Berita dan Artikel

Perangkap Motivasi Indah dan Jomblo Status Quo

Mbah Nyutz
Ditulis oleh Mbah Nyutz

Jadi begini, mblo. Mungkin engkau bertanya-tanya, mengapa status jomblomu seakan mengandung formalin? Engkau telah berusaha move on, tetapi tak jua engkau temukan kekuatan yang cukup untuk bergerak meninggalkan status jomblomu. Tentu ada banyak sebab, dan biasanya engkau akan mengaitkan kegagalan move on ini dengan hal-hal yang buruk di luar dirimu.

Tetapi pernahkah engkau berpikir bahwa seringkali kegagalanmu mengentaskan kemiskinan asmara ini, boleh jadi, salah satunya disebabkan oleh kegemaranmu menghibur diri dengan kata-kata motivasi yang indah dan diam-diam kau yakini hingga meresap ke alam bawah sadarmu?

Maksudku begini. Ya, aku tahu engkau mungkin gemes karena kegiatan bully jomblo nyaris terjadi hari dan bahkan merajalela di setiap akhir pekan. Sangat mungkin bully itu bisa membuatmu sedih, galau, mumet, sebel dan kemropok di hati. Akibatnya engkau akan mencari-cari penghiburan yang bisa membuatmu tenang sejenak.

Maka kadang engkau menelan mentah-mentah kata-kata motivasi yang indah. Atau membuat puisi sendu tapi terkesan meredakan kegundahan, sajak-sajak yang seakan menyadarkanmu bahwa tak semua hal buruk adalah buruk pada akhirnya. Itu bagus. Tetapi, yang tak engkau sadari adalah setiap kata indah itu bagaikan pisau bermata dua. Mari kita coba menelisik lebih dalam. Tetapi jika engkau bertekad menjadi jomblo permanen, abaikan analisis ini dan berhentilah membaca sampai di sini, karena analisis ini mungkin terasa seperti jamu: pahit.

Teks sebagus apapun, dalam kasus jomblo pada khususnya, boleh jadi akan ditafsirkan sesuai mood. Apalagi jika engkau termasuk golongan jomblo terlampau baper (“bawa perasaan”), maka kata-kata yang indah itu justru menjerumuskanmu lebih parah ke jurang keperihan dan memperlambat upaya move on jika engkau tidak kritis dan rasional. Maka kata-kata indah pelipur lara menjadi bumerang, atau dengan kata lain, dengan memparafrasekan seruan Karl Marx: “kata pelipur lara nan indah adalah candu bagi jomblo.” Coba perhatikan ini sajak yang ditulis di status facebook dari sosok yang mengaku mantan playboy:

“Nona, jangankan berada di dekatmu. Melihat kau tersenyum dari jauh saja sudah membuatku bahagia. Karena yang dekat belum tentu saling terikat.”

Jika engkau membaca ini saat terpuruk dalam kegagalan asmara, maka sajak ini boleh jadi malah membuatmu gagal move on tanpa engkau sadari. Engkau akan berpikir bahwa rupanya tak perlu berjuang pedekate untuk bahagia, sebab melihat senyum dari jauh saja sudah bahagia. Jadi buat apa pacaran? Engkau bisa bahagia dalam kesendirian di kamar sunyi sepi sendiri dengan melihat fotonya yang tersenyum.

Lalu, engkau menambah justifikasi dengan anggapan bahwa yang dekat belum tentu terikat. Jika level baper-mu adalah baper tingkat provinsi, maka engkau akan merasa bahagia sendiri, karena terhibur dengan anggapanmu bahwa mencintai seseorang itu seperti naik angkot – jauh dekat sama saja. Akibatnya engkau kurang semangat ikhtiar atau malas berjuang demi asmara.

Ini mengaburkan kemungkinan lain yang lebih besar probabilitas kebenarannya: bahwa, jika yang dekat saja belum tentu terikat, apalagi yang jauh? Kecuali, tentu saja, engkau nekat memaksakan keterikatan dari jauhmu dengan cara menggunakan ilmu pelet. Nah, engkau terkelabui oleh kata-kata indah sehingga gagal melihat dari perspektif yang berbeda. Supaya lebih jelas berikut sedikit contoh bahayanya kata-kata pelipur lara, yang jika sampe kecanduan dan tak kritis, bisa membuatmu jadi jomblo permanen.

  • “Sebab cinta tak mesti bersatu.” Jika prinsip pelipur lara ini kau pegang teguh, besar kemungkinan engkau akan jadi jomblo selamanya.
  • “Di alam kubur engkau tidak akan ditanya ‘siapa pacarmu?’ atau ditanya apakah engkau jomblo atau tidak.” Itu betul, namun apakah engkau akan menjomblo sampai ke liang kubur? Pikirkan baik-baik.
  • “Jomblo bebas dari dosa selingkuh, sebab tidak punya pasangan.” Are you serious? Faktanya, banyak jomblo yang berselingkuh dengan “tante tari” (tangan tengen tangan kiri).
  • “Jomblo itu bebas merdeka, tidak ada yang melarang ke sana ke mari. Tidak ada kewajiban jaim di depan pacar.” Itu betul, tetapi ingat harga yang harus dibayar untuk kebebasan ini. Melihat teman-temanmu saling menggenggam jemari dengan pasangan, sedang engkau mengenggam smartphone? Saat yang berpasangan makan soto bersama, engkau duduk sendiri memesan soto dengan nasi terpisah dengan harapan pasangan-pasangan itu kelak akan berpisah. Benar engkau tak perlu jadi tukang ojek pacar, tetapi apa nggak ngenes jika engkau menjadi tukang ojek teman saja dan cuma diberi ucapan terima kasih? Saat pulang kampung lebaran, hidupmu tidak tenang karena deg-degan jika ditanya-tanya “mana calonnya?” “Kapan nyusul nikah?” Atau lebih buruk lagi, engkau akan diperbudak menjadi babysitter, dititipi momong ponakan-ponakan.
  • “Jomblo akan lebih hemat karena tak perlu nelpon atau saling menanyakan kabar via handphone.” Boleh jadi iya, tetapi di saat temanmu bergegas mengecek handphone karena ada suara notifikasi pesan sms/BBM/Whatsap dari kekasih, engkau juga begitu, tetapi itu pesan dari operator yang menawarkan promo atau, broadcast promo MLM/dagang online via BBM, atau lebih buruk lagi, pesan dari “mama minta pulsa” atau sms dari nomor 0809 yang merayumu nelpon mesra dengan pulsa premium.
  • “Bukankah banyak tokoh besar adalah jomblo, seperti Tan Malaka?” Ini dalih bagus, tetapi ingat, apakah sumbangsih hidupmu sudah sebesar sumbangsih kehidupan Tan Malaka? Jika engkau hanya jomblo bagaikan butiran debu, apakah layak membanding-bandingkan diri dengan tokoh-tokoh revolusioner semacam itu?
  • “Tuhan itu maha esa tanpa pasangan, dan jomblo mengikuti jejak-Nya dengan tetap sendiri saja.” Ini terdengar religius. Tetapi tak berlaku bagi jomblo muslim. Ingat bahwa yang maha esa hanya Tuhan, dan engkau bukan Tuhan. Jika engkau menjomblo terus, engkau hendak menyaingi kemahaesaan-Nya, itu jadi syirik. Masuk neraka, digebuki malaikat. Hati-hati.

Tak perlu kuberi contoh lain, silakan renungkan sendiri sebagai ikhtiarmu untuk menjadi jomblo yang kritis dan berwawasan ke depan. Kata-kata bagus tak selalu berdampak positif bagi kemajuan asmara. Menjadi jomblo militan tentu boleh saja, tetapi harus progresif, dalam arti seharusnya menjadi pribadi jomblo yang high quality sehingga bisa melakukan progress dalam urusan asmara.

Jika tidak bisa, dan urusan asmaramu macet total, engkau bukan jomblo progresif, tetapi jomblo stagnan, mandeg, tidak berkembang, status quo, tidak revolusioner – ringkasnya, menjadi jomblo tahan lama. Dan ini menyebabkan, meminjam kata mantan playboy di artikel tentang alasan mesti move on, “akan selalu ada mantan yang tertawa, ketika kamu masih men-jomblo dalam kurun waktu cukup lama.”

Sebel kan mblo? Jadi, wahai jomblo sedunia, cemungud eaaa!

Tentang Penulis

Mbah Nyutz

Mbah Nyutz

Kakek penyayang semua jomblo. Bisa disapa di @eMbahNyutz