Berita dan Artikel

Jomblo di Persimpangan Pasar

Kholid Syaifulloh
Ditulis oleh Kholid Syaifulloh

Sebentar lagi bangsa Indonesia masuk dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Haruskah para jomblo merasa senang? Atau justru sedih? Hambatan arus ekspor-impor komoditi akan hilang. Juga batas-batas negara secara perlahan atau cepat akan memudar dan setiap negara terintegrasi menjadi satu. Layaknya peternakan. Kandang sapi, kerbau dan bebek akan jadi satu. Berbagai hajat hidup dipersatukan dalam satu arena. Soal berantem atau rukun? Biar jadi urusan mereka. Tak usah diurus, nanti malah kena sepak atau kena sosor.

Sudah banyak disajikan berbagai paradigma soal MEA. Dari neo-fungsionalis, neo-realis, sampai kemenangan neo-liberalisme. Pergumulan diskursif yang (hanya) berkutat pada ekonomi dan politik. Tapi tak ada yang meluas dan mencoba melihat dari perspektif kejombloan. Padahal ini soal penting, sampai-sampai para jomblo kebingungan harus berbuat apa dalam menghadapi MEA. Peluang meraih gebetankah atau makin lengket dengan status jomblonya. Apalagi melihat anak Presiden Jokowi yang akan menikahi putri Keraton Solo membuat para jomblo menelan ludah lebih banyak.

Kalau sekilas dilihat, MEA merupakan peluang bagi para jomblo. Sebab, keterbukaan informasi tentang kiat-kiat mencari pasangan menjadi lebih mudah didapat. Dengan begitu, kisah pengembaraan cinta semakin merobek tabir pemisah lintas negeri. Mereka bisa memperluas segmentasi ke tingkatan regional dengan menambah list gebetan, tak hanya terbatas dalam negeri. Di samping itu, para jomblo tanah air bisa bertemu dengan jomblo-jomblo dari negara-negara tetangga, semisal Malaysia, Vietnam, Thailand, bahkan Laos. Malahan mereka bisa membentuk persekutuan jomblo sehingga menjadi jomblo-jomblo organik. Wiiiiiiih ….

Kalau hanya sekedar dilihat begitu, jadi mudah perkaranya. Kesan yang muncul yaitu masuk akal. Logis. Membuat mereka menjadi lebih optimis. Pasar bebas ASEAN ini akan membuat distribusi kesejahteraan merata. Termasuk kesejahteraan para jomblo. Asumsinya adalah dengan memberikan individu kebebasan yang sebebas-bebasnya, maka tercipta ruang bagi para jomblo untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya. Dengan begitu hukum keseimbangan akan tercipta, karena menurut Adam Smith dengan sendirinya akan ada invisible hand yang mengatur keteraturan distribusi tersebut. Setidaknya begitulah.

Namun, pandangan di atas bisa jadi keliru kalau mengabaikan kontekstualitas masing-masing individu. Para jomblo harus waspada. Pasalnya, tak ada hand gun yang menang melawan deru meriam dan misil. Begitupun dengan kualitas jomblo negeri ini, tak bisa tidak menghadapi gempuran-gempuran jomblo-jomblo luar negeri. Alih-alih membuat persekutan jomblo, pasar ASEAN yang hadir menggunakan logika persaingan, membuat sekat-sekat lintas negeri menjadi semangat chauvinistik. Jomblo-jomblo di tingkat ASEAN akan baku hantam memperebutkan sumber daya yang bernilai.

Melihat kualitas para jomblo, tak bisa dihilangkan dari akar sejarahnya. Sebab kalau begitu, para jomblo akan mengalami keterputusan sebab-musabab yang membentuk kondisi kejombloannya. Bisa hancur bangsa ini, seperti dikatakan Milan Kundera, “langkah pertama untuk memusnahkan suatu bangsa cukup dengan menghapus memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu, bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan melupakannya lebih cepat”. Juga para jomblo, kalau-kalau mereka tak sadar konteks historisnya, bisa jadi mereka akan hancur sebelum berperang dengan bangsa lain. Bukan merobek tabir pemisah, tapi seperti didorong ke lubang tempat predator-predator berkumpul.

Selain itu, para jomblo juga harus sadar dengan pergeseran makna nilai yang dibangun oleh kerangka paradigmatik pasar bebas. Ukuran nilai yang sebelumnya berada pada wilayah produksi, digantikan dengan ukuran nilai utilitas yang hadir pada wilayah konsumen. Mungkin ketika disodorkan pilihan antara memilih gebetan Singapura dengan gebetan lokal, maka pilihan akan jatuh pada pilihan pertama. Mengapa? Sebab ada kecenderungan branding yang lebih tinggi pada produk luar negeri. Bukan pada ongkos dan biaya produksi, tapi pada kecenderungan pilihan pasar. Pasarlah yang mengatur, bukan potensi para jomblo. Potensi para jomblo menjadi sia-sia belaka, walaupun hidup di ruang yang katanya ‘peluang’.

Maka dari itu, para jomblo harus sadar akan pra-kondisi dan kondisi kekiniannya. Dengan belajar mengkontkestualisasikan dirinya, sangat berguna untuk mengukur seberapa jauh kemampuannya di pasar ASEAN. Rentang waktu yang tak sampai setahun lagi mencapai MEA, kesadaran itu harus bangkit mulai sekarang juga. Kalau tidak, bisa kebingungan di tengah jalan, menjadi jomblo progresif atau regresif. Silakan pilih sendiri.

Tentang Penulis

Kholid Syaifulloh

Kholid Syaifulloh

Sedang mencoba jadi aktivis jomblo

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    @