Berita dan Artikel

Antirokok dan Cinta yang Gagal Paham

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

“Saya ingin kampanye antirokok, sebagai perokok berat.”

Kalimat itu diucapkan oleh Presiden Jancukers Sujiwo Tejo, saat mengawali dagelan di acara Stand Up Comedy Show Metro TV pada 22 Februari 2012 silam. Sebagai mantan playboy yang telah menyandang tugas berat, yaitu mengentaskan diri dari kebodohan, saya juga ingin berkampanye seperti presiden yang satu itu.

Saya ingin mengampanyekan tentang cinta yang gagal paham kepada orang-orang yang antirokok.

Sampai saat ini, orang-orang telah memiliki definisi cinta sendiri-sendiri. Ada orang yang mengatakan bahwa cinta itu suci, murni, orisinal, dan turun dari langit. Tapi ada juga orang yang mengatakan bahwa cinta itu omong kosong. Manusialah yang mewarnai cinta itu sendiri; merah, putih, hitam, bahkan ada yang menganggap bahwa cinta itu abu-abu.

Lalu definisi cinta seperti apa yang dimiliki orang-orang yang antirokok?

Presiden Jancukers Sujiwo Tejo mengatakan ada dua jenis orang yang antirokok. Pertama, orang itu amat membenci rokok, sama seperti membenci berita politik. Segera matikan televisi jika melihat Ruhut atau Soetan Batoegana. Sedangkan jenis kedua adalah orang yang setengah-setengah antirokok. Dia menonton infotainment, tapi juga menonton berita politik. Orang yang antirokok jenis ini tidak bisa membedakan mana penderitaan Olga mana penderitaan Pak SBY.

Dari pernyataan presiden di atas, anggaplah orang-orang yang antirokok mempunyai definisi cinta yang gagal paham. Antara rokok dan mantan adalah sama. Sama-sama bikin susah. Apalagi jika ada beberapa teman yang merokok sambil secara sadar bercanda membicarakan mantan pacarnya. Bagi orang-orang yang antirokok, mereka jadi susah mengerti candaan teman-temannya. Sementara mantan membikin ia jadi susah move on.

Orang-orang yang antirokok macam itu anggaplah gagal memahami cinta walau sebatas melihat kulitnya saja. Jika gagal paham itu terletak pada asap rokok, orang-orang yang antirokok perlu mengetahui bahwasanya cinta itu seperti angin: dapat kita rasakan, tapi tak selamanya dapat kita genggam (Catatan Mantan Playboy, 2014). Bukankah lebih baik gagal saat menepis asap rokok, daripada gagal memahami cinta walau sebatas melihat kulitnya saja?

Sebab bila kita gagal memahami cinta walau sebatas melihat kulitnya saja, bagaimana bisa kita belajar toleran kendati kepada diri sendiri? Bagaimana bisa kita mencintai seseorang tapi juga membenci masa lalu orang itu? Orang-orang yang antirokok, jangankan mendukung RUU Pertembakauan, jangankan peduli terhadap nasib para petani tembakau, untuk peduli dengan diri sendiri, teman, dan kenangan mantan, mereka pun kerap dilanda kegalauan. Betapa pelik hidup orang-orang yang antirokok.

Teruntuk Kawan-kawan Jombloo, baik yang perokok maupun yang tidak merokok. Mari saling menghargai perbedaan. Syukur-syukur kita bisa merangkul seluruh jomblo di negeri ini. Sebab jika seluruh jomblo negeri ini sudah saling menyatukan diri. Jangankan belajar memahami cinta. Belajar menaklukan hati calon mertua pun kita pasti bisa.

Wahai kaum jomblo seluruh negeri, bersatulah! Jomblo bersatu tak bisa dikalahkan!

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.