Berita dan Artikel

Pacaran dan Mode of Production

Kholid Syaifulloh
Ditulis oleh Kholid Syaifulloh

Sudah lumrah bagi seorang jomblo mendengar hal ihwal pacaran. Mungkin baginya hal itu seperti meludah sambil menganga. Sulit sekali untuk sekedar dibayangkan, apalagi dilakukan. Bahkan saking sulitnya, membuat jomblo berselingkuh dengan fantasi dan jari jemari. Ya! Onani bisa jadi sebuah pelarian dari ketakmungkinan. Atau mungkin juga sebuah renungan, hehehe.

Mari merenung soal pacaran. Tapi jangan sambil onani, ya. Kalau biasanya ingin mengetahui soal pacaran, biasanya pertanyaan pertama adalah dari mana istilah pacaran itu berasal? Waktu kecil, aku cuma tau yang namanya pacar kuku atau pacar air, yaitu yang suka dipakai untuk mempercantik jari jemari. Biasanya dilakukan oleh wanita. Beranjak SD, yang aku pahami soal pacaran yaitu dua orang cewek-cowok yang berhubungan dekat dan suka satu sama lain. Saling berbagi kasih sayang, kadang malu-malu kadang juga berani terbuka.

Dan setelah itu, pemahamanku soal pacaran berkembang terus hingga kini mencapai bentuknya yang kompleks. Maksudnya kompleks? Ya tidak cuma saling suka, tapi juga mengandung keintiman yang lebih daripada hubungan yang lain. Punya ikatan batin yang kuat, punya chemistry yang kuat pula. Suka memberi cokelat pada hari valentine, tak kelewat merayakan tanggal-tanggal tertentu yang bagi mereka spesial. Jalan berduaan, komunikasi super-intens, bertemu keluarga satu sama lain dan yang tak kalah penting adalah pengakuan orang-orang mengenai hubungan keduanya.

Nah, ternyata dugaanku waktu kecil soal asal-usul pacaran tak dapat dikatakan meleset. Istilah pacaran berasal dari adat suku Melayu yang menggunakan pacar kuku atau pacar air pada si cewek bila ketahuan ada cowok yang tertarik padanya. Dalam adat Melayu, si cowok biasanya mengirimkan sebuah ‘tim’ untuk melantunkan pantun di depan rumah si cewek. Bila si cewek menyambutnya, maka tangannya akan ‘ditato’ dengan pacar air (dalam Melayu disebut enai) sebagai tanda bahwa mereka berhubungan. Tato itu akan hilang dalam waktu 3 bulan, sementara si cowok mempersiapkan segala hal ihwal lamaran. Jika sampai enainya hilang dan si cowok belum melamar, berarti si cewek berhak dipinang oleh cowok lain.

Itu jaman dulu. Sebelum negara api menyerang. Sekarang pacaran sudah mencapai bentuknya yang kompleks seperti sudah disebutkan di atas. Kira-kira setelah proses modernisasi berlangsung di tanah air, serta merta mengubah tatanan sosial yang sudah mapan dengan yang baru: politik, ekonomi, hukum, administrasi, dsb. Karena itu, nilai dan normanya pun berubah.

Tapi gini, mblo. Dalam proses modernisasi itu, kita harus paham duduk perkara fundamen apa yang menentukan gejala-gejala tersebut. Pada masyarakat Melayu, istilah pacaran dianggap sebagai simbol keseriusan si lelaki yang ingin meminang si gadis. Dan pada waktu itu, yang dipakai adalah enai. Kalau kini, simbolnya bisa berbentuk coklat atau cincin emas. Mengapa begitu? Ya jelas saja, dulu belum ada industri coklat dan emas, mblo. Atau dalam perkembangan mutakhir, bisa dicantumkan di Facebook, “in relationship“,  “engaged” atau yang lainnya. Jelas, Facebook merupakan hasil perkembangan cara produksi industri yang menghasilkan dunia digital mutakhir.

Dengan begitu, maka nilai pacaran itu tergantung pada kegiatan produksi materialnya. Cara produksi membentuk struktur sosial, termasuk nilai dan norma. Marx dan Engles menjelaskan terbentuknya struktur sosial. Menurutnya, ekonomi sebagai based structure menentukan suprastrukturnya yang meliputi nilai, norma, hukum, politik, ideologi, agama, dsb. Struktur ini pada lanjutannya melahirkan kelas. Kelas yang memiliki modal ekonomi (borjuis) akan senantiasa mengendalikan suprastruktur atas kelas tak bermodal (proletar). Kelas borjuis akan selalu bertindak sesuai kepentingannya untuk menumpuk modal kekayaan.

Nah, proses modernisasi di tanah air tidak terlepas dari kolonialisme Eropa yang ingin menguasai sumber daya kita, mblo. Sistem bercocok tanam dan nelayan melalui barter digantikan oleh sistem industri modal melalui upah. Sistem yang telah lama dibangun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari digantikan oleh serangkaian penumpukan modal. Dari situ bisa dimengerti, modal inilah yang mengatur segala bentuk kehidupan. Atau dalam bahasa Marx disebut kapitalisasi. Artinya, segala bentuk kehidupan yang terwujud dalam ide, tindakan dan karya mengalami komodifikasi. Apa tuh komodifikasi? Segala sesuatu yang dibentuk sehingga mempunyai nilai jual, nilai tukar, nilai pasar, dsb.

Ya, semua berpatok pada modal, termasuk pacaran. Maka dari itu, kita harus senantiasa paham bagaimana bentuk pacaran itu yang tak lepas dari perkembangan cara produksi kapital, mblo. Pacaran itu tak hadir begitu saja, tapi ada yang membentuk dan senantiasa mereproduksi, yaitu pemilik modal. Sampai hari ini, telah terjadi kapitalisasi dunia pacaran. Diproduksi pengetahuan soal apa yang dinamakan romantis itu punya pasangan, duduk di meja restauran mahal, bertukar kado, nonton bioskop dengan dandanan fashionable, BBMan, telponan, video call, update status, sindir menyindir di media sosial, beli peralatan make-up, kemeja mahal, celana modis, ke salon bersolek ria, ckckckck. Padahal dibalik itu semua adalah pemilik modal yang semakin diuntungkan karena komoditasnya laku banyak.

Jadi jomblo tidak boleh terjebak kapitalisasi pacaran. Harusnya kita bangga sebagai jomblo karena diri masih perawan dan belum terkontaminasi oleh tipu daya pemilik modal. Kalau kita para jomblo merasa inferior oleh orang yang pacaran, bisa jadi kita telah berhasil dikuasai oleh permainan kelas bermodal, termasuk cecunguk-cecunguk agen mak comblangnya. Wuih, ngeri!

Tentang Penulis

Kholid Syaifulloh

Kholid Syaifulloh

Sedang mencoba jadi aktivis jomblo