Berita dan Artikel

Bilamana Kartini Hidup Hari Ini

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Dari sekian banyak tulisan tentang Kartini yang saya baca, saya membayangkan bilamana Kartini hidup di masa kini. Akankah ia berfoto selfie? Main sosmed? Jombloo? Atau justru jadi cabe-cabean?

Tentu saja bayangan saya ini sepintas terlalu liar. Tapi, disadari atau tidak, begitulah fenomena wanita kekininan. Selfie, sosmed, jombloo, dan jadi cabe-cabean menjadi simbol kebebasan para wanita sekarang. Yang ketika tindak tanduk itu dicerca para pria, dengan sepakat mereka akan bilang bahwa mereka yang mencerca tak tahu makna emansipasi: sebuah hal yang diperjuangkan mati-matian oleh Kartini, panutan para wanita sekarang.

Selfie

Baiklah. Mari kita mulai dari selfie. Sebuah budaya yang berkembang sejak fotografi mulai ditemukan, dan semakin membumi tatkala media sosial menjangkiti struktur kehidupan. Adalah Jim Krause, yang pada tahun 2005, saat pertama kali ia mempopulerkan istilah selfie untuk mengganti istilah self-potrait.

Namun, lebih jauh ke belakang,  pada 1839, adalah Robert Cornelius dari Amerika yang pertama kali memotret dirinya sendiri. Sedangkan wanita yang pertama kali ber-selfie adalah Anastasia Nikolavena dari Rusia, pada 1914. Saat itu usianya baru 13 tahun. Ia mengirim gambar dirinya kepada seorang pria dengan disertai sebuah surat. Tentu bukan surat dari Mbak Meita kemarin itu, lho! Kira-kira begini isi surat Niko:

“Saya mengirimkan foto diri yang saya ambil dari cermin. Jujur, tangan saya sedikit gemetar saat melakukannya.”

Surat itu mendunia kemudian hari. Sama halnya dengan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, yang berisi tentang kegelisahannya akan nasib perawan sebangsanya yang dijerat oleh feodalisme. Surat yang membuat perawan era kini mengerti betapa nikmatnya kebebasan. Betapa nikmatnya selfie. Betapa nikmatnya jadi jomblo sejati.

Saya yakin bila saat itu Kartini sudah bisa selfie, tentu ia akan melakukannya. Niscaya semakin heroik surat-suratnya. Ny Van Kool, sahabat pena Kartini akan semakin tersentuh dengan kahanannya. Apalagi kalau Kartini sudah mengerti gaya-gaya macam Duck Face yang Maha Unyu itu. Subhanallaah. Ratu Wilhemnia pun akan tunduk dibuatnya.

Terpujilah para perawan yang suka selfie. Setidaknya itu adalah usaha kalian untuk melawan jeratan foto berpasangan!

Sosmed

Sosmed alias sosial media, adalah teknologi maha canggih karya abad 21. Teknologi yang mampu mendekatkan yang jauh, juga mampu menjauhkan yang dekat. Membuat seorang mantan mudah kepo pada bekas kekasihnya, dan membuat air liurnya matanya tumpah ruah di kamar mandi tengah malam.

Apa pun itu, sosmed jelas sangat berguna untuk menyampaikan segala uneg-uneg. Sedang cakupannya? Tentu sangat luas. Menyampaikan uneg-uneg ke sosmed sama seperti membuang bayi ke samudera. Luas. Tak berujung. Berbeda dengan surat konvensional yang hanya searah dan sempit cakupannya.

Bila Kartini hidup di zaman ini, tentu ia pun akan keranjingan sosmed. Follower-nya pun dijamin lebih banyak dari Dik Melodi, calon jodoh artis idaman saya setelah Chelsea Islan. Tentu semakin banyak perubahan yang akan dibuat Kartini dari sekadar surat. Tak habis sebangsa saja. Tapi semua bangsa akan keranjingan oleh tulisan-tulisan Kartini.

Tapi akankah ia galau juga? Saya pikir ia akan jadi Gadis Maha Galau, melampaui kegalauan Dik Mini yang konon wajib dimiliki lelaki. Hidup Kartini yang amat merana. Setiap kegalauannya akan menjadi trending topic. Melebihi kegalauan Mbak Pamela yang sampai foto mak syuur! Kegalauan yang mengubah nasib perawan sebangsanya.

Lantas mengapa sekarang ini banyak perawan yang galau, tapi tetap saja dunia tak berubah?

Tentu yang bilang begitu tak pernah belajar pada Cicero. Bahwa yang berubah adalah perubahan itu sendiri. Habis gelap terbitlah terang. Habis galau datanglah seorang pembawa tenang. Jadian atau sekadar PHP, itu soal hasil saja. Intinya ada pada perubahan!

Jombloo

Ini adalah hal yang sulit untuk membayangkan status Kartini di era ini. Apalagi untuk berasumsi bahwa ia bagian dari kaum jombloo revolusioner yang harus berani menangis. Ia adalah ningrat. Bagaimanapun pasti banyak yang demen sama dia. Wong selebritis saja akan ngejar-ngejar kok! Apalagi pemuda seperti Agus Mulyadi, yang belum lagi belajar dari Nabi Yusuf.

Seperti yang dikatakan Kartini dalam bukunya, “Akan lebih banyak lagi yang saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang laki-laki yang cakap, yang saya hormati, yang mencintai rakyat rendah sebagai saya juga. Lebih banyak, kata saya, daripada yang dapat kami usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri.“ [Habis Gelap Terbitlah Terang, hlm. 187] Bisa saya katakan Kartini tak akan Jombloo. Sebaliknya, Kartini akan sangat bangga bila ada lelaki yang mau mendampingi perjuangannya.

Jelas hal ini berbanding terbalik dengan adat wanita era sekarang. Lelaki hanya jadi penghias saja. Habis manis sepah dibuang. Emansipasi telah membawa mereka ke arah hasrat kemandirian yang hakiki. Hidup sendiri tanpa bantuan lelaki. Duh!

Seharusnya, bila wanita sekarang memang benar-benar menghormati jasa Kartini, tak elok kiranya menghianati cinta lelaki. Memang di dunia ini hanya ada dua jenis lelaki: berengsek dan homo. Tapi, ketahuilah, hanya lelaki yang mau menghabiskan sisa hidupnya untuk menunggu saat wanitanya berdandan, menjawab sudah cantik atau belum, bahkan sampai jadi tukang ojek pribadi. Karena mereka percaya, elok wajah dan keindahan di balik baju wanita itulah alasan mengapa kemerdekaan patut diperjuangkan!

Seperti Kartini percaya, bahwa lelaki adalah kekuatan untuk tetap melawan penindasan terhadap perawan sebangsanya!

Cabe-cabean

Soal yang terakhir ini, saya tak akan banyak omong. Tak mampu saya bayangkan bilamana Kartini jadi cabe-cabean. Pastinya itu pun tak akan pernah terjadi. Kartini seorang yang taat budi pekertinya. Sopan lagi santun. Ia tak mungkin mau pakai hot pants atau bonceng tiga saat sedang mengendarai sepeda motor.

Namun, saya yakin ia akan tetap mendukung cabe-cabean sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap sistem yang terlalu patriarki. Yang hanya menempatkan perempuan di pinggiran peradaban. Hanya sebatas dinikmati tapi tak dihargai adanya.

Kartini, dengan lantang akan berpendapat, bahwa para cabe-cabean itu adalah pejuang harkat perempuan. Bila hanya nikmat fisik yang dimau, mereka siap berikan. Tapi, jangan harap mereka akan takluk secara nurani. Sebaliknya, para lelakilah yang akan mereka taklukkan!

Sudah sepatutnya para pria menyadari hal itu. Bahwa sistem bukan hanya milik kaum mereka saja. Politik bukan hanya milik satu jenis kelamin saja. Perang bukan hanya tugas para lelaki saja. Begitu pun dengan bonceng tiga. Perempuan pun juga bisa!

Tapi, apa pun jadinya Kartini bila ia ada di zaman ini, jelas ia akan bersedih pula. Kartini akan berkata, seharusnya perempuan-perempuan bangsa ini yang amat berani macam mereka duduk di bangku sekolah. Mempersiapkan bangsa yang lebih baik. Mendidik anak-anak penerus negeri dengan baik. Tidak hanya di jalanan. Sekadar pandai memonyongkan bibir di depan kamera. Menebar galau di sosmed. Juga memusingkan pedihnya kejombloan!

Bilamana Kartini hidup hari ini. Betapa bahagia Deklamator Jomblo Bermartabat macam Agus Mulyadi!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    #