Curhat

3 Alasan Kenapa Penulis Menjomblo

Kristiawan Balasa
Ditulis oleh Kristiawan Balasa

jomblooMungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa ada banyak penulis yang jomblo. Kepiawaian merangkai kata, tentu memudahkan mereka untuk nyekil wanita. Buat hati berbunga-bunga dan terbang sampai langit ke tujuh. Setidaknya, apabila anggota dewan kita yang terhormat juga seorang yang mengabadikan pikiran mereka dalam sebuah buku, tak perlu mengeluarkan uang sampai delapan puluh juta untuk tiga jam yang singkat.

Untungnya, para penulis yang jomblo itu tidak hedon terhadap wanita dagang mahal, dan memilih ketekunan mereka bukan untuk yang tidak-tidak. Jika ditilik, fungsi jomblo di negara ini dibagi menjadi tiga; 1) bahan bully-an; 2) kader yang baik untuk diajak turun ke jalan menggulingkan pemerintahan; 3) membangun negeri lewat aksi kreatif. Fungsi ketiga, diambil jomblo-jomblo berprinsip yang istiqomah, tidak terkecuali para jomblo yang memilih menjadi penulis atau penulis yang tetap menjomblo.

Jalan itu saya pikir bukan diambil semata-mata karena tidak ada yang peduli atau tidak ada yang mendengar apa yang ingin mereka tumpahkan. Meski sudah rahasia umum, kalau jomblo adalah pendengar yang baik dan orang yang perhatian. Mereka penyedia pundak dan telinga gratis, tempat gebetan curhat tentang gebetannya. Mereka juga peduli dan pemerhati timeline yang tekun.

Minggu lalu, saya mulai membaca Kitab Lupa dan Gelak Tawa milik Milan Kundera dan setelah melewati halaman 155, saya pikir, bisa saja, grafomania (obsesi untuk menulis buku) menjadi salah satu penyebab penulis jomblo. Obsesi mereka untuk menulis buku, jauh lebih besar dari obsesi mereka untuk punya pacar. Mengenai keadaan, memang masih bisa diperdebatkan. Entah berstatus jomblo lebih dulu, atau ingin menulis buku lebih dulu. Bisa jadi ingin menulis buku setelah menjomblo, agar mantan tahu kalau ia merugi. Bisa pula, menjadi seorang grafomaniak karena ingin punya pacar. Sebagai contoh, mungkin kita bisa bertanya pada Agus Magelangan.

Menurut Milan Kundera, setidaknya, ada tiga syarat dasar untuk mencapai titik di mana grafomania menjadi wabah di sebuah masyarakat berkembang, yakni:

Pertama adalah tingkat kesejahteraan umum yang cukup tinggi yang memungkinkan orang mencurahkantenaganya untuk kegiatan-kegiatan tak bermanfaat. Syarat pertama ini bisa saja bergeser, karena saat ini, menulis menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan. Kesejahteraan secara umum, menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, sehat dan damai. Jomblo-jomblo (penulis), berkecukupan, sehat secara lahirian, yang sakit adalah batinnya. Sendiri. Sepi. Kurang asupan kasih sayang dan tidak berdamai dengan masa lalu. Tentu itu motivasi yang baik untuk menulis buku. Menjadi penulis dan tetap menjomblo, adalah dua keuntungan tak terpisahkan.

Kedua tahap atomisasi sosial yang maju, dan perasaan umum yang ditimbulkan oleh pengisolasian individu. Satu hal yang tidak bisa kita pungkiri, adanya sistem kasta baru yang hidup di era ini. Jomblo, lebih rendah daripada kaum ganda campuran, bahkan kaum ganda putra atau putri. Jomblo kasta terendah dalam pergaulan, yang baru dikunjungi ketika mantan mengantar undangan pernikahan. Penulis yang baik, ialah ia yang mampu menjiwai apa yang ia tulis. Tak perlu riset berlebih untuk menulis dunia jomblo atau hubungan percintaan yang berakhir menyakitkan atau kisah romantis yang berakhir indah seperti harapannya sendiri.

Ketiga tiadanya perubahan sosial penting yang radikal dalam perkembangan internal sebuah bangsa. Penggulingan presiden 1998 mungkin yang paling menentukan perubahan sosial, selain gerakan-gerakan lain yang ingin mengganti dasar negara pancasila, juga gejolak-gejolak dari mereka yang mengatasnamakan agama. Dalam dunia percintaan Indonesia, gerakan itu bisa berwujud tikung-menikung, status kakak-adek yang mendapat legitimasi umum, hubungan berkawin jarak yang semakin lumrah, hingga cabe-cabean dan terong-terongan yang terjebak baper. Gejolak perubahan yang terus berganti dalam siklus-sampai-bosan dan tidak terlalu radikal. Penulis yang terlanjur jomblo, atau jomblo yang kadung grafomania, dalam lingkungan yang damai, memanfaatkan gejolak perubahan itu untuk menulis buku. Untuk apa pacaran kalau ujung-ujungnya jomblo lagi. Memang ada kemungkinan untuk menjadi manten, akan tetapi di kepala mereka, mungkin kata mantan masih memberi guncangan hebat.

Dari tiga syarat milik Kundera di atas, dapat kita lihat bagaimana grafomania menguasai para penulis jomblo. Agaknya, mungkin menurut mereka, menjadi grafomaniak jauh lebih berprinsip dan nikahable daripada sibuk berganda campuran.

Tentang Penulis

Kristiawan Balasa

Kristiawan Balasa

Pekerja Teks Komersil. Kadang ngetwit di @balasaJr sambil lepas tangan satu.

  • “Jika ditilik, fungsi jomblo di negara ini dibagi menjadi tiga; 1) bahan bully-an; 2) kader yang baik untuk diajak turun ke jalan menggulingkan pemerintahan; 3) membangun negeri lewat aksi kreatif.”

    HAHAHA. Tambah satu lagi: pacar sewaan.

  • Pemerhati temlen yg tekun bhahaha….
    Bisa aja dah ulekan gado-gado #eh

  • maria handayani

    LIVECHAT P`O`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    ###