sebutan yang kau nisbatkan. Yang kau kritisi kan bukan namaku toh, nama hanyalah katalisator integritas tubuh dan jiwa secara utuh toh, sebenarnya yang kau kritisi sikap dan persepsiku toh, yang tidak sejalan denganmu.”

“Betul, lalu bagaimana pendapatmu soal lonte yang dibilang Saut pada Fatin itu?”

“Itu sah-sah saja, sebagaimana para liberalis ekstrem semisal Charlie Hebdo di Prancis bebas melakukan otokritik terhadap otoritas agama. Karena kita yakin, kebebasan memberikan ruang pada kita untuk saling mengadakan kontrol, sehingga proses yang dialektis dapat berjalan efektif. Ya, salah satunya adu kritik dalam dunia sastra itu. Sehingga tidak ada monopoli satu kuasa tunggal. Jika itu terjadi, itu bahaya bos. Habislah kita.”

“Tapi setahuku orang-orang di belakang Fatin itu para liberalis juga kan ya, saya heran, kok bisa beda sama kamu gitu loh?”

“ya ya betul. Mereka itu penuh kepentingan, budak ambisi, makanya sering menggunakan logika standar ganda. Kan mereka itu para liberalis karbitan bos, kanan palsu, lihat aja cincin akiknya ada di jari tangan kiri bukan kanan. ”

“Kekekekekekek.”

“Terus pendapatmu soal lonte, pelacur, mucikari, atau apalah itu bagaimana Jol?”

“Sebagai sorang liberalis tulen, karena saya sudah liberal semenjak kelas 3 SD, saya katakan mau pelacur kek, mau lonte kek, mau mucikari kek, itu sama saja seperti manusia-manusia lainnya. Toh kita berhak mengeksploitasi tubuh kita. Kita punya kuasa atas tubuh kita masing-masing. Dan kita sama. Tak ada satu titik pun yang membedakan kita dengan para pelacur, para lonte, dan para mucikari. Mereka juga manusia, kita juga manusia. Mereka hanya menjalankan haknya untuk berprofesi, apapun itu jenisnya. Dan penghormatan kita pada mereka sudah sepatutnya sejajar sebagaimana penghormatan kita pada orang tua kita”.

“Jika itu merupakan penghayatanmu, marahkah kau jika kau aku bilang lonte?”

“Lah tentu marah, karena aku lelaki, harusnya kau bilang aku gigolo!”

“Kekekekeke”

Sekarang gantian aku yang tanya dong, “omong-omong Hammaamun dalam bahasa arab itu artinya apa bos?”

“Itu artinya Kamar mandi alias …….” kataku.

 

……………………………hening …………………………….

Tentang Penulis

Iceng

Iceng

Hidup tak seserius yang ter(F)ikirkan. Penulis bisa di sapa di akun twitter @anc_iceng

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    !