Curhat

Seruan untuk Berani Menyatakan Perasaan

Harvi Fikri Ramesa
Ditulis oleh Harvi Fikri Ramesa

 jombloo-nembak

“Hidup terlalu singkat untuk kamu lewatkan tanpa mencoba cintaku.”

Tulisan ini dibuka oleh sebaris lirik lagu dari Sheila On 7 yang berjudul ‘Terlalu Singkat’. Ini adalah cerita tentang bagaimana perasaan-perasaan yang kandas yang tidak kunjung menemukan tempat berlabuh. Korelasi lagu ini adalah bagaimana memperjuangkan cinta itu tidak semudah kita membuka bungkus permen. Kita tidak harus menyerah dan lantas mundur bila perasaan itu tidak kunjung menemukan rumah yang tepat.

Para jomblo yang gagal mbribik perlu mendengarkan lagu ini. Kenapa saya menyarankan untuk mendengarkan lagu ini? Karena lagu ini akan menimbulkan suatu keyakinan dan bisa jadi semangat juang untuk tetap satu langkah pembebasan menuju pencerahan yang diidam-idamkan para kaum jomblo di seluruh dunia, termasuk saya juga sih.

Kegagalan dalam mbribik, dan juga bertepuk sebelah tangan, bukan alasan bahwa kita harus kalah, lalu lantas kembali lagi mengingat-mengingat masa lalu yang belum tentu indah banget. Bila kita hanya terjebak di masa lalu, tentunya akan sulit dan perjuangan kita tentunya akan mudah dipatahkan. Karena hanya berpaku pada cara-cara yang jumud dan cenderung taklid. Ini berbahaya, apalagi bila mindset kita dalam mbribik dipenuhi paradigma mantan-oriented.

Kebangkitan Nasional sudah berlalu, tapi semangatnya masih koheren dengan hari ini dan juga hari-hari selanjutnya. Apalagi untuk para jomblo. Ada momentum dalam peringatan kebangkitan nasional ini untuk jomblo agar menuju dan menjadi suatu gerakan yang bersifat Revolusi Mental untuk melakukan kerja-kerja pembebasan (baca: mbribik). Dan dengan hasil tidak akan bertepuk sebelah tangan.

Kebangkitan nasional bisa menjadi suatu tonggak bagi jomblo yang akan menembak gebetannya. Itu bagus, bahwa semangat kebangkitan nasional telah terpatri di jomblo-jomblo yang akan melakukan hijrah dari jomblo menuju tatanan pacaran. Bila kebangkitan nasional dijadikan pedoman untuk melakukan suatu pembebasan seperti itu. Tentunya akan memunculkan preseden yang baik di antara para jomblo-jomblo yang lainnya. Memang tidak akan mudah, tapi apa salahnya kita harus mencoba dulu, bukankah hidup yang tidak dijalani tanpa mencoba dan menanggung resiko merupakan suatu penghinaan terhadap kehendak bebas yang telah Tuhan kasih kepada kita.

Saya sebagai jomblo menyerukan kepada kaum jomblo se-dunia, bahwa perjuangan untuk kerja-kerja pembebasan sudah dan akan seterusnya menjadi gerak dari dunia ini. Maka dari itu dengan segala keterbatasan kita, dan dengan serta semangat para pahlawan. Bahwa kita tidak akan pernah berhenti untuk menyatakan perasaan dan mbribik dalam menjadikan sutu hijrah ke arah kehidupan yang banyak dimimpikan oleh para kaum jomblo. Dengan momentum hari Kebangkitan Nasional, bahwa akan menjadikan suatu titik balik dari perjuangan kita semua. Selamat berjuang, mblo.

Dan lirik di atas bisa dijadikan ode untuk sedikit meyakinkan gebetan terhadap kita (para kaum jomblo). Di situ ada harapan dan juga jaminan terhadap perasaan yang akan kita utarakan.

Eh, btw, ternyata ditolak di hari kebangkitan nasional itu maknyes juga yaa. Tapi gapapalah, namanya juga perjuangan.

Tentang Penulis

Harvi Fikri Ramesa

Harvi Fikri Ramesa

Seorang mahasiswa semester 4 yang masih sendiri, tapi tidak apa-apa. Karena sendiri adalah suatu kemewahan yang dimiliki oleh pemuda. Hidup pemuda, dan hidup mahasiswa. Hidup rakyat Indonesia. Bisa ditemui di twitternya @Real_Harvi22