Tips

5 Buku Pegangan Jomblo Revolusioner

Aditia Purnomo
Ditulis oleh Aditia Purnomo

Dunia jomblo bukan melulu soal bagaimana cara mendapatkan kekasih. Memang, bohong jika jomblo bilang dia tak pernah kesepian. Toh orang yang punya kekasih pun pernah merasa sepi. Paling tidak, masih ada hal bermanfaat yang bisa dilakukan jomblo. Kalau belum bisa mendekati gebetan, ya belajar deketin gebetan, atau minimal berbuat baik bagi sesama.

Untuk bermanfaat itulah, para jomblo harus memiliki pedoman. Kalau bukan punya tokoh idola macam Tan Malaka, ya minimal mulai baca buku yang progresif revolusioner. Buku yang saya maksud tentu bukan Madilog apalagi Des Kapital, buku macam begini kebanyakan bikin upaya dapetin pacar malah jadi kontra revolusioner.

Berikut adalah buku-buku yang dapat anda baca ketika senggang, tengah sibuk mengejar gebetan, atau sedang persiapan mental untuk nembak gebetan:

  1. Jomblo tapi Hafal Pancasila (Agus Mulyadi)

Penulisnya adalah panutan kaum jomblo. Meskipun bukan buku yang banyak memberikan metode mbribikan yang baik dan benar (toh Agus masih jomblo), buku ini tetap disarankan untuk dibaca. Karena lewat buku anda bisa belajar dari Agus, bukan soal dapetin pacar, tapi bagaimana cara menjalani hidup dengan status jomblo yang akut.

Di tengah masyarakat yang semakin kejam terhadap jomblo, Agus mengajarkan kita untuk menghadapinya dengan sedikit guyonan. Toh apa enaknya hidup terlalu serius, udah susah punya kekasih masih aja merepotkan diri. Ya paling sederhananya anda perlu baca buku ini agar punya bisa lebih banyak tertawa, atau paling mendasarnya, anda akan tahu bahwa ada jomblo yang lebih ngenes ketimbang anda.

  1. Catatan Seorang Demonstran (Soe Hok Gie)

Buku ini bukan hanya untuk dibaca mahasiswa baru, apalagi kalau dikultuskan sebagai salah satu kitab wajib anak gerakan. Padahal kalau sudah baca bukunya, kita bakal tahu bahwa ‘ideologi’ Buku, Pesta, Cinta itu harus dimiliki oleh masyarakat tuna asmara.

Gini-gini, kalau anda jomblo dan terus berpikir kalau hal itu adalah melulu sebuah kengenesan, anda saya sarankan baca bukunya Agus Mulyadi dulu. Kalau sudah kelar, mari lanjutkan ke buku ini.

Dalam buku ini jomblo bisa memahami, bahwa ganteng saja tak cukup. Buktinya Soe Hok Gie yang terhitung intelek dan tampan saja (apalagi kalau imajinya kayak di film) masih ngerasain yang namanya jomblo. Untungnya, Gie waktu itu aktif di kegiatan kampus. Jadi dia banyak dikenal orang dan punya banyak alasan mengenai status jomblonya.

Dengan buku ini, jomblo perlu menyadari, bahwa perlu kita ikut berpesta. Tengok kiri-kanan siapa tahu ada mbak-mbak atau mas-mas unyu yang bisa digebet. Tapi jangan lupa sesekali kita turun ke jalan, menuntut hak-hak jomblo yang dirampas negara.

  1. Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan)

Buku yang satu ini sangat direkomendasikan untuk anda baca. Selain karena buku ini memang bagus, dalam buku ini anda akan dapat pelajaran penting, ‘kalau gagal dapet kakaknya, siapa tahu adiknya mau.’

Begitulah kisah kamerad Kliwon, anak seorang komunis yang patah hati ditinggal kekasih. Sempat galau berat, Kliwon akhirnya memutuskan mengabdikan diri pada masyarakat. Menjadi pimpinan partai diusia muda, kamerad ini bukan hanya bisa mengikhlaskan sang pujaan hati, tapi akhirnya juga dapat macarin adiknya mantan.

Jadi kalau anda galau karena diputusin atau ditolak, jangan terlalu lama berlarut. Bangkit dan mengabdi buat masyarakat (minimal bekerja deh), siapa tahu adik mantan diam-diam suka sama anda.

  1. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Puthut EA)

Ini bukan pesanan sponsor, karena mas Puthut saat ini lebih suka mempromosikan Angkringan Mojok. Oh ya, kalau anda belum tahu apa itu Angkringan Mojok, saran saya anda segera Follow @AngkringanMojok dan segera bertandang ke sana. Siapa tahu pas lagi makan nasi goreng cakalang sama sate jamur bakar di Angkringan Mojok, anda bisa ketemu jodoh. Siapa tahu.

Balik lagi ke buku. Buku ini membawa kita pada satu fase penting setelah patah hati. Biasanya, cara paling cepat untuk move on menurut kebanyakan orang adalah cari pacar lagi. Namun menurut buku ini, sebaiknya kau sembuhkan dulu hatimu baru memulai lagi kisah baru.

“Benar bahwa kamu punya hak untuk mencoba menemukan pengganti perempuan itu. Tapi bukan begitu caranya. Ibarat seorang atlet yang cedera, seharusnya disembuhkan dulu luka itu, baru berlatih lagi dan bertanding lagi. Sebab jika ia terluka dan tetap berlatih serta bertanding, kamu akan semakin terluka, bahkan jika kasus itu sepertimu, bisa melukai orang lain.”

Namun poin paling penting dalam buku ini adalah, kalau kamu suka sama orang segeralah ungkapkan. Jangan sampai nantinya kamu menyesal seperti tokoh utama yang tak pernah disebutkan namanya. Dan akhirnya kamu cuma bisa bilang, “Cinta tak pernah tepat waktu.”

  1. Kitab Suci

Tak perlu banyak penjelasan. Kalau anda sudah berusaha menemukan jodoh tapi masih belum berhasil, saatnya kita kembali berserah pada Ilahi. Karena manusia hanya punya rencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.

Tentang Penulis

Aditia Purnomo

Aditia Purnomo

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.