Berita dan Artikel

Jomblo, Karena Bawaan atau Lingkungan?

Kristiawan Balasa
Ditulis oleh Kristiawan Balasa

Pertanyaan itu muncul di benak hamba begitu saja ketika sedang iseng membaca buku-buku pendidikan. Hamba tengah duduk sendiri di kursi pojok ruangan perpustakaan dan mengambil secara serampangan buku tersebut yang membatasi punggung hamba dengan dinding. Di depan hamba, berjarak dua kursi, seorang wanita duduk menumbuk mata. Cantik, tapi bawa peliharaan. Ah!

Kita semua tahu, Paduka, setiap manusia lahir dalam keadaan jomblo. Sendiri. Menangis pula. Entah tangis bahagia karena keluar dari rahim dan punya kemungkinan untuk tidak sendiri setelahnya, atau menangis sedih sebab harus berjuang dan bersaing dengan jomblo-jomblo lain. Itu tergantung dari mana seorang jomblo yang merah, muda dan lucu memandang. Sejatinya ini paragraf sia-sia karena tak mungkin kita mengingatnya.

Seorang ahli ilmu jiwa kebangsaan Jerman, William Stern, berpendapat, bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia. Pernyataan itu tidak serta merta menjawab pertanyaan hamba di atas. Karena dalam aliran yang menganut hukum konvergensi itu, terdapat dua aliran yang saling menitik beratkan pada salah satu hal dari pembawaan dan lingkungan. Adalah suatu kesulitan memilih antara keduanya untuk menarik kesimpulan, seperti (maaf, mblones a.k.a jomblo ngenes) memilih gebetan yang sama cantik baiknya. Sulit, dan sebab sebagian lelaki, maruk.

Aliran pertama menekankan faktor pembawaan, lebih dominan daripada lingkungan dalam perkembangan manusia. Sebagaimana yang hamba katakan di awal, manusia terlahir dalam keadaan jomblo, lalu, apakah lantas menjadi jomblo seumur hidup? Tentu saja nyatanya tidak.

Aliran kedua menganggap faktor lingkungan jauh berpengaruh dibanding pembawaan. Jomblo-jomblo yang berhimpun dan saling berkumpul dalam satu kesatuan yang menyedihkan, memang bisa saja saling berusaha mempertahankan lingkungannya. Fakta bahwa mereka yang mempunyai pasangan lantas melupakan teman, memang benar. Datang, cuma kalau lagi galau doang. Memang tidak semua begitu, ada yang datang kalau lagi butuh uang.

Akan berbeda jika jomblo dalam suatu lingkungan—teman nongkrong—menjadi minoritas. Kumpulan teman yang sudah berpasangan bisa saja menjadi motivasinya untuk ikut serta mencicipi rasa kaum mayoritas. Kesal karena terus menerus diejek, dan menjadi obat nyamuk akan luap seperti lahar muntah dari perut gunung api. Tapi, kadung tak punya bakat selain jomblo, bisa saja itu justru menjadi beban mental bila tidak ditangani secara mendalam. Ini masalah serius, Paduka!

Lalu, siapa yang lebih unggul dari siapa? Pembawaan atau lingkungan?

Ada satu hal yang terlupakan dalam hal ini. Perkembangan manusia, entah ia menjadi jomblo atau tidak, bukan seperti ilmu kimia. Jomblo bukan perkara bawaan lahir atau pengaruh orang lain. Manusia—terlepas ia jomblo atau bukan, memiliki akal pikiran yang (seharusnya) dimanfaatkan dalam proses perkembangan. Bukan tok tok ngikut nasib. Cara berpikir dan aktivitas punya peranan penting.

Mikirnya jadi jomblo ngenes, tiap hari meratap, kok mau punya pacar. Bukan begitu, Paduka?

Tentang Penulis

Kristiawan Balasa

Kristiawan Balasa

Pekerja Teks Komersil. Kadang ngetwit di @balasaJr sambil lepas tangan satu.