Berita dan Artikel

Jomblo dalam Studi Postkolonial (sebuah upaya membela diri)

Fajar
Ditulis oleh Fajar

Teori postkolonial merupakan teori baru yang berkembang sebagai upaya kritik atas kesewenang-wenangan yang terjadi setelah penjajahan (kolonialisme). Dalam buku fenomenalnya yang berjudul Orientalism, Edward Said secara apik mengulas berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, politik, budaya, ekonomi, sosial telah dirusak oleh penjajah sebagai upaya untuk melumpuhkan kembali negara bekas –kalau tidak mau disebut mantan- jajahan.

Tokoh yang dikenal sebagai peletak teori-teori kritis postkolonialisme ini kemudian mempengaruhi beberapa penulis lain seperti Homi K. Bhaba, Spivak dan kawan-kawanya. Salah satu yang terpengaruh adalah penulis sendiri. Meski bukan seorang aktivis antikolonialisme, penulis merasa perlu untuk “berjihad” di jalan suci menyuarakan sendi-sendi perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisme, imperliasme, feodalisme, kapitalisme dan isme isme yang lain.

Pertanyaan besarnya adalah apa hubunganya Postkolonialisme dengan jomblo? Yah itu dia masalah yang hendak kita selesaikan. Mencari hubungan antara postkolonialisme dengan jomblo, tentu sambil berharap semoga hubungan keduanya bukanlah hubungan tanpa status.

Tak perlu kita perdebatkan lagi pandangan bahwa kaum jomblo lebih rendah kastanya dibanding yang berpacaran sudah kian merebak merusak nalar pikir masyarakat kita. Pandangan picik inilah yang membuat penulis–yang kebetulan jomblo–merasa resah gelisah dan gundah hingga akhirnya memaksa penulis untuk melakukan perlawanan. “Apabila jomblo ditolak tanpa ditimbang, jomblo direndahkan dengan berbagai alasan dan dituduh subaltern dan mengganggu yang pacaran maka hanya ada satu kata : LAWAN!!” begitu kira-kira kalimat yang terbersit di benak penulis terinspirasi dari seruan legendaris Wiji Thukul.

Oleh karena itu penulis mengajak kepada siapapun yang masih peduli dengan kesetaraan manusia dan humanisme hendaknya tergerak untuk melawan burjoisme kaum pacaran. Bukan apa-apa ini hanya semata demi kesetaraan agar jomblo juga mendapat tempat yang layak di masyarakat sebagaimana cita-cita Pancasila : keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada awal tulisan ini telah dijelaskan bahwa praktik kolonialisme telah merongrong berbagai aspek kehidupan –yang berpengaruh bahkan setelah merdeka- dan mengancurkan mental serta kearifan lokal, lalu akhirnya mengkonstruksi sebuah “kearifan” baru. Pola semacam inilah yang juga telah bangsa penjajah lakukan pada kaum jomblo di negara ini. Ini bisa dimaklumi mengingat kaum jomblo yang notabene adalah kaum muda dan sepi amat keras melakukan perlawanan pada penjajah. Saya tentu tidak perlu lagi menggurui Anda bagaimana para pemuda jomblo berjuang dalam berbagai pertempuran dan agresi militer, inisiasi Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga peristiwa Rengasdengklok semua dipelopori kaum muda.

Serangkaian perlawanan tadi tentu membuat para kumpeni ketar-ketir dan sepakat untuk melenyapkan kaum muda bagaimanapun caranya. Melihat semangat, militansi, dan kenekatan kaum muda tentu sulit bagi penjajah untuk meredam pemuda dengan perang terbuka maupun dialektika semata. Oleh karena itu, langkah licik yang diambil kaum penjajah adalah dengan me-laundry masal otak masyarakat agar memarjinalkan kaum muda/jomblo. Nyatanya operasi cuci otak masal tersebut berhasil dan tertanam hingga kini, miris.

Oke, sekarang marilah kita perdalam tuduhan yang saya sebutkan di atas. Bangsa barat (penjajah) dalam operasi melumpuhkan jomblo telah merubah paradigma masyarakat Indonesia, yang kita tahu, berbudi luhur. Sebagai masyarakat yang beragama dan berbudi ketimuran, masyarakat Indonesia awalnya adalah masyarakat yang melihat bahwa pacaran adalah hal yang tabu dan memalukan, terlebih setelah kerajaan-kerajaan Islam berkembang dengan ajaran teologinya yang sempurna telah mengingatkan bahwa zina adalah perbuatan keji dan kotor (pacaran amat dekat dengan zina), sehingga kita dilarang mendekatinya [QS. Al-Isra : 32]. Namun demikian para kumpeni (bangsa barat) telah mendeskonstruksi pandangan itu dan menggantinya dengan pandangan baru bahwa jomblolah yang memalukan dan rendah.

Dengan kacamata kapitalisme–yang tunduk pada mekanisme pasar–jomblo dipandang sebagai “barang” yang tak laku dipasaran, sehingga kita legal dan boleh mengatakan bahwa jomblo adalah “barang” yang tidak berkualitas sehingga tidak ada yang mau memilikinya. Ini tentu sebuah pandangan keliru yang perlu kita –sebagai anak muda yang gagah dan sepi- ubah dan luruskan. Marilah kita suarakan bahwa jomblo adalah sekolompok orang yang memilih jalan suci menyendiri untuk mentaati perintah Tuhannya #Subhanallah muehehe.

Di akhir tulisan ini penulis berharap semoga jomblo kembali mendapat tempat yang layak di hati masyarakat, tidak lagi dipandang sebagai masyarakat kelas dua yang sering termarjinal-kan dalam pergaulan. Di atas segalanya penulis menekankan bahwa tulisan ini bukanlah ajakan untuk membenci dan meminggkirkan mereka yang pacaran. Tulisan ini semata-mata hanya hiburan yang barangkali bermanfaat hehehe. Salam..

Tentang Penulis

Fajar

Fajar

adalah seorang pemuda desa, ia perkasa. Tekad jihadnya membulat seiring penindasan yang sering dialami kaumnya, JOMBLO.

  • Ekman Zudha

    Kompor gas gan. Penuh konspirasi wahyudi.

  • Pingback: Memaknai Cinta - jombloo.co()

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    @