Berita dan Artikel

JOMBLO ITU ILMIAH

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

Gagasan ini cukup lama sebenarnya saya peram semata untuk menemukan empirisasinya dulu. Kau tahu kan, salah satu watak ilmu pengetahuan, ya sains, ialah empirik, alias terbukti. Kau tak bisa ngotot berkata bahwa bulan itu mulus nan seksi, tanpa kau bisa menunjukkan bukti-bukti empiriknya. Tanpa bukti, itu hanya hipotesis, okelah naikkan dikit sebagai wacana. Belum aksioma.

Nah, di kantor publishing saya, ruangan saya selantai sama kaum editor yang tentunya cerdas-cerdas, intelek-intelek, up to date- up to date, super eksis di sosmed, dan jomblo-jomblo. Ada Ayun, Ve, Ita, Eni, Tiwi, Rina, dll. Agus Mulyadi di Magelang adanya.

Tentu saja, mereka patut ditahbiskan sebagai agent of social change, para intelektual, yang dalam bahasa Ali Syari’ati disebut bagian dari “pengubah realitas yang tidak duduk di kursi gading”.

Bayangkan, sehari-hari mereka merapikan naskah orang, dilanggamkan, dicek kesahihannya, kekuatan analitiknya, dan sebagainya, lalu dicetaklah sebagai buku. Kau harus sepaham di sini bahwa buku adalah jendela dunia. Bila kau ingin kenal dunia, kau harus banyak baca buku; yang boleh jadi beberapa di ataranya adalah hasil kerja intelektual mereka.

Ketekunan dan ketelitian mereka menata naskah sehingga wangun jadi buku, jendela ilmu, ternyata tidak berbanding lurus dengan kesigapan mereka menemukan kekasih untuk diri mereka sendiri.

Ada apa dengan editor?

Pikir punya pikir, riset punya riset, saya tersedak mendapati kesimpulan ilmiah begini: mereka adalah pewaris sempurna Nyai Ontosoroh.

Tokoh beken dalam novel Pramoedya Ananta Toer ini dikenal luas dengan pekikannya: “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.”

Nyai Ontosoroh ini adalah tipikal wanita yang jauh melampaui zamannya. Bolehlah disebut hipster. Hipster ideologis yang sangat inspiring!

Inilah rupanya landasan teori yang dipakai oleh wanita-wanita jomblo cerdas macam para editor itu.

Standarisasi Ilmiah

Buat kaum mendes, pacaran ya yang-yangan saja. Cinta sama cinta, sudah. Konsepsi ini ditolak total oleh kecerdasan kaum jomblo cerdas. Dengan menukil Nyai Ontosoroh, mereka ingkari hubungan tak berkelas, tanpa standar ilmiah: “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup berkalang lelaki.” Sebab mereka adalah kaum wanita sejati!

Kalau cuma untuk ada yang mboncengin, nraktirin bakwan dan ronde di Alun-alun Kidul, ndak perlu cerdas pun bisa. Asal punya idung, bisa ambekan, ya bisa. Tetapi menemukan kekasih yang mampu menebalkan kesejatian-kewanitaan, sesuai pekik Nyai Ontosoroh, ini koentji-nya.

Kencan sama lelaki yang bisa berkisah tentang Alice Munro hingga George Soros, bedanya eureka sama voila, hipster dan gotik, co dan com, dan tentu saja tletek di Black Canyon bukan melulu Kali Code, jelas menjadi bagian integral dari level kualitas kesejatian-kewanitaan. Basah kehujanan rapopo asal berdua, magh kambuh karena lapar ndak ada duit rapopo asal sama kamu, jelas tak bakal dilirik dalam konteks ini.

Inilah standarisasi ilmiah wanita sejati pewaris tahta Nyai Ontosoroh. Perkara kok Ita muntah naik Camry, itu semata salahnya angin nakal yang memasukinya tanpa ijin, dan tidak terkait sama sekali dengan simbiosis-mutualis Camry-standar ilmiah tadi. Catat.

Argumentatif-Analitik

Kerja ilmiah para editor otomatis membentuk kemampuan berpikir sistematis, analitis, dan argumentatif. Buat apa yang-yangan tapi ndak argumentatif? Buat apa punya pacar tapi tampangnya ndak ilmiah?

Nah, begitu kira-kira kredonya.

Bahwa menjomblo gagal menyediakan bahu untuk disandari, mata untuk ditatap, suara untuk didengar, di tangan para jomblo cerdas sangatlah mudah dibantah secara argumentatif-analitik. Bersama kaumnya yang setia berteguh pada standarisasi ilmiah tadi, mereka selalu sanggup untuk ngafe, nonton, jalan, curhat, dan chat. Semua kesanggupan ini telah sepenuhnya menjawab apa-apa yang syahdan tidak diraih oleh kaum jomblo icik-icik tadi: bahu untuk disandari, mata untuk ditatap, suara untuk didengar.

Ita perlu bahu, ada bahunya Ve. Ayun perlu curhat via chat, ada Tiwi yang siap eksis dengan gejet barunya. Eni butuh mbonceng ke Gua Pindul, ada Rina yang siap menemani. Dan seterusnya.

So what?

Mengatakan bahu itu, chat itu, jalan itu, tidaklah sama dengan bahu, chat, dan jalan kekasih, itu hanya soal sudut pandang. Perspektif! Kau hanya perlu bergeser dari Cartesian menuju Derridian, selesai. Dan apalah di muka bumi ini perspektif yang tidak relatif sih? Kiwil saja bisa, kok kamu ndak to.

Jadi, dalam perspektif khas Nyai Ontosoroh, mereka tak berkurang sedikit pun kualitas hidupnya dibanding kalian yang punya pacar.

Optimisme

Dengan bekal epistemologi itu, mudah dimengerti kenapa semakin cerdas seseorang maka semakin mengecillah peluangnya untuk mudah mendapat pacar. Sori, ini tolong jangan diterjemahkan bahwa menjadi bodoh merupakan solusi untuk memiliki pacar secepatnya. Atau, mereka yang yang-yangan adalah spesies bego. Tidak. Yang bego itu kan hanya mereka yang percaya bahwa cinta merupakan sumber kebahagiaan dalam hidup ini, sehingga melupakan spagehti, pecel lele, salad, steak, ice coffee latte, dan Guess to.

Ingat quote ini, segala apa yang didapat dengan instan cenderung pudar dengan cepat pula. Norman Kamaru hingga Nini Thiwul menjadi contoh empiris nasihat ini. Khusus untuk Duo Serigala, mari berdoa akan menjadi pengecualian, sebab mereka sangat berharga untuk mempertahankan korelasi positif antara lotion dan tangan jomblo.

Quote tersebut menjadi dasar optimisme kaum jomblo cerdas itu. Mereka ndak mau serba cepat, serba instant, sebab mereka sangat memahami pentingnya proses, step by step, sampai purna memfosil. Standarisasi ilmiah, argumentasi-analisa, hingga optimisme seputar kekasih ini menjadi bukti empirik kekuatan sistematika berpikir yang sangat layak mendapat standing applause.

“Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.”

Instingtif jelas butuh pasangan, tetapi nalar ilmiah berkat kecerdasan itu menghadirkan mekanisme tesis-anti tesis-sintesis Hegelian yang tidak sederhana. Inilah cermin keberkualitasan masa depan yang nun jauh di sana. Entah kapan.

Bahwa dalam tempuhan  proses itu kok berletupan rasa galau, sedih, pilu, hingga haru di kedalaman dada, terutama di kala Malam Minggu tiba dan gerimis mendera sejak sore menyapa, itu ndak usah dicampur-adukkan dengan kelabilan state of mind tadi. Bahwa sesekali Bella dan Ve menggosipkan seseorang yang katanya lebih cocok untuk menjadi kekasih mereka dibanding pacarnya yang konon tidak patut, itu pun tak perlu dikait-kaitkan sama kendurnya analisis ilmiah di dalam pikiran mereka.

Bagaimanapun tegarnya Nyai Ontosoroh, tetap saja Pram memberikan sentuhan resah, gundah, dan bersedih hati padanya. Itu manusiawi sekali, semanusiawi jomblo cerdas untuk sesekali bertanya pada tembok yang tak bergoyang; “Salahkah bunda mengandungku?”

Yang penting, di atas itu semua, riset dan analisa yang sangat ilmiah dan rasional ini telah memberikan bukti empirik bahwa aslinya kaum jomblo itu spesies manusia cerdas! Maka berbanggalah dengan kejombloanmu!

 

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • irawati

    mantapzz

  • Tapi kan jomblo itu, terutama untuk anak gadis, bagi orangtuanya, memiliki tenggat waktu. Lewat usia 25 sedikit saja, orangtua dan keluarga, ada saja yang mulai meributkan. Nah, bagaimana nih Om cara mengatasinya? Sementara ‘jomblo cerdas’ memiliki standar spesifik mereka sendiri untuk dijadikan kekasih