Berita dan Artikel

Efek Ujian Nasional bagi Para Jomblo

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

Sejak pertama kali dibuat, ujian nasional seolah menjadi momok menakutkan bagi para siswa. Baik yang sudah punya pasangan maupun yang sama sekali belum pacaran. Ada yang takut tidak lulus sehingga harus menanggung malu seumur hidup mereka. Ada yang putus asa karena takut dengan ujian matematika. Ada yang tidak bisa mengikuti ujian karena sekolah mengetahui bahwa siswi itu hamil. Bahkan ada yang sampai bunuh diri setelah sekolah mengumumkan bahwa ada beberapa siswa yang nilainya tidak dapat mencapai standar kelulusan.

Pada era Orde Lama, atau yang juga dikenal dengan istilah Demokrasi Terpimpin Soekarno (1959-1965), belum ada yang namanya ujian nasional. Yang ada yaitu ujian negara. LITBANG KOMPAS menyampaikan, “Perundangan tentang pendidikan diubah menjadi Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila.” Mereka menambahkan bahwa Penetapan Presiden ini merevisi Keputusan presiden RI Nomor 145 Tahun 1965 tentang Sistem Pendidikan Nasional .

Walau  Pak Anis Baswedan‒Menteri Kemdikbud sekarang‒telah mengganti istilah Ujian Nasional menjadi Evaluasi Nasional (EN), tetap saja banyak siswa dan para orang tua mereka masih menganggap bahwa ujian akhir adalah UAN atau UN. Bukan mereka belum bisa move on dari sistem pendidikan sebelumnya. Tapi secara otomatis ingatan mereka merekam kejadian yang sekiranya berkesan atau mengecewakan di masa lalu. Misal ditolak gebetan, diputusin, diduain, malah ada juga yang sampai di-tujuh-in pacarnya (ini nyata lho…). Hehehe.

Tampaknya efek dari ujian nasional tidak hanya ditujukan untuk para siswa dan orang tua mereka. Para jomblo pun merasakan dampak dari sistem yang labil ini. Sistem yang terus berubah, seperti pacaran dengan dedek-dedek gemez. Mau ini mau itu. Digantung atau diputusin secara sepihak.

Mulai dari sebelum sampai sesudah ujian diselenggarakan, efek ujian nasional amatlah membikin getir kehidupan para jomblo. Apalagi untuk jomblo-jomblo yang sedang PDKT  beberapa bulan menjelang ujian. Kalau enggak ditolak gebetan dengan alasan ‘mau fokus belajar’, toh bilamana jadian pun palingan enggak lama. Cukup beberapa bulan saja. Atau yang lebih parah, palingan hanya dalam hitungan cinta semalam. Duh, saya jadi curhat lagi kan! Hehehe…

Kemarin pagi saya sempat menelusuri tagar #EfekUjianNasional di mesin pencari di Twitter. Betapa saya melihat dedek-dedek gemez itu mencurahkan perasaannya lewat beberapa twit. Mereka‒dedek-dedek gemez itu‒adalah orang biasa. Mereka bukan seorang Nabilah JKT48 yang dengan santai ngetwit: “Pagi! J Semangat buat yang un terakhir hari ini. Jangan lupa sarapan yaaa~”

Ternyata Nabilah juga belum bisa move on, Pak Anis. Maafkan dedek gemez saya yang satu ini ya.

Selain dedek-dedek gemez, yang entah jomblo entah baru putus dengan pacar masing-masing, ujian nasional tetap menjadi momok menakutkan bagi para jomblo. Masa-masa PDKT selama tiga tahun di sekolah jadi kandas dalam hitungan tiga hari saja. Bisa dibayangkan betapa pedihnya hal itu!

Mereka yang ditolak dengan alasan ‘mau fokus belajar’. Mereka yang diputusin pacarnya, dan setelah ujian selesai, ternyata si pacar malah enggak mau diajak balikan. Mereka yang masih menanti pacarnya balik lagi, padahal bekas pacarnya itu sedang mempersiapkan strategi jitu; bagaimana cara mendapatkan pacar baru saat masuk kuliah nanti. Sungguh betul kata Pak Anis Baswedan: ujian akhir hanya sebagai Evaluasi Nasional.

Kita para jomblo pun sudah semestinya mengevaluasi diri. Merenung beberapa jenak. Bertanya sebentar pada diri kita masing-masing: sudahkah saya move on?

Semoga tidak ada lagi orang-orang yang menolak cinta dengan alasan ‘mau fokus belajar’. Amin.

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.