Surat Cinta

Surat Cinta untuk Ibu-ibu yang Berjuang di Rembang

Azami Mohammad
Ditulis oleh Azami Mohammad

Selamat pagi, Bu. Apakah matahari di sana masih bersinar cerah untuk ibu-ibu yang berada di pelataran tenda? Ataukah matahari bersinar cerah hanya untuk alat-alat berat, dan kontraktor buaya darat PT. Semen Indonesia yang cemas akan nasib pekerjaannya? Entahlah, namun sambutlah matahari dengan senyuman kalian, bu. Karena jika negara dan pemilik modal sudah tak adil, matahari tetaplah adil, membagikan sinar cerahnya dengan sama hak dan sama rasanya.

Bagaimana kabarnya, bu? Saya mendengar dari Jakarta, sudah sembilan bulan lebih ibu-ibu di Rembang menjalani kehidupan dengan penuh cinta meski dibayang-bayangi areal persawahan, peternakan, dan tempat bermain anak-anak bersama alam Kendeng akan hilang. Tak habis pikir saya, sembilan bulan bukan waktu yang sebentar, kalau analogi perempuan hamil, sudah ada anak-anak revolusi yang lahir di negeri ini! Lalu, ketika anak ini lahir yang ia butuhkan adalah makan makanan dan minum air dari tanah kelahirannya, bukan semen. Pahamlah saya mengapa ibu-ibu berjuang mendirikan tenda menolak pabrik semen yang akan berdiri di sana. Ini perkara tanah kelahiran dan masa depan anak-cucu.

Ketika saya menulis surat ini, masih banyak teman dan kerabat saya yang tidak tahu perihal apa yang terjadi di Rembang sana. Mengapa demikian, bu? Apakah karena ibu bukanlah artis dan pejabat? Yang tak layak kabar kehidupannya diinformasikan kepada khalayak umum. Saya bosan melihat media-media hanya memberitakan pertengkaran Ahok dan H. Lulung, bukan berita tentang ibu yang mendapat perlakuan kekerasan dari aparat. Ah, sudahlah saya tak ingin membicarakan mereka, minggu-minggu ini bapak polisi sedang galak kepada orang yang sok mengkritisi negeri ini.

Di sini, saya beserta teman-teman belajar banyak soal cinta dari Ibu-ibu di sana. Kami belajar bahwa mencintai bukan hanya soal berbagi kasih dengan lawan jenis. Cinta yang ibu ajarkan adalah bagaimana menjaga masa depan, memberikan bagian dari hak anak dan cucu kita untuk bisa hidup bersama alam nusantara. Hmmm, ini sesuatu yang jarang kami temui di Jakarta. Jadi wajar saja, bu, jika teman-teman kami lebih memahami percintaan sebatas ejekan jomblo para komedian berdiri, juga sebatas gaya pacaran srigala dan vampir.

Perkara nasib ibu-ibu yang hidup di tenda, tak adanya arus informasi kondisi ibu, hingga pabrik semen milik Negara, ini bukanlah takdir Tuhan. Ini sengaja diciptakan oleh manusia rakus secara terstruktur, sistematis, dan massif. Seperti para playboy yang bernafsu memacari bayak wanita, padahal untuk ngajak nonton saja mereka nggak mampu. Jangan menyerah bu, segala sesuatu yang dibuat oleh manusia bakal bisa dirubah pula oleh manusia, kita harus meyakini itu. Seperti teman saya yang jomblo percaya bahwa jodohnya pasti akan datang.

Bulan ini proses pengadilan ibu-ibu melawan semen akan selesai. Saya berdoa semoga hakim yang memimpin persidangan malamnya shalat tahajud, agar otaknya sehat dan bersih dalam menegakkan keadilan. Ibu-ibu masih punya harapan, surat ini saya buat diperuntukkan menguatkan harapan itu bu. Jika masih nggak waras, apalah daya, pejabat negeri ini memang sudah tidak memiliki cinta dan kasih sayang.

Di Jakarta, semua habis dimonopoli oleh mafia properti. Monopoli properti ini berdampak pada tingginya harga rumah, yang juga berdampak pada gagalnya kisah asmara laki-laki kere seperti saya. Mau nikah, tapi ditolak mertua karena nggak ada modal beli rumah. Saya tidak ingin ini terjadi di Rembang yang memiliki Karst (sumber mata air) Jawa Tengah. Jangan sampai untuk cebok saja kita harus beli air ke kampung orang. Atas dasar itulah, surat ini kutuliskan agar apa yang telah terjadi di Jakarta tak terjadi pula di Rembang sana.

Demi anak-cucu kita bu, generasi mendatang yang menitipkan tanah ini kepada kita. Saya selalu mendukung apa yang ibu-ibu lakukan demi membela hak ibu yang dirampas oleh semen milik Negara. Saya berharap jangan ada lagi eksploitasi di Jawa, karena menurut bung D.N. Aidit “Jawa adalah Koentji”. Kalau masih terhalang gembok mantan, carilah pacar yang suka aksi.

Sebelum saya akhiri surat ini, saya ingin menyampaikan bahwa Jakarta mencintai Rembang. Walaupun memang, beberapa penduduknya terlihat malu-malu untuk mengatakan, atau bahkan sarang induk semen berada di sini. Tetapi itu bukanlah alasan untuk Jakarta tidak mencintai Rembang. Malu-malu kucing itu hal biasa buat orang yang baru jatuh cinta. Teruskan perjuangan kalian, bu, karena yakinlah pada kekuatan cinta dan kasih sayang. Minimal, percayalah pada cinta Tuhan pada mahluknya.

Tabik.

Tentang Penulis

Azami Mohammad

Azami Mohammad

Doyan aksi meski sering dipukul polisi