Berita dan Artikel

3 Penyakit Mematikan bagi Jomblo Tanpa Masa Depan

Ibe S Palogai
Ditulis oleh Ibe S Palogai

Hasil sensus kejombloan yang rutin dilakukan tiap malam Minggu oleh aktivis perlindungan hati, menyebutkan, 10 dari 7 lelaki keluar malam Minggu tanpa gebetan dan boncengan. Mereka biasanya hanya melakukan ritual keliling kota menyaksikan orang yang pacaran. Berharap ada yang bertengkar dan si jomblo punya momen untuk hadir sebagai pahlawan tanpa tanda hati.

Teman saya yang enggan disamarkan namanya, Faisal Oddang, sudah sembilan bulan mengandung dan menanggung nasib kejombloan. Kekasih terakhirnya terpaksa melepas penulis tampan nan tambun itu lantaran dijodohkan orang tua.

Jangan tanya bagaimana perasaannya. Saya menemukan 25 kata patah hati di cerpen terakhir yang ia tulis. Tentu, ini adalah cara mencurahkan hati yang suci dan penuh wibawa.

Berikut 3 penyakit yang tidak pernah ada obatnya bagi jomlo tanpa masa depan;

Siapelonik Syndrom

Pacar? Bukan. Takut kehilangan? Iya. Bhahahangke!

Tidak usah heran. Cinta kadang selucu itu. Beberapa hati memang secara resmi saling memiliki tapi kadang hasrat saling melepaskan jauh lebih besar. Sementara, ada orang yang secara resmi tak memiliki hubungan tapi merasakan takut kehilangan.

Itulah penyakit yang dinamai Siapelonik Syndrom. Lintas usia dapat diserang penyakit yang pertama kali ditemukan sekaligus dirasakan oleh Smealove dalam film Love of The Ring. Secara medis, penderita penyakit ini merasakan takut kehilangan seseorang padahal bukan siapa-siapa. Smealove!

Pehapertunis Theobromine

Doi perhatian? Iya. Kalian pacaran? Tidak.

Harapan itu setia, tapi hasil akhir kadang mengkhianati. Penyakit jenis ini sulit didiagnosis oleh dokter, karena tanpa ciri-ciri awal. Penderitaan penyakit ini muncul di akhir. Yang menjengkelkan, karena sampai kenyataan pahit itu tiba, semuanya terlihat indah dan penuh kebahagiaan.

Pemberi harapan palsu alias P.H.P. memang sulit dideteksi. Entah siapa yang salah dalam hubungan seperti ini. Apakah si cowok yang memberi harapan dan si cewek yang terlalu menganggap semua ini adalah harapan. Atau mungkin juga ada faktor C dalam hubungan yang mengakibatkan kandasnya kisah cinta semacam itu. Semisal, ternyata orang tua tidak merestui.

Penyakit ini pertama kali ditemukan dan dirasakan oleh Tyrimitation Lennister dalam serial film Game of Brokenheart. Kisah cinta yang ia jalani bersama pelacur idamannya kandas. Bukan karena ia tidak setia atau si cewek yang enggan menerima kekurangannya. Tapi, ayah Tyrimitation yang tidak setuju dan memaksa ia bercerai dan meninggalkan perempuannya. Nasib oh nasib!

Lahirlah kesimpulan akhir yang ditulis Tyrimitation Lennister dalam pembuka bukunya The Genesis Of Love “Cara mengatasi harapan adalah jangan berharap terlalu tinggi karena kenyataan punya kemungkinan jatuh ke tempat paling rendah.

Retrouvailles Kencan Oxyticon

Sayang sama doi? Iya, tapi…. Tapi kenapa? Doi sudah punya pacar. Cuk!

Setiap orang butuh mencintai dalam hidupnya. Terlepas cintanya berakhir indah atau tidak. Barangkali itulah landasan filosofis Retrouvailles Kencan Oxyticon. Biasanya penderita penyakit ini memilih memendam dan terkesan disembunyikan. Tapi ada juga yang terang-terangan mengungkapkan. Tidak ada yang salah, manusia memang hanya bisa jatuh cinta tanpa pernah menebak cintanya akan jatuh pada siapa.

Penyakit ini pertama kali ditemukan dan dirasakan Dr. Kemung Van Kinan dalam film Sang Patah Hati. Dokter itu mencintai seorang lelaki yang telah memiliki pasangan. Tapi, ia percaya bahwa semua yang dilakukan manusia hanya kemungkinan-kemungkinan.

Mungkin nanti ia meninggalkan pacarnya kemudian memilih sang dokter. Atau mungkin begini, begitu, dan bagaiaman kedepannya nanti kita lihat saja. Tapi, bagian yang menjengkelkan adalah ketika doi sering mengajak kencan, makan bareng, sampai nonton film bersama tapi tak pernah memberi kejelasan hubungan. Resiko? Entahlah!

Itulah tadi tiga penyakit mematikan bagi jomblo tanpa masa depan. Tidak usah takut dan kalut kalau kamu menderita salah satu penyakit di atas, atau mungkin kompilasi ketiganya. Karena biasanya, penyakit yang tidak pernah ada obatnya itu mengakibatkan pengidapnya panjang umur. Itulah mungkin penyebab mengapa negara ini tetap panjang umur. Panjang umur penderitaan. Hidup Jomblo. Hidup Rakyat!

Tentang Penulis

Ibe S Palogai

Ibe S Palogai

Berkerja sebagai pustakawan di Katakerja. Menetap di Makassar. Bisa dihubungi lewat Twitter di @jejaksaja dan FB Ibe S Palogai