Curhat

Fatin Hamama di Mata Jomblo Budiman

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Sewaktu kecil dulu saya demen berolok dengan teman saya. Biasanya dengan saling memberi panggilan-panggilan aneh. Misalnya, saya akan memanggil Peang kepada teman yang kebetulan kepalanya peang. Dan teman saya itu akan memanggil saya Monyong, karena bibir saya lebih maju sepersekian senti dari miliknya.

Seringkali kegiatan berolok-olok itu juga naik ke tingkat yang lebih ekstrim. Saling memanggil dengan nama orang tua. Yang ketika digabungkan dengan olokan fisik, maka akan menjadi Toha Peang. Toha adalah nama bapak teman saya, dan peang karena kepalanya peang. Kami saling memaklumi dengan kegiatan itu. Semua kami lakukan atas dasar kesenangan dan kesepahaman satu sama lain. Tak ada yang merasa tersinggung. Apalagi sampai membawanya ke ranah hukum.

Di sisi lain, hal seperti itu justru yang membuat saya terus mengingat teman masa kecil saya. Bahkan, ketika sudah sama-sama dewasa, kami masih suka menggunakan panggilan masa kecil untuk menyapa sesama. Karena menjadikan percakapan kami lebih hangat. Menjadi pertanda bahwa kami bukan baru saja berteman. Bukan pula berteman atas dasar kepentingan.

Hal ini sama seperti Wong Suroboyo yang selalu menambahkan kata ‘cok’ pada akhir kalimat ketika bercakap dengan seorang teman akrab. Padahal, kata ‘cok’ yang merupakan versi pendek dari ‘jancok’, sesungguhnya memiliki konotasi yang jelek dalam bahasa Jawa. Namun, soal makna dan arti pada sebuah kata tidak akan menjadi sebuah masalah, ketika dua orang yang mengucapkannya punya pemahaman yang sama akan itu.

Untuk dapat memiliki pemahaman yang sama, di antara dua orang harus berada pada frekuensi yang sama; Tingkat pengetahuan yang sama. Profesi yang sama. Budaya yang sama. Seorang sastrawan misalnya, akan lebih mudah sepaham dengan sesamanya. Meskipun, bukan berarti dengan PNS ia tidak bisa sepaham. Dua orang yang tak saling memahami, akan sulit untuk bersatu. Meskipun saling mencintai.

Persoalan ketidaksepahaman, atau yang dalam bahasa Inggris sering disebut missunderstanding, yang sering menjadi akar sebuah konflik. Apapun bentuknya. Begitu juga dengan konflik antara sastrawan Saut Situmorang dengan Fatin Hamama yang ngaku penyair. Hanya karena beda pemahaman soal kata ‘bajingan’ dan ‘mucikari’ saja.

Fatin merasa dilecehkan dengan komentar Saut di Facebook saat berdebat dengannya soal buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh, yang menggunakan kata ‘bajingan’ dan ‘mucikari’ untuk ditujukan padanya. Ia pun melaporkan Saut dengan tuduhan melakukan sebuah pelecehan seksual secara verbal dan pencemaran nama baik.

Menurut saya tindakan Fatin adalah sesuatu yang lebay. Cenderung mengindikasikan bahwa ia bukanlah seorang sastrawan sungguhan. Alias sastrawan karbitan. Bukan seperti yang selama ini diakunya, bahwa ia telah lebih kurang  40 tahun menjadi sastrawan.

Karena, apabila hal itu benar adanya, tentu ia kan paham maksud dari Saut. Bahwa penggunaan kedua kata itu tak lebih dari sebuah metafora belaka atas sikapnya. Mendukung secara jasmani dan rohani terbitnya buku itu. Hanya karena Fatin adalah bagian dari orang-orang di lingkaran Denny J.A. Editor buku puisi esai Denny J.A. Padahal, seperti yang juga saya ketahui, sastra adalah soal rasa. Keadilan. Keberanian. Bukan semata keberpihakan atas nama kedekatan.

Selain itu, menurut saya, tindakan Fatin tak lebih layaknya seorang pemudi yang lagi masuk masa puber. Emosi meninggi, minder, dan cenderung antagonis. Memandang segala sesuatu hal dengan marah-marah. Menganggap semua orang membenci dirinya. Dan, yang paling ironis, menganggap semua yang bersebrangan dengannya adalah musuh. Seperti anak SMP yang menjadikan mantan adalah makhluk paling ‘bajingan’ di muka bumi ini.

Saya sendiri curiga, jangan-jangan Fatin memang sedang mengalami masa puber keduanya. Dan, sebenarnya diam-diam ia jatuh cinta kepada Saut yang keren itu. Tapi, karena keadaan—ia sudah bersuami dan Saut sudah beristri—maka cintanya harus kandas. Ya, Fatin adalah seorang istri dan ibu yang baik, tak mungkin ia berselingkuh. Dan, Saut juga belum tentu mau. Kecuali ia adalah Fatin Shidqia yang masih kinyis-kinyis.

Namun, drama harus tetap berlanjut. Seperti slogan para jomblo yang ditolak mertua, sebelum bendera kuning berkibar peluang masih ada. Cinta yang kandas karena keadaan bukan berarti tanpa kemungkinan. Untuk mencari perhatian segalanya harus dilakukan. Termasuk dengan melibatkan pihak yang berwajib. Duh. Sebuah hal yang tak akan saya lakukan sebagai jomblo budiman. Calon mantu macam apa yang sampai bertindak begitu.

Ironisnya, pihak yang berwajib pun merespon pelaporan itu dengan serius. Pagi ini Saut dijemput paksa untuk dibawa ke Jakarta. Menjalani proses hukum. Saya jadi bingung, sejak kapan pak polisi yang getot itu berubah jadi ‘mucikari’ untuk drama melankolis begini. Masih banyak hal lain yang mesti diurusi. Seperti para koruptor dan begal, misalnya. Saya pikir, mertua pun tak segitu kejamnya loh, pak. Meskipun ditolak mertua itu menyakitkan.

Bung Saut, tenanglah, sebagai seorang jomblo budiman yang ditolak mertua, saya, si Toha Peang, dan segenap rakyat endonesah yang masih sadar akan selalu mendukungmu. Bahkan ketika sudah tak ada lagi tempat di negeri ini bagi para jomblo, orang-orang yang berolok dan intelektualitas!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian