Berita dan Artikel

Ini Alasan Kenapa Buruh Menjomblo

Thohirin
Ditulis oleh Thohirin

Kalau menurut saya, puncak paling menakutkan dari sebuah kekeliruan bukan hanya dampak yang timbul dari kekeliruan itu. Lebih jauh, jika kekeliruan itu sudah dianggap lumrah alias salah kaprah.

May Day akan kembali diperingati. Tapi tidak, saya tidak akan membahas salah satu hari raya paling akbar di muka Bumi itu. Saya juga tidak akan membuat opini seperti kebanyakan tuntutan yang disampaikan oleh kaum buruh. Ada hal lain—yang menurut saya—juga patut jadi perhatian terkait standar layak hidup buruh.  Dan ini yang saya sebut salah kaprah.

Sejak tahun 1806—ketika kaum buruh di Amerika pertama kali melayangkan tuntutan kepada pemerintah untuk mengurangi jam kerja—hingga kini, standar kelayakan hidup buruh selalu jadi wacana utama saat momen May Day. Mulai kenaikan upah, pengurangan jam kerja, izin cuti bagi wanita hamil dan melahirkan, dan lain-lain.

Itu wajar saja, karena selama ini buruh memang kerap diberlakukan tidak sama dengan profesi kerja lainnya; PNS, dokter, atau karyawan kantor. Saya kali pertama tahu bagaimana perlakuan yang diterima buruh saat menyaksikan film Kisah Tiga Titik. Sebuah film yang bercerita hidup buruh wanita di Indonesia.

Setelah menyaksikan film itu, saya berkesimpulan, pantas saja setiap tahun obrolan soal kelayakan hidup buruh tak kunjung adem. Meski hanya itu-itu saja, tak ada hal baru yang menarik. Padahal, dari tuntutan pengurangan jam kerja misalnya, ada salah satu kaum lagi yang jadi dapat tertolong. Mmm… nganu, jomblo. Hehe… Iya, bener lho.

Pada dasarnya, pengurangan jam kerja itu kan lagi-lagi mempertimbangkan kelayakan hidup seseorang. Karena kalo dihitung-hitung, jika sehari jam kerja 8 jam, berapa waktu yang dimiliki buruh untuk kumpul bersama orang-orang terdekat mereka? Normalnya kira-kira 5 jam (tidak dihitung waktu istirahat).

Di waktu 5 jam itulah seseorang akan berbagi kehangatan dengan orang-orang terdekat mereka. Baik istri atau suami, anak, orang tua, pacar dan sebagainya. Itu harusnya. Namun, bagi sebagian buruh yang jomblo, hal tersebut tak berlaku.

Saya punya kisah dari salah satu teman yang bekerja di sebuah pabrik produksi kendaraan bermotor. Suatu waktu, secara tak sengaja saya mampir ke tempat tinggal dia yang tidak jauh dari tempat  kerjanya. Saat itu, teman saya kebetulan sedang kebagian jam kerja malam. Dia berangkat kira pukul 5 sore dan kembali kira-kira subuh.

Satu malam menginap di situ, saya melihat ada pola hidup yang begitu berbeda antara teman saya dan saya sebagai mahasiswa. Pola yang lebih pas disebut sebagai waktu luang yang dimiliki seseorang untuk bercengkrama dengan orang-orang terdekat.

Sebagai mahasiswa, jelas saya punya waktu lebih banyak untuk mengenal banyak orang. Saya punya banyak pacar teman. Jika memikirkan hal itu saya berkali-kali mengucap hamdalah. Saya tidak bisa membayangkan betapa jenuhnya menjalani rutinitas sebagai seorang karyawan pabrik seperti teman saya itu: berangkat kerja-pulang-istirahat-berangkat kerja. Begitu seterusnya. Kapan pacarannya?

Agak lebih baik jika di tengah rutinitas yang menjemukan ada seseorang yang selalu memberi perhatian pada kita—sebagai seorang buruh pabrik. Jika tidak? Anda bisa membayangkannya dengan mencicipi sayur tanpa garam: hambar. Dan memang begitu realitanya.

Teman saya itu sudah dua tahun lebih menjomblo. Begitu pula dengan teman saya yang lain. Entah karena alasan apa. Namun, hingga kini saya masih percaya, itu lantaran tak banyak waktu yang dia miliki untuk mengenal seseorang lebih jauh.

Seandainya dia punya waktu luang lebih banyak, bisa saja dia ngajak jalan gebetannya, makan nasi goreng berdua sebelum pulang, syukur-syukur akhirnya bisa jadian. Disinilah proses kehidupan buruh sebagai manusia tidak diperhatikan, saya kira.

Tentu sebagai mahluk sosial, buruh perlu interaksi. Sebagai tuna asmara pun, jomblo perlu berbagi kasih. Karena itu sudah selayaknya negara mengurangi waktu kerja jomblo agar mereka bisa lebih banyak berusaha mendapatkan kekasih. Bisa jadi, penyebab utama kejombloan jutaan buruh di Indonesia adalah kurangnya waktu mereka pedekate sama gebetan. Bisa jadi.

Saya sudah pernah bilang, bahwa jomblo disebabkan bukan karena ada niat dari korbannya. Tapi juga karena tidak ada kesempatan. Jadi, cobalah negara untuk memahami.

Tentang Penulis

Thohirin

Thohirin

Mantan jomblo yang hampir kesepian. Sudah dua kali ditinggal nikah. Kini menjadi pria kesayangan mantan. Meyakini, bahwa jomblo adalah warga negara yang patut dilindungi dan dibela.

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    !