Curhat

Wawancara Nabi Dave

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Dalam dunia tulis-menulis, tak ada syak lagi bila editing adalah bagian paling membosankan dan melelahkan. Bukan karena kita harus membaca ulang tulisan yang telah rampung. Melainkan melawan keyakinan, bahwa tulisan yang dihasilkan memang telah sempurna.

Sebab itulah dibutuhkan editor. Seorang yang dengan ikhlas merelakan waktu dan hatinya, untuk berlama-lama mengoreksi naskah. Kata per kata. Kalimat per kalimat. Seperti kepoin sosmed mantan. Meski rasa sedih dan marah kerap menghampiri, tak ada alasan untuk tak menuntaskannya.

Maka beruntunglah saya, 7 Mei lalu, dapat bertemu dan melakukan wawancara singkat dengan Dedik Priyanto alias Nabi Dave. Editor Moka Buku yang tak kunjung melupakan mantan yang tengah naik daun itu.

Berikut adalah transkrip hasil wawancara saya dengan Nabi Dave:

Selamat malam Ya Nabi, bagaimana kabar Anda? Nampaknya Anda semakin makmur saja?

Selamat malam. Ya, baik. Sudah ndak usah basa basi. Kayak jombloo aja. Kemakmuran biarlah menjadi rahasia saya dan Tuhan saja. Seperti jodoh. Kamu ndak perlu tahu.

Baiklah Ya Nabi. Kalau begitu saya akan langsung masuk ke pertanyaan pertama. Hmmm, kenapa sih Anda lebih memilih menjadi editor daripada penulis? Bukankah editor itu tak pernah dapat tenar, cuma di balik layar?

Sebenarnya, kalau dibilang saya lebih memilih editor daripada penulis sih nggak juga, Bung. Sebelum jadi editor saya juga menulis, bahkan sampai sekarang. Seperti di majalah Surah Sastra. Hanya saja, nasib memang belum menghendaki buku saya terbit. Seperti ia belum menghendaki seorang wanita menjadi kekasih saya. Alaaaah preeeeet hahahaha

Namun, di lubuk hati paling terdalam, saya tetap ingin menjadi penulis dan melihat buku saya ada di rak toko-toko buku. Menjadi bacaan segenap rakyat Indonesia. Ah, asal kau tahu, Bung, keinginan ini sama dalamnya dengan keinginan saya untuk menikah di usia 27, kaya di usia 40, dan mati di usia 63. Semoga Tuhan mengabulkan.

Amin. Saya kira, sebagai nabi doa Anda pasti terkabul kok. Nabi kan kekasih Tuhan. Baiklah, saya kira sebagai editor Anda cukup jeli dalam memilih naskah-naskah bagus. Kira-kira, bagaimana sih naskah yang bagus itu?

Terimakasih, Bung. Anda memang benar-benar budiman. Sayang ditolak mertua hahahaha

Ya. Sebagai editor memang harus jeli memilih naskah. Maka, selain teknik, ia mesti memiliki intuisi yang kuat. Misal, ada naskah yang cukup bagus secara teknik menulis dan alur ceritanya. Itu bukan jaminan naskah itu bakal lolos. Karena, apabila intuisi saya mengatakan tidak, ya berarti naskah itu tak akan diterima.

Loh loh loh. Kok begitu Ya Nabi? Itu subjektif dong namanya? Ndak adil.

Bukan, subjektif Bung. Itu juga bagian dari SOP. Kau pernah dengar kisah soal jatuh bangunnya J.K Rowling sebelum menjadi terkenal sebagai penulis Harry Potter? Ia, terlebih dahulu ditolak oleh delapan penerbit di Inggris, karena menganggap karyanya tak layak jual alias tak bisa menghasilkan untung.

Namun, seorang editor di penerbit Bloomsbury, UK, lah yang menyelematkannya. Dengan intuisinya, ia yakin Harry Potter bakal jadi karya yang laris. Dan, tanpa perlu dijelaskan panjang lebar lagi, sudah kau lihat sendiri kan hasilnya.

Ya. Intuisi itu sama halnya kau menilai gadis saja. Yang cantik banyak. Tapi yang mak bles di hati cuma satu hehehe

Oke, Ya Nabi. Oh ya, sebagai editor kan kadang tentunya pasti ada rasa bosan ketika sedang membaca naskah. Biasanya, hal apa sih yang anda lakukan?

Betul sekali, Bung. Kebosanan itu memang pasti ada. Apalagi kalau saat memulai mood kita sudah jelek karena satu dan lain hal. Bukan cuma bosan, bisa jadi malas juga.

Biasanya, untuk melawan itu sih saya punya beberapa trik. Pertama, tentu saja menyeduh kopi pahit dan menghisap kretek. Dua anugerah dari Tuhan bagi manusia. Kedua, saya akan mendengarkan lagu dari The Beatles. Band kesayangan saya. Ketiga, dan ini biasanya saya lakukan ketika sudah benar-benar mentok, memandangi foto Viny JKT 48!

Wah trik yang sangat menarik Ya Nabi. Boleh lah nanti saya coba. Ini pertanyaan terakhir. Kira-kira apa yang membuat Anda sampai sekarang masih jombloo, eh single, eh sendiri?

Hmmm anu, Bung. Hmmmm ya…… Aduh gimana ya…..hmmmmmm karena…hmmmmm apa ndak ada pertanyaan lain yang lebih mudah untuk saya jawab? Kalau ndak ada, cari saja jawabannya di Stasiun Tugu.

Waduh. Jauh, Ya Nabi. Yasudah (sambil menyodorkan tissu) saya pamit dulu. Terimakasih atas waktunya. Maaf telah membuat anda meneteskan air mata. Selamat malam. Semoga anda segera move on.

Malam itu saya berjalan pulang dengan puas. Sungguh wawancara yang asik, pikir saya.

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B