Berita dan Artikel

Menjaga Eksistensi sebagai Jomblo Pemilih

Ariesadhar
Ditulis oleh Ariesadhar

Sejujurnya saya tidak jomblo. Cuma, saya kasihan dengan jomblo-jomblo menahun yang sudah berkerak kadar kejombloannya. Memang saya akui, susah menjadi jomblo. Jomblo harus senantiasa berpikir aktivitas pengisi malam minggu yang lebih relevan daripada nonton film dan keramas.

Jomblo harus selalu memiliki variasi jawaban untuk menjawab pertanyaan, “kok masih jomblo?” hingga, “kapan kawin?”. Ini sebenarnya tidak pelik, namun karena datang bertubi-tubi dan tiada kenal lelah, jadinya ya capek dan pelik juga.

Namun, namanya juga manusia, pasti punya keinginan untuk memperoleh sesuatu sesuai mimpinya. Ah! Setiap jomblo pasti punya mimpi, bahkan mimpi basah sekalipun! Mimpi punya pacar secantik Chelsea Islan, Maudy Ayunda, hingga Kiki Fatmala adalah sesuatu yang tidak boleh dipunahkan semata-mata karena cercaan masyarakat luas pada status jomblo. Ingat, pepatah lama bilang bahwa tiada mimpi tanpa tidur.

Saya sendiri pernah menjomblo selama hampir 2 tahun, namun telah dengan sepenuh hati mengabaikan dua gadis yang hobinya tanya-tanya kabar dan kasih perhatian. Kenapa? Karena itu tadi, karena jomblo juga punya hak memilih. Bukan hanya memilih caleg yang kemudian berubah menjadi aleg dan lantas tetiba menjadi wakil siapapun yang ternyata bukan rakyat, namun juga memilih pasangan hidup.

Meskipun berada dalam status jomblo itu ngenes, tapi saya pernah berada dalam posisi pacaran tapi enggak cinta, dan itu kiranya jauh lebih mengenaskan. Bagaimana mungkin saya bolak-balik mengunjungi pacar, atas nama cinta, padahal di lubuk hati terdalam nggak cinta, dan semata-mata berusaha eksis gegara takut dicap jomblo!

Maka, wahai para jomblo, janganlah nantinya memilih pacar semata-mata karena hanya dia yang mau sama kamu. Semata-mata karena kamu sudah ngebet untuk berciuman, semata-mata karena kamu ingin ganti status hubungan di Facebook menjadi ‘berpacaran dengan…’

Berpacaran tapi nggak cinta itu justru akan mengubur kemungkinan kamu memperoleh pasangan yang lebih tepat sesuai dengan mimpi dan hati kamu. Bayangkan bahwa kamu sudah berpacaran, sudah ganti status hubungan di Facebook, tahu-tahu kamu berkenalan dengan gadis yang di hati lebih sreg, yang lebih menyerupai isi mimpi-mimpi kamu selama ini. Pasti bingung kan?

Kalau sudah begini, apakah kamu mau memutuskan pacar kamu dan harus bersusah payah menjelaskan kepada publik perihal pergantian status hubungan kamu di Facebook? Atau kamu membiarkan gebetan kamu berkeliaran di sekitar kamu dengan status jomblo, dan melihatnya dipedekate orang lain, kemudian jadian di depan mata kamu? Nah loh!

Coba dari awal kamu memilih untuk tetap menjomblo, pasti hasilnya berbeda. Kamu jomblo, dia jomblo. Kalian sama-sama jomblo dan kemudian sama-sama saling mencinta satu sama lain. Tidak ada ikatan dengan yang lain sehingga kalian bisa mengikat diri satu sama lain serta kemudian bisa dengan mudah saling memasuki hati masing-masing, tanpa ada ganjelan bahwa sebenarnya hubungan itu terjadi karena semata-mata takut jomblo. Hih, takut kok takut jomblo? Takut mati, itu baru benar.

Hidup memang begitu, kok. Ada suara hati yang harus kamu dengarkan. Ingat, jomblo itu punya suara hati juga! Ingat, meski hati nurani sudah diembat politisi, kita masih punya sesuatu yang keluar dari hati nurani itu, yakni suara hati. Cobalah mendengarkan itu.

Kamu menjadi jomblo bukan semata-mata karena keadaan, tapi karena memang kamu belum dipertemukan dengan jodoh. Dan value dari jodoh itu sejatinya ditentukan oleh suara hati. Jangan abaikan itu, wahai saudara-saudaraku yang masih sendiri!

Maka, perhatikanlah cerita saya di atas. Jomblo tidak berarti kamu murahan. Tetaplah eksis sebagai jomblo pemilih sampai kemudian kamu bertemu dengan pilihan hati yang sebenar-benar-benarnya. Amin.

Tentang Penulis

Ariesadhar

Ariesadhar

Tidak Jomblo, tapi belum kawin. Hampir lulus S2 Jomblo, tapi diselamatkan gadis S2 London.