Berita dan Artikel

Harkitnas dan Momentum Move on Mahasiswa

Azami Mohammad
Ditulis oleh Azami Mohammad

Hari kebangkitan nasional sepertinya menjadi hari paling sial bagi Pak Jokowi. Lho gimana enggak, belum genap setahun jadi Presiden, sudah banyak yang mendesak pak Joko turun tahta. Kalau kata Mas Aditia Purnomo, baru juga ngegebet udah ditinggal aja. Udah gitu, Pak Jokowi yang harusnya ngopi sama Om Luhut di Istana hari ini, malah diganggu sama demonya mahasiswa yang nuntut diselesaikannya Nawacita dan Trisakti Pak Joko. Oalah, kasihan. Sudah jatuh, ketiban mahasiswa pula.

Di kampus, celoteh turunnya mahasiswa ke jalan di Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) sedang jadi buah bibir. Nggak peduli lagi sibuk ngurus kkn, skripsi, bahkan asmara, isu demonstrasi besar-besaran buat nurunin pak Joko jadi trending topik di kampus. Nggak percaya?

Di kampusku, organisasi mahasiswa paling kontra revolusioner kontemporer sekelas Dema Universitas sedang koar-koar menyerukan turun ke jalan di hari kebangkitan nasional. Ini sih enggak bercanda sepertinya, wong Dema Universitas UIN yang lebih suka nongkrong-nongkrong lucu dan bercanda tiba-tiba muncul di media massa ikut-ikutan menyerukan turun ke jalan. Artinya kan mereka serius.

Saya sih sebagai mahasiswa sipil mana tau kenapa turun ke jalannya harus di Harkitnas. Kenapa gak di hari pendidikan atau waktu isra miraj biar sekalian orasinya jadi tausyiah. Kan enak kalau pas isra miraj turun ke Jalan, pak Joko bisa kita ceramahin biar jadi pemimpin itu kaya Rasulullah. Jalan-jalan dari Masjid Nabawi ke Masjidil Aqsha sampai langit ketujuh bukan jalan-jalan nawarin investasi, tapi memperjuangkan umatnya (nawar ke Tuhan mengenai shalat 5 waktu). Wah pasti besoknya pak Joko move on bung!

Kalau saya setuju-setuju saja, wong memang harkitnas itu momentum move on-nya mahasiswa dan pemuda kok. Tepatnya di tanggal 20 Mei 1908 diinisiasi oleh mahasiswa Stovia, pemuda-pemudi yang galau akibat berjuang secara kedaerahan mulai menyadari bahwa persatuan nasionalisme itu penting. Dalam hal ini akhirnya status jomblo kedaerahan berganti menjadi friendzone kebangsaan dan diikrarkan status berpacarannya dengan sumpah pemuda. Bahas sejarah dulu biar gak ahistoris.

Dari catatan sejarah ini, satu catatan yang harus digaris bawahi, Harkitnas hanyalah momentum. Sementara trigger-nya adalah proses perjuangan. Makanya yang saya bingung dan gak habis pikir, harkitnas sekarang kok cuma jadi momentum tanpa adanya sebuah proses yang dibangun sebelumnya dan rencana tingkat lanjut yang jelas setelahnya. Mbok ya seperti moment cowok nembak cewek. Sebelumnya ada PDKT dulu, selesai PDKT bolehlah nembak, setelah nembak kalau ga diterima berjuang lagi sebelum janur kuning melengkung, kalau diterima sungkem ke orang tua terus bawa ke KUA. Teruntuk kawan-kawan BEM, kalau kata filsuf warkop polemik mas Indi Hikam “Dochi”, diskusi dulu yang matang abis itu aksi, selesai aksi evaluasi dan bikin perencanaan strategis untuk selanjutnya.

Pada dasarnya momentum harkitnas ini harus dijadikan sebuah keberkahan, meskipun menurut fengshui saya bukan jadi berkah buat Pak Joko. Dengan momentum harkitnas ini move on untuk dulur-dulur mahasiswa Indonesia bahwa proses merupakan tonggak dasar dalam perjuangan. Jadikan harkitnas sebagai move on perjuangan bagi dulur-dulur, karena percayalah move on itu tak pernah usai. Ia bukan bom yang hanya meledak sekali dua kali, ia bagaikan piston-piston dinamis yang menggerakkan kendaraan. Jika ia usai maka usai pula amanah manusia untuk hidup.

Seabad lebih harkitnas diperingati dengan berbagai macam cara dan rupanya. Mulai dari acara-acara publik, sebar pamflet, iklan massa, turun ke jalan hingga Cuma update status. Tak masalah itu berarti kesadaran sejarah bangsa ini memang tinggi. Bukankah memang bangsa yang besar adalah bangsa yang sadar dan mau belajar dari sejarah bangsanya? Seperti Jomblo yang belajar dari mantannya.

Tentang Penulis

Azami Mohammad

Azami Mohammad

Doyan aksi meski sering dipukul polisi