Curhat

Jatah Mantan

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Sebagai seorang yang baru genap dua bulan putus cinta, saya sungguh paham rasanya sakit hati. Hanya butuh satu kata untuk mengungkapkannya: nyesek. Tidak kurang. Tidak pula lebih. Karena, kurang berarti harus ditambah, dan satu nyesek saja sudah cukup bagi saya. Sudah bikin kewalahan. Sementara, lebih berarti alay, sedangkan saya terlalu tangguh untuk menjadi seperti itu.

Putus cinta memang tak dapat dihindari. Setiap orang yang berani bercinta, harus berani menerimanya. Apapun sebab dan alasannya. Tak perlu kiranya membela diri dengan pelbagai alasan. Tidak juga menyalahkan orang lain. Cukup dirasakan saja nyeseknya.

Memang pada dasarnya untuk bersikap semacam itu tak mudah. Di saat terjatuh dalam kegalauan, setiap orang pasti akan mencari cara untuk segera bangkit. Termasuk dengan melakukan pembelaan diri. Mengutuk dan menyalahkan mantan pacar misalnya. Bahkan, orang-orang di sekitarnya juga.

Saya tidak menyalahkan seorang yang berlaku demikian. Bagi saya itu wajar saja. Mengutuk orang lain, kadangkala menjadi sebuah hal yang perlu juga. Bahkan mengasyikkan. Karena, sebagian kedongkolan akan dapat dilampiaskan. Dikeluarkan!

Lagipula, siapa sih yang bisa mendadak rela kehilangan rutinitas begitu saja. Mendadak kesepian. Tidak ada yang mengucapkan selamat pagi. Memberi pelukan. Ciuman. Atau ya you know lah…

Namun, akan lebih mulia bila dapat bersikap ikhlas. Seperti wejangan kiai Puthut EA, ikhlas adalah puncak kedisiplinan. Dan hidup menuntut kedisiplinan, agar terhindar dari kesia-siaan dan penyesalan panjang.

Untuk dapat ikhlas, sudah semestinya kita mencontoh para pensiunan. Mereka adalah orang-orang paling ikhlas di dunia ini. Rela meninggalkan rutinitasnya. Walaupun bersifat paksaan dari pemerintah. Tidak mendapat ucapan selamat pagi. Tidak lagi memberi perintah dan aneka petuah.

Dalam peraturan pensiun di negeri ini, seorang yang sudah berusia 55 tahun dianggap tak lagi produktif. Karenanya mereka harus berhenti bekerja. Apapun jabatannya. Ada juga sih instansi yang sampai 65 tahun. Tetap saja, namanya peraturan ya tak sekena hati.

Padahal, sejarah mencatat bahwa seorang Nikita Kruschev, pada usia segitu lagi berada pada masa kejayaannya sebagai pemimpin Soviet. Ia mampu membuat Kennedy, yang notabene lebih muda, kalang kabut.

Para pensiunan ini tak pernah menyalahkan pembuat peraturan. Mereka sadar bahwa itu adalah sebuah konsekuensi dari pilihan hidupnya: menjadi pegawai pemerintahan.

Sebaliknya, mereka malah memanfaatkan masa pensiun mereka untuk bernostalgia, liburan, menimang anak cucu, berkebun dan hal-hal yang lain. Bagi mereka, tak ada yang lebih indah dari mendapat gaji tanpa bekerja. Cukup ongkang-ongkang kaki sambil bersiul di kursi goyang, setiap bulan uang tunjangan datang.

Mungkin, di sinilah perbedaan antara mereka yang putus cinta dan pensiunan. Pada kompensasi atau jatah atau tunjangan. Tak ada kompensasi sesudah putus cinta. Tak ada jatah mantan. Setelah putus, semuanya pupus. Hilang!

Tak ada seorang mantanpun yang memikirkan nasib mereka yang pernah mengisi hatinya. Dibiarkan begitu saja dimakan waktu. Matipun mereka tak mau tahu. Padahal, sewaktu jadian, tak bertemu sehari rasanya sudah mau mati.

Barangkali ini harus dipikirkan matang-matang oleh seluruh mantan di dunia. Bahwa jatah mantan itu penting. Seperti halnya BPJS dan tunjangan-tunjangan lain. Walau hanya sekadar sapaan selamat pagi. Ya, syukur-syukur kalau mau ngasih lebih. Peluk dan cium misalnya.

Karena, bagaimana pun pastinya itu bukanlah apa-apa untuk membalas kasih sayang. Perhatian. Cinta. Dan pengorbanan mereka selama masa jadian. Yang jelas tak hanya menyita modal saja. Melainkan waktu dan perasaan!

Saya yakin, bila jatah mantan sudah bisa direalisasikan, jumlah jombloo yang merana akan berkurang. Setidaknya, tidak menambah jumlah bapak air mata nasional. Cukup kak Nuran Wibisono saja.

Jadi, sudahkan anda dapat jatah mantan hari ini? Saya sih belum!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian