Tips

5 Alasan Editor Buku Sangat Pacar-able

Utami Pratiwi
Ditulis oleh Utami Pratiwi

edit

Mulai sekarang, kita harus menyadari bahwa editor merupakan salah satu profesi yang sangat berjasa pada pembuatan buku, tentunya selain pengarang dan penerbit. Di balik sebuah kemasan buku yang bagus, sudah pasti terdapat perjuangan yang berdarah-darah yang telah dilalui seorang editor.

Tidak cukup di situ, editor juga sering menjadi sosok yang tidak dilihat keberadaannya. Padahal, profesi ini justru melahirkan orang-orang yang sangat pacar-able. Nggak percaya? Baca beberapa alasan berikut untuk semakin meyakinkan (pilihan) hatimu.

  1. Perhatian

Setiap editor dituntut untuk selalu perhatian. Terutama terhadap penggunaan tanda baca, EYD, kata baku, dan lain sebagainya. Tanda baca aja diperhatikan dengan baik, apalagi kalau jadi pacarnya. Sudah pasti kamu nggak akan kekurangan perhatian. Cius.

  1. Tepat Waktu

Setiap naskah pasti mempunyai tenggat waktu. Inilah yang menuntut editor menjadi sosok yang selalu on time. Tidak akan ditemui wajah menua karena PHP menunggu sebaris pesan OTW yang nyatanya On The WC. Editor, ndak gitu, kok. Mereka tidak akan membiarkanmu terlalu lama menunggu.

  1. Legowo

Jika sebuah buku best seller, tentu yang superpopuler adalah penulis. Urusan siapa editornya, pasti hanya segelintir yang peduli. Namun jika sebuah buku ketahuan acak-acakan, banyak typo, cacat logika, dan lain sebagainya, pasti orang yang paling disalahkan adalah editor. Dari sinilah, muncul istilah “terkenal atau tercemar”. Yang pertama adalah milik penulis, dan yang kedua adalah milik editor. Editor mah udah biasa diginiin, tetapi mereka tetap tegar dan legowo.

  1. Sabar

Editor juga mempunyai sifat sabar. Misalnya dalam menghadapi penulis yang ngeyelan, naskah yang mempunyai kalimat gagal paham, penulisan catatan kaki dan daftar pustaka cacat, belum lagi memastikan sebuah naskah plagiat atau bukan. Nah, kebayang, kan? Naskah aja disabarin, apalagi kamu yang jadi pacarnya.

  1. Telaten

Setebal apa pun naskah, seorang editor tidak mungkin hanya membacanya sekali. Paling tidak sampai dua atau tiga kali. Hal ini demi lahirnya buku-buku yang enak dibaca. Bayangin aja. Naskah tebal aja ditelateni, gimana pacarnya coba?

Jadi, gimana? Masih ragu menjadikan editor buku sebagai pacar?

Tentang Penulis

Utami Pratiwi

Utami Pratiwi

Mbak-mbak kantoran baik hati, sering (sok) lucu, lajang dengan seabrek kegalauan.

  • Mbak Utami, salam hormat saya untuk panjenengan…

    • telo

      modus….

    • Utami Pratiwi

      Tabique~ mas Gusmul 😀

  • Aiiihhh mbak editor galau artikelnya sangat menghiburku yang ingin jadi editor dan tetep jomblo :”)

    • Utami Pratiwi

      Janganla istiqoma jomblo, pait dek Nisa…. cius

  • Min, mau donk satu … edtor buat hatiku #ehm X”D

  • Azhar Azziz

    Mbak Utami, mungkin Editor buku lebih cocok jd istri. 🙂

    • Utami Pratiwi

      Ini memang sedang diarahkan ke sana~ hihi

      • Ahsan

        Ituloh mas Agus mbok ya direspon, mbak. Siapa tahu cocok :p

  • Hai mba… Berarti aku termasuk donk…. Wkwkwk, meskipun aku cuma editor FF, dan sekarang jadi editor proposal sementara heee. Setuju banget sama yg di atas, apalagi bagian ke 5.

    • Utami Pratiwi

      tidak ada editor yang “cuma”, dek VidyChan. salam hebat~ hueheheheheee…

  • Yuli Setyaningsih

    tulisannya bagus, kak 🙂