Berita dan Artikel

4 Penyebab Runtuhnya Rezim LDR

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

Sejak pertama kali didirikan, rezim LDR makin menyimpang dari undang-undang pacaran. Tentu urusan kasih sayang tidak memakai hukum pidana, melainkan sebuah dasar hukum yang di dalamnya terkandung ayat-ayat mantan. LDR yang diimpor dari budaya Barat itu kini makin tidak memiliki esensi.

Asal menjaga stabilitas kebahagiaan, yaitu dengan cara memanipulasi sejarah mantan, mereka pikir bisa memiliki derajat yang lebih tinggi dari jomblo. Tidak mungkin. Toh LDR adalah jomblo dengan status, ada yang nggantung, kebanyakan hampir putus.

Namun sebagai mahluk Tuhan yang bermartabat, jomblo kapan saja bisa berdemo dalam  menyuarakan hak-hak sebagai kaum tertindas. Bahwasannya LDR adalah sebuah penindasan. Bahwasannya LDR merupakan sebuah rezim yang harus segera diruntuhkan!

Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan runtuhnya rezim LDR:

  1. Gagal paham

Sebagai orang yang mengaku bahagia berhubungan jarak jauh, bagi banyak pasangan, paham mengenai LDR masihlah sebatas hanya tahu singkatannya saja. Kalau terus seperti itu, bagaimana bangsa ini bisa maju kalau hanya tahu sebuah nama, bukan substansinya.

Harus dipahami jika sejarah LDR tercipta dari semangat pembantaian orang-orang yang belum tentu bersalah. Menuduh mantan sebagai biang keladi bobroknya komitmen menjalin hubungan. Sementara diri tak paham tentang korelasi antara jarak dengan waktu.

Orang-orang mesti banyak belajar dari jomblo tentang konsep LDR. Bahwa LDR bukan lagi menjadi kepanjangan Long Distance Relationship. Tapi juga Long Distance Revenge, Lebih Ditipu Rasa, Lama Didekap Ragu, dan kepanjangan lainnya. Tergantung versi mana dan siapa pencetusnya.

Oleh karena itu, bukalah pikiran kalian. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal bisa jadi akan diambil orang? Maka belajarlah dari jomblo-jomblo filsuf yang menjomblo sudah sejak dalam pikiran.

  1. Kenangan yang haus kuasa

Layaknya para pejabat yang duduk di kursi pemerintahan, begitulah cara kenangan bekerja dengan imperialisme yang aduhai kejamnya. Berusaha memperluas status dari yang tadinya sebatas orang lain menjadi calon mertua. Dari cuma teman, dari cuma mantan, menjadi selingkuhan. Betapa rezim LDR memanfaatkan kenangan untuk melakukan propaganda dan spionase pacaran jarak jauh.

Ingat ini baik-baik, Mblo. Cukuplah mantan yang menjadi diktator. Kenangan, jangan. Sebab kalau kenangan sudah haus akan kekuasaan, bersiap-siaplah untuk segera turun dari singgasana kenyamanan sebagai calon menantu idaman.

  1. Utang rindu yang tak kunjung lunas

Sejak Bapak Pembangunan lengser, utang yang diwariskannya kepada bangsa ini berjumlah Rp 13.000 triliun. Utang itu pun meningkat lebih dari 100% dalam 16 tahun terakhir selama pergantian pemerintahan setelah era reformasi.

Pada 13 Februari 2015, Bank Indonesia menyatakan bahwa utang bangsa ini sudah mencapai angka US$ 293,7 milyar atau setara Rp 3.818 triliun (jika kurs rupiah Rp 13.000  per dollar AS). Diantaranya, yaitu porsi utang swasta US$ 162,8 milyar atau sama dengan Rp 2.116 triliun. Sedangkan utang di sektor publik berjumlah US$ 129,7 milyar atau Rp 1.686 triliun.

Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Bukan angka-angka atau mata uang atau tentang nilai rupiah yang kian melemah. Tapi ini tentang rindu yang tak kunjung lunas. Rindu yang diwariskan oleh mantan-mantan sebelum pacar kita sekarang. Eh, memang kalian punya pacar?

Rezim LDR membikin utang rindu kian bertambah banyak. Melemahkan pikiran banyak pasangan karena diserang penyakit kantong kering meski bukan pada waktunya: tanggal tua. Mau beli pulsa untuk menelepon pasangan, tapi juga perlu pulsa untuk internetan. Mau menemui pasangan, tapi ingat kalau diri jarang makan.

Utang rindu dan utang rupiah kok enggak jauh beda ya. Entah kapan lunasnya. Padahal menikah saja belum. Hmm.

  1. Pemberontakan Gerakan Jomblo Kok Manis

“Sudah, putusi saja. Masih banyak kok yang bisa mengerti kamu. Daripada makan hati melulu. Pahit! Mending jadi jomblo saja. Bebas! Bisa merasakan manisnya dimengerti, lagi!” adalah propaganda dalam pamplet yang kerap disuarakan Gerakan Jomblo Kok Manis.

Biasanya gerakan ini bisa dilihat secara kasat mata. Tapi berhubung teman dekat, bahkan sahabat, gerakan ini muncul tanpa perlu bersembunyi dan dianggap golongan Kiri. Pemberontakan yang dilakukan pun langsung turun ke jalanan yang macet akibat menumpuknya rasa sakit hati dan hal-hal yang mengecewakan dari pasangan. Sistem LDR yang lumpuh segera saja dapat diruntuhkan.

Lalu bersama jomblo-jomblo yang lain, yang telah mengalami manisnya dimengerti, Gerakan Jomblo Kok Manis akhirnya bergabung dengan Gerakan Jomblo Revolusioner. Gerakan tentang LDR bukan lagi tentang jarak dan waktu. Tapi tentang sebuah pengkhianatan!

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.