Berita dan Artikel

Konsensus Revolusi Jomblo

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

Tiada yang lebih sepi dari sepinya orang yang hidup sendiri. Apa saja sebabnya, mulai putus cinta, LDR, hingga tak pernah dikabulkan cintanya. Di antara tiga situasi sebab itu, LDR terbilang yang paling mujur, kendati sejatinya ya tak sepenuhnya mujur sebab kemujurannya hanya berkalang gejet.

Baiklah, saya tak berhasrat untuk membulli kaum jomblo atau LDR. Tidak, karena saya baik hati. Tepatnya, lagi baik hati. Saya justru berkehendak untuk membela kalian secara ilmiah dan kemudian memberikan solusi jitu. Jadi optimislah!

Ludwig Wittgenstein, filsuf yang mewariskan kitab filsafat bahasa yang ciamik Philosophical Investigations, selain dikenal dengan language game-nya, juga populer dengan ajaran konsensusnya. Menurutnya, bahasa adalah konsensus alias kesepakatan sebuah kelompok.

Orang Madura bersepakat menyebut “saya” dengan kata “sengkok”, jadilah ia bahasa. Orang Arab menyebut “saya” dengan konsensus “ana”, jadilah ia bahasa. Orang alay menyebut “serius” dengan konsensus kata “ciyus”, jadilah ia bahasa. Demikian selanjutnya. Kata kuncinya cuma satu: KONSENSUS.

Maka ndak usahlah resah jika saat ini KBBI hanya masang kata “jomlo” dengan arti “wanita tua” dan tidak mengakomodir kata “jomblo” yang lebih populer konsensusnya, toh pada akhirnya KBBI pun akan tunduk pada konsensus. Demikian juga kata “banal” yang oleh KBBI diartikan “tidak menarik”, nanti juga akan sujud pada rezim konsensus dengan memasukkan makna “liar” sebagai cakupannya.

Sungguh masalah konsensus ini akan selalu bergerak dinamis kok. Jadi santai saja. Ingat deh bagaimana dulu kata “percaya” jika dikasih awalan “me” dan akhiran “i” jadinya “mempercayai”, bukan “memercayai” seperti yang belakangan ini sering dipakai. Maka tetap kalem saja ya bila suatu kelak kata “jomblo” diakomodir oleh pemangku KBBI, lalu saat dikasih awalan “me” dan akhiran “an” menjadi berbunyi “menyomblokan”, bukan “menjomblokan”, kendati kuping ini rasanya guaaateeell karena diftong wagu  “menyomblokan”. Toh, pada masanya, berkat konsensus yang menguat, kata “dijomblokan” bisa saja menjadi “dibellakan” atau “divekan” atau “dipratiwiutamikan” atau “diitanovitasarikan” atau “dibilvenkan” atau “dienikimcilkan”, dan seterusnya.

Jangankan cuma konsensus antar kita yang apalah artinya di hadapan kebesaran Dek Safitri to, lha antarkamus babon saja juga sering ndak bersepakat kok. Misal, kata “ateis” di KBBI diartikan “orang yang tak percaya pada Tuhan”, sedangkan di Oxford Dictionary diartikan “orang yang percaya bahwa Tuhan tidak ada”. Rakyo beda jauh itu dampak epistemologisnya.

Ayolah, santai saja to. Hidup menyendiri dan merasa sepi akibat putus cinta atau LDR atau cintanya belum pernah dikabulkan dampak psiko-sosialnya ya hanya sebab masalah konsensus itu kok. Ini serius, Kawan, sangat serius saya membela kalian. Sebab saya selo.

Adagium mainstream bahwa “ngejomblo itu sepi” jelas kan hanya citra konsensus yang dibangun oleh mereka yang sudah berpasangan. Mereka sesungguhnya hanya sedang mengkhilafkan diri bahwa sebelum berpasangan ya mereka juga sepi. Maka percayalah bahwa kesepiannya jomblo adalah ramai pada gilirannya.

Begitu juga adagium “ngejomblo itu tak bahagia” kan jelas hanya stigma konsensus kaum hipokrisi yang menyeolahkan kebahagiaan hanya untuk mereka yang berpasangan. Sebuah klaim yang penuh pendangkalan akibat cupetnya ilmu filsafat mereka. Lha bayangkan, andai mereka kenalan sama Jacques Derrida, misal, yang menyatakan “ada tanpa ada”, berarti kan yang disebut bahagia itu di dalamnya adalah ketakbahagiaan itu juga. Sepi, menyendiri, tanpa pasangan, halal bangetlah untuk dipahami dan ditempuh sebagai kebahagiaan itu sendiri. Kata Gabrile Garcia Marquez, “Penderitaan adalah cara lain untuk berbahagia.”

Lha, mau apa sekarang? Persetaninlah itu rezim-rezim konsensus yang selalu arogan dan sok bin belagu. Segala rezim memang memuakkan! Mau rezim politik sampai rezim kebahagiaan ya selalu begitu wataknya. Maka kini tinggal kalian saja bertekad mematahkan rezim konsensus yang songong itu, yang doyan menempatkan kalian pada posisi tepian, sepi, lemah, meratap, dan tak bahagia, dengan cara menciptakan konsensus baru di antara kalian sendiri. Semakin banyak yang terlibat dalam konsensus ini niscaya akan semakin kuatlah bangunan posisi kalian.

Tak pernah ada kata terlambat untuk mulai dipikirkan menggagas komunitas sejenis Jomblo Mau Apa Kamu (LOMUAK). Ya demi konsensus itu.

Begitu?

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    ##