Berita dan Artikel

Pendidikan, Mantan, dan Hal-hal yang Tak Selesai

Fajar
Ditulis oleh Fajar

Hari Pendidikan mungkin memang telah berlalu, tapi diskursus mengenai pendidikan belumlah usai dan tak boleh usai. Hari pendidikan tak ubahnya mantan, yang masih saja menyisakan rindu meski ia telah berlalu. Pokoknya jangan pernah merasa selesai kalau ngomong soal mantan pendidikan. Mau HARDIKNAS kek, mau HARPITNAS kek, mau HARJOMNAS kek, sah-sah saja mendiskusikan soal pendidikan. Lebih-lebih ini menyangkut masa depan rumah tangga kita negara kita.

Berbicara tentang masa depan sebuah bangsa, rasanya sulit bagi kita untuk lepas dari bahasan mengenai pendidikannya. Pendidikan merupakan bagian integral dari kemajuan sebuah bangsa. Jika mau maju, maka sebuah bangsa mesti memajukan pendidikannya. Ini persis seperti relasi jomblo dan kegalauanya, yaitu sepaket.

Di Indonesia pendidikan mendapat perhatian khusus dari para founding fathernya. Beberapa pengistimewaan disematkan di sektor pendidikan. Mulai dari alokasi APBN yang ditentukan jumlah minimalnya, hingga pesta bikini sertifikasi guru dilakukan demi tercapainya pendidikan yang baik di Indonesia. Pendidikan adalah hak setiap warga negara, begitulah kira-kira bunyi UUD Pasal 31 ayat 1, dan bahkan di ayat 2 UUD mewajibkan negara membiayai biaya pendidikan dasar warga negaranya.  Sedap betul hidup di negeri yang biaya pendidikan dibiayai oleh negara, macam Indonesia ini! #kemudianbangundarimimpi

Setidaknya hal itu sudah diwacanakan oleh Undang-undang, perkara itu belum dijalankan dengan maksi oleh pemerintah itu perkara lain. Seperti jodoh yang sudah ditakdirkan, perkara masih di tangan Tuhan itu perkara lain. Lagian kalian kan juga tahu sendiri, Mas Anis sudah bekerja keras memikirkan bagaimana cara membuat proyek pergantian kurikulum baru agar pendidikan di Indonesia makin purna.

Pada dasarnya pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh manusia agar dapat mengembangkan diri melalui proses pemberlajaran. Tetapi pada prakteknya pendidikan telah mengalami banyak permerkosaan hingga keluar dari jalur utamanya. Yah ada banyak oknum yang menumpangi niat baik negara memajukan pendidikan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Lihat dan rasakan saja sendiri betapa pendidikan di Indonesia kini tak ubahnya dandannya jomblo di malam minggu, enggak banyak ngaruhnya.

Lah piye? Mau bilang tidak, wong katanya cendikiawan, produk unggulan dari proses pendidikan saja masih banyak yang urakan. Wakil rektor nyabu sama mahasiswinya, pejabat berpendidikan tinggi yang korupsinya jauh lebih tinggi dari pendidikanya, tawuran antar pelajar yang tak kunjung rampung macam derita yang disandang kaum Tuna Asmara itu, serta seabreg masalah menjadi cerminan masih belum purnanya pendidikan di Indonesia. Namun, kita tidak bisa menyalahkan siswa yang berperan sebagai objek pendidikan itu. Boleh dikatakan mereka adalah korban, korban dari diperkosanya pendidikan di Indonesia oleh segelintir oknum dan golongan. Mau bukti?

Pertama, soal rendahnya akses pendidikan oleh yang miskin dan kurang pintar. Untuk yang satu ini tampaknya kita semua sepakat. Akses pendidikan oleh masyarakat kelas dua ini sungguhlah amat rendah, jauh lebih rendah dari belahan baju Duo Serigala sekalipun. Jutaan anak tak sekolah lantaran tidak mampu, sementara jutaan lainya berguguran putus sekolah karena biaya pendidikan rupanya tak semurah yang diiming-imingkan sekolah saat sedang promosi. Rentetan biaya “penunjang pendidikan” akan menebas leher orang tua siswa, mulai dari uang seragam hingga infaq (baca: Iuran Faqsa) dipatok sekolah untuk mengeruk untung sebesar-besarnya.

Jadi sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih memilih mendidik mereka yang pintar dan kaya dengan alasan lebih besar liquiditasnya ketimbang mendidik yang miskin dan kurang pintar. Yap! Ini persis seperti gebetan saya yang lebih memilih dia yang cuma modus ketimbang saya yang tulus. Ini kan kampret!

Lah piye? Mestinya kan pendidikan memprioritaskan yang miskin dan kurang pintar, karena kaum itu yang jauh lebih membutuhkan pendidikan agar taraf hidupnya terangkat. Seperti gebetan yang harusnya jadian sama saya. Lah ini malah sebaliknya, yang miskin dan kurang dan kurang pintar malah dicuekin sama sistem pendidikan kita.

Berikutnya soal pendidikan kita yang parsial. Jadi di negeri kita ini seolah-olah pendidikan agar siswanya pintar dengan pendidikan agar siswanya baik itu adalah dua hal yang berbeda yang mesti dipilih salah satunya. Munculnya istilah pendidikan karakter adalah buktinya. Istilah pendidikan karakter kerap dipasang-pasangkan, kerap dicomblang-comblangkan dengan pendidikan berorientasi akhlak. Jadi outputnya adalah siswa-siswi yang berkarakter, punya atitud yang baik, dan berakhlak terpuji. Sementara isi otaknya mbuh!

Sementara pendidikan sebelumnya hanya berorientasi pada prestasi akademik, ranking, dan kecerdasan intelektual, sementara akhlaknya abu-abu seperti dua sejoli yang terjebak HTS itu loh, ndak jelas. Kayaknya ini menjawab pertanyaan kenapa sekarang banyak pejabat korupsi *eh. Mestinya kan pendidikan akademik dan pendidikan karakter adalah dua hal yang tidak bisa di-LDR-kan. Mereka harus satu padu, seiya sekata, dan seiring sejalan.

Dari kesemua yang dipaparkan di atas, rasa-rasanya ilmu yang diperoleh dari proses pendidikan di negeri kita kok sama dengan nasib mantan yang selalu dilupa-lupakan, di-enggak penting-enggak penting-kan. Padahal mestinya ilmu dan mantan adalah dua hal yang sama-sama bisa diambil pelajaranya. Keduanya sama-sama akan memberikan bekal luar biasa untuk proses kehidupan berikutnya.

Proses pendidikan mestinya harus diaplikasikan secara menyeluruh dan utuh, tidak setengah-setengah seperti di banyak tempat di negeri kita. Di mana anak yang terlambat ikut ujian Pendidikan Agama karena menolong nenek-nenek yang jatuh di jalan tidak lulus, sementara temanya yang memilih untuk meninggalkan si nenek malah mendapat nilai sempurna. Akhirnya kita mesti berjuang agar pendidikan di negeri ini semakin jujur, pelajaran dan ilmunya disampaikan sampai secara utuh tanpa harus buru-buru karena harus segernya menyetor nilai. Seperti kita berjuang untuk menemukan jodoh yang masih di tangan Tuhan.

Tentang Penulis

Fajar

Fajar

adalah seorang pemuda desa, ia perkasa. Tekad jihadnya membulat seiring penindasan yang sering dialami kaumnya, JOMBLO.