Curhat

Gerakan Mahasiswa dan Pendekatan yang Tidak Kontemporer

Aditia Purnomo
Ditulis oleh Aditia Purnomo

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda. Sejarah mencatat, gerakan-gerakan yang dilakukan mahasiswa menjadi salah satu kunci dari keberhasilan menjatuhkan rezim tiran. Tapi ingat, semua itu hanya sejarah.

Kini, gerakan mahasiswa harus menghadapi nasib bahwa perjuangan yang dilakukan mereka tidak banyak mendapat simpati publik. Segala aksi, baik demonstrasi maupun advokasi gagal menyentuh nurani masyarakat. Jangankan aksi soal hal-hal yang makro, advokasi warga yang jelas tertimpa masalah saja warganya nolak. Gimana nembak kekasih hati.

Benar kata Rendra, bahwa maksud baik tak selalu bisa berlaga. Bahwa maksud baik mahasiswa untuk membantu masyarakat tak selalu dapat dukungan. Boleh saja punya maksud baik, tapi kalau pendekatannya nggak bener, ya bakal ditolak lagi, mblo.

Dalam hal ini, kawan-kawan gerakan gagal menerapkan diktat Materialisme Dialektika Historis yang diajari saat kurpol. Karena materi MDH ini adalah kunci untuk menentukan strategi dan aksi pendekatan gerakan.

Pertama, kawan-kawan gerakan tidak menjalankan ajaran Bung Karno. Ya, kawan-kawan, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Gimana mau belajar dari kesalahan di masa lampau kalau selalu lupa sama sejarah. Udah tahu, pola pendekatan lama gagal diterapkan sama warga A, eh pas mau advokasi warga B masih pake pola yang gagal. Pantes gagal dapetin pacar diterima masyarakat.

Kedua, kawan-kawan gerakan gagal menerapkan disiplin kontemporer dalam pendekatan. Gimana mau diterima, nyamperin gebetan warga pakai celana robek-robek, muka lusuh belum dicuci, baju belum ganti tiga hari. Jangankan diterima, baru dateng aja udah disuruh pulang sama papanya pak hansip. Mbok ya kalau mau ngegebet orang tuh dandan dulu. Minimal mandi deh.

Yang terakhir, kawan-kawan gerakan sendiri nggak peka sama perasaan masyarakat. Dalam beberapa kasus, gerakan cenderung agresif saat pendekatan dengan warga, ujung-ujungnya ditolak karena disangka Cuma mau provokasi warga. Ibaratnya gini, gebetan kalian sedang berduka, tapi kalian malah agresif pedekate disaat yang nggak tepat. Ya kelas bikin gebetan ilfil lah. Nah ini pas warga sedang dalam kondisi duka, gerakan malah agresif. Ya amsyong.

Pada konteks perjuangan yang langsung bersentuhan dengan persoalan masyarakat saja gerakan ditolak, gimana pada hal yang lebih luas. Karena itulah, kawan-kawan gerakan harus lebih sering jalan-jalan, nongkrong di pasar santa, dan yang terpenting adalah punya pacar.

Kebiasaan anak-anak gerakan yang lebih sering mikirin bangsa dan negaranya ketimbang nasib kuliah dan dirinya sendiri perlu diimbangi dengan kehadiran seorang kekasih. Minimal, kalau anak gerakan punya pacar, masih ada yang ngingetin mereka buat mandi.

Tentang Penulis

Aditia Purnomo

Aditia Purnomo

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.