Curhat

Jomblo Penggerutu

Kristiawan Balasa
Ditulis oleh Kristiawan Balasa

“Sudah jomblo, penggerutu pula!”

Kalimat itulah yang sering muncul dalam benak hamba setiap kali melihat beberapa teman jomblo yang update status perihal keluh-kesah mereka sebagai jomblo di berbagai media sosial. Hamba merasa, perasaan ndak gini-gini amat jadi jomblo.

Mereka—jomblo-jomblo lil alamin itu—sering dianggap kaum sudra. Menurut hamba, anggapan itu disebabkan oleh diri mereka sendiri. Bukan hamba bermaksud sombong atau bersikap riya’ karena tidak terjerembab dalam lubang hitam kejombloan yang ngenes. Hanya saja, cara-cara mereka kurang elegan. Tidak seperti Gus Mul yang menjadikannya sumber keberkahan. Sebab mereka lebih sering menjadikannya sebagai alasan pemakzulan terhadap diri sendiri.

Adalah jomblo dijadikan alasan skripsi yang tak lancar, rindu yang memeluk sungkan, sampai utang tak terbayar. Adalah mengeluh menang tampang kalah dompet, sering nge-chat cuma di-read, sampai percaya dan membikin quote-quote sendiri yang melas dan melankolis. Tidakkah itu memuakkan, menunjukkan kelemahan, yang justru tak mengundang lawan jenis untuk datang? Bukankah kita adalah apa yang kita pikirkan?

Dalam salah satu bahan pendidikan karakter yang pernah hamba baca, ada sebuah petikan yang kurang lebihnya berbunyi begini:

“Semua yang kita lakukan bermula di dalam pikiran kita. Bila kita memikirkan pikiran yang benar, maka kita akan melakukan tindakan yang benar. Jika kita berpikir jelek, maka kita membentuk diri kita menjadi jelek.”

Negara memang tak menjamin hak-hak jomblo. Tak satu pun undang-undang kita mengatur tentang tuna-asmara. Hal itu membuat jomblo harus berjuang lebih keras untuk tetap eksis dan tidak dipandang sebelah mata dalam kehidupan bermasyarakat. Dan, tentu hal itu tidak bisa diwujudkan dengan keluh-kesah, sedu-sedah.

Sikap seperti itu justru akan membuat sugesti bodong pada diri sendiri akan apa yang dipikirkan. Menghilangkan percaya diri dan menjadikan hati semakin kecil. Hati yang kecil, mau dibagi dengan orang lain? Kalau hamba diberi, pastilah hamba tak ingin. Bagaimana mungkin bersama-sama menjalani waktu dengan dua kepala, dua hati, bila tak ada kebanggaan diri?

Bahagia seorang insan, baik sebagai jomblo atau manusia ganda campuran, adalah tanggung jawabnya sendiri, bukan orang lain. Cukuplah sudah menjadi jomblo penggerutu. Bertobatlah! Hijrah dari kesesatan lubang hitam kengenesan, kemudian menjadi jomblo digdaya yang bercahaya. Bukahkah setiap orang lebih senang menuju terang?

Sebelumnya maaf, Paduka, apa hamba terkesan menggurui? Jika iya, sesungguhnya hamba hanya mengikuti Paduka—jomblo-jomblo adikuasa—yang  sering memberi petuah kepada jomblo menengah ke bawah.

Harap maklum.

Tentang Penulis

Kristiawan Balasa

Kristiawan Balasa

Pekerja Teks Komersil. Kadang ngetwit di @balasaJr sambil lepas tangan satu.

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    @