Berita dan Artikel

May Day dan Relevansinya dengan Marrie Day

Fajar
Ditulis oleh Fajar

1 Mei telah usai kita peringati, ribuan manusia turun ke jalan, mereka adalah sisa-sisa pejuang keadilan dari relasi buruh-majikan. 1 Mei yang dijadikan hari buruh sedunia ini kerap dijadikan senjata untuk melawan kesewenang-wenangan kapitalis dan pemerintah dalam mengeksploitasi buruh yang notabene manusia biasa itu. Yah kesenjangan buruh dan para pemodal memang kian menganga, buruh hanya dianggap sebagai faktor produksi tanpa mendapatkan apresiasi yang memadai dari perusahaan. Imbasnya buruh tak bisa lepas dari bayang-bayang mantan kemiskinan, sementara si pemodal melejit meninggalkan daratan.

Satu kasus yang cukup menjelaskan betapa diskriminasi kaum buruh amat terasa adalah saat kaum buruh harus menanggung kerugian perusahaan tanpa cukup jaminan, misal diPHP PHK, gaji ditunda, atau malah tidak dibayar sama sekali, sementara saat perusahaan mengalami surplus keuangan sedikit sekali apresiasi yang diterima para buruh. Belum lagi kalau kita menyoal buruh migran, MENGERIKAN.

Kita tentu ingat kasus Zaenab yang dieksekusi tanpa permisi, Satinah, Ruyati, dan banyak lagi buruh migran kita yang pulang tinggal nama saat mengadu nasib di luar negeri. Itu adalah gambaran betapa mengerikanya pekerjaan buruh itu. Diamlah, usah mempertanyakan di mana keberadaan pejuang kemanusiaan macam Anggun C. Sasmi, Todung Mulya Lubis, Ban Karimun Ban Ki Moon si Sekjen PBB yang mendunia itu ketika puluhan TKI menghadapi algojo mati hanya karena dirinya mempertahankan harga dirinya sebagai seorang manusia. Sudah barang tentu mereka sedang memperjuangkan penjahat narkoba hak asasi manusia di lain tempat, maklum saja penindasan ada di mana-mana sehingga janganlah kita hanya mengandalkan mba Anggun yang harus bolak-balik Jakarta-Paris untuk jadi juri X-Faktor itu.

Singkatnya, buruh kita masih jauh dari kelayakan. Gaji yang hanya upah minimum, masa depan yang tak jelas, tunjangan yang minim, jaminan keselamatan yang kecil dan lain sebagainya adalah bukti belum terjaminya kehidupan para buruh. Ironis memang, mereka yang bertaruh nyawa untuk membangun sekolah berlantai tinggi tak memiliki jaminan anaknya mampu sekolah ditempat yang berdiri dari cucuran keringat ayahnya itu. Ironis memang, mereka yang tiap harinya memproduksi beribu-ribu potong pakaian masih susah membeli pakaian. Ironis memang, mereka yang saban waktunya mendistribusikan obat-obatan masih kesulitan membeli paracetamol ketika demam melanda.

Dan yang paling mengerikan adalah penjara bernama pabrik. Pabrik menjadi penjara bagi siapapun yang bekerja di dalamnya. Betapa tidak, sepertiga hidup buruh dihabiskan di pabrik. Mereka bekerja seperti robot di bawah target cycle time yang memaksanya memacu tenaga sampai batas fisik manusia. Dalam cycle time dihitung berapa detik waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi satu item barang. Waktu dalam cycle time tadi dikalikan 7 jam kerja efektif dan perusahaan dengan tanpa rasa kemanusiaan mematok target barang sesuai dengan hasil perkalian itu.

Di tengah para pekerja berkeliaran para mertua mandor, puluhan cctv juga terpasang untuk memastikan parah buruh sempurna menjalankan peranya, ROBOT. Namun tak selesai sampai di situ, para buruh juga kerap dipaksa lembur untuk memenuhi target produksi dengan gaji lembur yang tak seberapa itu. Rata-rata para buruh menghabiskan waktu 2.900-3.500 jam dalam satu tahun di dalam pabrik. Inilah yang kerap dikeluhkan para pendemo, mereka seolah sama sekali tak diberi kesempatan untuk meluangkan waktu mencari pasangan. Ribuan jomblo terkurung dalam pabrik setiap harinya, mungkin ini jualah yang mendorong Sebastian secara heroik membakar diri dan terjun dari atap GBK sebagai bentuk protes atas jutaan manusia yang kesepian ditengah kebisingan mesin.

Semestinya wacana pengurangan jam kerja adalah yang paling utama disuarakan. Buruh harus cerdas dalam beraksi, mengintegrasikan seremonia May Day untuk meraih Marrie Day. Jam kerja yang dikurangi akan menambah jam kencan, itu artinya kesempatan para pejuang asmara untuk melanggengkan kisah cintanya semakin terbuka lebar. Bukankah cinta adalah karunia Tuhan yang suci? Bukankah karunia Tuhan adalah wajib kita cari? Lalu tunggu apa lagi? Ayo kita berjuang ditengah gegap gempita May Day untuk melanggengkan jalan menuju Marrie Day!!

Hidup Buru!! Hidup Indonesiaku!!

Tentang Penulis

Fajar

Fajar

adalah seorang pemuda desa, ia perkasa. Tekad jihadnya membulat seiring penindasan yang sering dialami kaumnya, JOMBLO.