Tips

Belajar Jomblo pada Nietzsche

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

Tahu Nietzsche?

Ya deh, anggap saja tahu ya. Krik.  Beliau adalah salah satu tokoh penting di balik kinclongnya film Fast Furious 7. Apalah arti Dom (Vin Diesel), Brian (Paul Walker), dan Roman (Tyrese Gibson) tanpa besutan dingin beliau ini.

Salah satu filosofi yang melandasi kerja Nietzsche ini ialah “nihilisme”. Menurutnya, inilah langkah metodis yang harus dipakai oleh siapa pun untuk meraih kesuksesan, kegemilangan, atau (dalam bahasa dia) ubermensch (manusia super).

Baiklah, biar entengan, cukup saya jelaskan bahwa konsep nihilisme Niezsche ini “sekadar”: bebaskan dirimu dari segala belenggu tradisi, konsep, cara pandang lama, tata nilai, bahkan doktrin agama agar kau menjadi “nol”! Steril!

Langkah ini dimaksudkan agar kau tak punya beban apa pun dalam berpikir dan bertindak ke depan. Misal, sebab kau terus menelan konsep lama bahwa hidup bahagia adalah berpasangan, maka kau akan ribet banget untuk mencari pasangan, padahal belum ada sosok yang sudi padamu. Lalu kau pura-pura keluar kost di malam Minggu, bawa helm dua, berseolah ngedate, padahal ternyata hanya nangkring di warung burjo.

Kau bahagia? Nggak, kan. Nah, makanya bebaskan dirimu dari belenggu konsep lama tentang bahagia yang harus berpasangan itu.

Inilah menihilisasi tadi. Kemudian, setelah nihilis begitu, saatnya kau isi pikiranmu dengan konsep-konsep segar, yang membebaskan, yang ekplosif, yang kau banget!

Tak peduli kaum jomblo, semuanya ingin menjadi manusia super atau manusia purna (ubermensch). Dan kita tahu salah satu masalah serius kaum jomblo ialah berperasaan “kelas kedua” lantaran setia pada kesendirian. Bukan kesepian! Plis bedakan dua hal ini ya, sebab hidup sendirian ndak selalu mengakibatkan kesepian dan hidup beramai pun tak senantiasa membuahkan keguyuban.

Berperasaan “kelas kedua” ala jomblo ini jelas dipantik oleh keterbelengguan diri dari intervensi konsep lama yang merezim itu. Nah, mari nihilisasikan ala Nietzsche.

Lawan Status Jomblo

Melawan di sini bukan kok dengan cara bersegara mendapatkan pasangan. Ini mah bukan perlawanan, tapi justru menjerembabkan diri ke dalam pusaran rezim itu, sehingga justru sah menjadi bagian darinya. Ini bukan nihilisasi.

Cara menihilisasi status jomblo ini harus dikobarkan dengan pekikan bahwa jomblo bukanlah masalah. Dalam kejombloan, ada hikmah kebahagiaan. Sebutlah kebebasan, irit duit, ndak ribet, ndak kudu jadi ojek pasangan, dan seterusnya.

Soal butuh teman curhat, nonton, jalan-jalan, bukankah itu bisa kau penuhi dari kawan-kawanmu? Soal butuh teman chat, bukankah kini banyak grup chat yang bisa kau ikuti? Lupakan saja bahwa chat itu nggak penting buatmu, toh yang pokok gejetmu bisa berisik selalu. Sertas insafilah pula bahwa hidup ini seringkali menjadi indah berkat hal-hal yang tak penting itu.

Ini baru nihilisasi.

Eksiskan Dirimu

Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan untuk eksis. Tidak, saya ndak memfatwa kau kudu jago menulis, bijak bestari kayak Mario Teguh, atau tukang posting dalil. Itu hanya salah satu cara, dan menuju Roma itu banyak sekali jalannya.

Pehatikan saja deh di medsos, betapa bejibun orang yang entah tahu-tahu popular tanpa perlu memiliki sesuatu yang berharga to. Tahu-tahu eksis aja, tahu-tahu tanpa bisa dinalar apa sih gerangan yang membuatnya menarik untuk digugu. Dijah Yellow, misal. Farhat Abbas juga.

Medsos jelas anugerah Ilahi bagimu untuk eksis. Manfaatkan! Pokoknya kau harus eksiskan diri saja di situ. Ehm, bisa saja to dengan cara nyamberin melulu obrolan orang, yang bahkan sekalipun kau tak paham. Samber saja dengan wwwkkk wwwkkkk kan aman banget. Beres!

Ini baru nihilisasi.

Berbahagialah Selalu

Orang mah mana tahu kau yang sesungguhnya. Hari gini orang tahunya ya apa yang kau posting. Bukankah saat kau nyetatus, “Aku rindu banget.” orang nggak akan tahu bahwa kau sedang merindukan duit, misal. Bukankah saat kau bilang, “Kangen bener padamu, Dek Airin.” boleh saja kau sedang menuliskannya sambil pup to. Pup dan kangen ternyata bisa benar-benar sangat sumir kini. Cinta dan tai ternyata sangat apalah batasnya kini.

Maka brandingkanlah dirimu untuk selalu berbahagia. Mosting sandal jepit kumal, sertakan saja caption gimana gitu yang memperlihatkan itu lucu dan menggelikan. Dalam sepi dan gerimis, posting saja hal-hal yang di kepala publik tak menyediakan secuil pun peluang tafsir kau sedang menangis sambil memeluk guling.

Ini baru nihilisasi.

Begitulah inspirasi menjadi jomblo nihilis ala Nietzsche. Dengan gaya beginian, selain kau terkesan intelek karena jomblomu based on knowledge alias ilmiah, kau juga teredukasi untuk tidak mengobral jomblomu di khayalak ramai. Soal di permukaan tidaklah sama aslinya dengan di kedalamannya, sebodohinlah. Ndak ada yang tahu juga.

FYI, Nietzsche yang mewariskan pelajaran nihilisme ini lahir di tahun 1844 dan wafat di tahun 1900 di Jerman. If you know what I mean sih….

Indramayu, 4 April 2015

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • Karena wanita adalah kesalahan kreasi Tuhan kedua.

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    !