Curhat

Kisah Jomblo dalam Kereta ke Nürnberg

Tyas Mekar Sari
Ditulis oleh Tyas Mekar Sari

Saya menikmati hidup di kota Erlangen, salah satu kota yang terletak di Bayern ( Jerman). Kota ini tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil, penduduknya kira-kira 500.000 orang. Dengan penduduk yang tidak terlalu banyak, lalu lintas juga tak padat. Juga orang-orang yang kau temui, beberapa akan sering kau temui, beberapa mungkin orang yang kau kenal, beberapa itu warga tanah air mu.

Dalam perjalanan ke Nürnberg, di stasiun kota Erlangen saya bertemu dua orang kawan Indonesia, Seorang berasal dari Bali dan seorang dari Surabaya. Daripada  berkawan sepi, saya menyangupi untuk naik kereta bersama, karena kebetulan tujuan mereka juga stasiun kota Nürnberg yang berjarak sekitar 30 menitan dari Erlangen. Ya, meskipun sebagai seorang jomblo kawakan saya  paham akan ungkapan “sepi adalah kawan karib”, terkadang saya tak ingin sendiri. Hitung-hitung juga mempererat keakraban sebagai manusia sebangsa dan setanah air.

Kami duduk di bangku dua berhadapan dan mulai membuat keramaian. Maklum saya kawan-kawan saya ini adalah ibu-ibu. Kemudian seseorang dari Surabaya yang duduk di depan saya bertanya hening.

Also, kamu sudah punya pacar Nduk?”

“Belum kak” saya menjawab dengan lembut sambil menahan perasaan

“Cari dong Nduk, mosok belum dapat juga”

“Saya belum mau pacaran kak” bagi yang sudah lama menjomblo pasti tahu alibi ini

Ach so, kalau begitu kamu nikmati kesendirian kamu dulu, gak perlu dengerin kata orang” komentar kawan satunya yang duduk di samping saya

“Iya kak. Orang tua saya juga tidak ingin saya buru-buru, saya juga tidak ingin buru-buru” sambil menahan perasaan lagi, sambil menghembuskan napas dengan berat hati.

“Masyarakat memang begitu, sukanya mendesak, nikah muda sudah ndak jaman”

“Iya kak” saya sambil tersenyum dan sedikit terharu. Para warga negara Indonesia yang jomblo butuh orang-orang yang seperti ini. Yang menguatkan, yang mengerti akan kondisinya. Yang membuatnya merasa diterima di masyarakat. Sebab masih jomblo diusia hampir 26 bukanlah hal yang hina, hanya kadang merasa kesepian sesekali, lebih-lebih di negara bebas PDA (Public Display of Affection), dan itu sebenarnya merupakan derita pribadi, tidak ada kaitannya dengan masyarakat.

Dan kereta menuju Nürnberg melaju ke depan seperti hidup para jomblo yang bergerak maju. Kami pun melanjutkan obrolan tentang cuaca, lanjut lagi ngomongin orang, tentang cuaca lagi, ngomongin orang lagi, kemudian cekikikan tiada henti dan kiranya saya selamat dari topik abadi tentang rahasia ilahi “kapan …kapan …”. Habis napas setelah cekikikan kami pun terdiam sejenak. Dan seorang kawan yang di samping saya menepuk pundak.

“Eh iya, ngomong-ngomong kamu sering posting ucapan selamat berbahagia ke teman-teman kamu tuh, terus kamunya kapan dong diucapin selamat?”

Hmm, saya membuang napas lagi dan entah kenapa perjalanan ke Nürnberg kali ini begitu lama dan melelahkan.

Tentang Penulis

Tyas Mekar Sari

Tyas Mekar Sari

Seorang perempuan yang berasal dari Sidoarjo. Merupakan lulusan dari salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Saat ini sedang mengikuti program FSJ Freiwilliges Soziales Jahr di Erlangen, Jerman.

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    ##