Surat Cinta

Jangan Sok Menolak Jatah Mantan

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Hei, Dik Meita.

Sungguh aku sangat berterimakasih atas upayamu membesarkan dan melapangkan dadaku. Meskipun, aku tahu dadaku tak akan sebesar dan selapang milik Pamela Savitri.

Dik, karena kamu mengaku baru mengenalku, lewat dua tulisan di jombloo dot co, jujur saja aku meragukan intensitasmu membaca situs militan ini. Sebab, bukan satu dua tulisanku di web ini. Tsah. Apa itu karena justru kamu yang terlalu sibuk mengingat mantan?

Bila itu benar, Dik, tak apa. Aku sangat wajarkan itu. Mengingat mantan itu perlu. Buat belajar. Buat bisa terhindar dari jebakan sejenis. Tak selamanya mengingat mantan itu memalukan.

Pasti kau akan bertanya, apakah itu bukannya malah bikin mantan jadi kepedean? Sombong?

Harus kuakui, itu sangat mungkin terjadi. Tapi, itu kan urusan dia dengan pribadinya. Bukan aku. Lagipula, sombong hanya akan menghasilkan penderitaan baginya, suatu saat. Kalau itu terjadi, anggap saja mengingatnya itu adalah bagian dari balas dendam.

Oh ya, soal jatah mantan, aku pikir itu tetap perlu. Bukan cuma soal komisinya saja. Lebih jauh lagi, adalah soal silaturrahmi. Menjaga persaudaraan. Bukankah kau pasti pernah dengar pepatah, air susu dibalas dengan air tuba? Aku sih tak tega membalas air susunya dengan air tuba.

Begitulah, Dik. Kupikir tak perlu kiranya sok melupakan mantan. Apalagi sok nolak jatah mantan. Memang jatah mantan gak bisa buat beli beras, tapi tanpanya seribu beras tak ada artinya. Bukankah kebahagiaan itu lebih dari segalanya?

Yoweslah, Dik. Bagaimanapun aku terharu atas perhatianmu. Untuk itu aku ucapkan banyak terimakasih. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu itu. Semoga kamu makin senang dan istiqomah baca situs militan ini.

Amin!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian