Curhat

Dua Hati Cukup

Erika Hidayanti
Ditulis oleh Erika Hidayanti

jombloo-danbo-art

Hati-hati menjaga hati. Kalimat itu sering saya ungkapan buat mereka yang banyak jadi pasien curhat saya atau bahkan untuk diri sendiri. Memang repot kalau sudah masalah hati. Kompleks, sulit dijelaskan pake rumus alogaritma sekali pun.

Mendengar dua hati,  pasti semuanya jadi sensitif. Eits, tapi jangan salah dulu, dua hati tak selamanya diartikan negatif. Stigma orang-orang soal dua hati itu terkadang nyerempet-nyerempet dengan mendua atau selingkuh dan lain lagi yang negatif. Padahal dua hati itu artinya ya cukup dua hati, aku dan kamu. Sama seperti anjuran pemerintah, dua periode anak cukup.

Siapa yang tak mau punya pasangan setia? Cuma aku dan kamu yang lain ngontrak. Kalau dibayangkan memang indah, tapi pada kenyataannya sulit. Ada dua tipe orang yang sulit dengan kata kalimat dua hati cukup. Pertama mereka yang butuh lebih dari dua hati dan kedua, mereka yang sulit mencari pasangan hati.

Tipe pertama tak bisa langsung kita judge sebagai orang yang tak setia. Orang seperti ini belum tentu tak setia, tapi bisa jadi karena kebutuhannya yang lebih. Terkadang, ada orang-orang yang butuh perhatian lebih sehingga satu hati saja tak cukup, ia merasa pasangan hatinya tak bisa memenuhi apa yang ia inginkan.

Kalau sudah begini memang sulit. Bukannya tak mau setia, tapi hati manusia pun bisa luluh jika terus menerus dibuat kagum. Terkadang, semua berawal dari hal-hal kecil yang bisa membuat baper (bawa perasaan). Kalau sudah begini, suasana dua hati pun bisa terganggu dengan kehadiran hati ketiga, keempat, dan seterusnya.

Tipe pertama ini sangat riskan bagi mereka yang menjalani  hubungan jarak jauh. Godaan dari kiri-kanan, depan-belakang pasti saja ada. Maka, buat kalian yang sudah mendapatkan suasana dua hati, jagalah dengan baik. Jangan sampai jadi, ada tiga, empat, dan seterusnya. Dua hati cukup. Dua hati indah. Dua anak cukup. Jangan lupa coblos nomor dua.

Tipe kedua, adalah mereka yang justru sulit untuk mendapatkan pasangan hati. Bukan berarti orang-orang di tipe ini tidak punya daya tarik. Tapi bisa jadi karena trauma masa lalu atau memang hatinya sudah tertutup dan beku untuk bisa menerima pasangan. Kalau sudah begini bisa bahaya. Hatinya bisa terlalu biasa dengan kesendirian dan akan semakin sulit mencari pasangan hati. Mirip-mirip Aditia Purnomo yang selalu gagal move on lah.

Orang dengan tipe kedua ini juga bisa jadi sulit mendapatkan pasangan hati gara-gara orang tipe pertama. Mereka yang merasa dua hati masih kurang malah mengambil jatah orang yang belum memiliki pasangan hati. Miris memang, tapi ini sering terjadi.

Bagi saya, seorang jomblo lokal alias pejuang LDR, menjaga dan mempertahankan memang bukan hal yang mudah. Komunikasi harus terus dijaga supaya hati ini tidak ke mana-mana. Sudahlah, sudah dua hati sudah cukup indah. Tak perlu banyak-banyak, dunia milik berdua akan jauh lebih indah dibanding dengan dibagi tiga atau lebih. Tapi juga terlalu menyedihkan untuk dinikmati sendiri.

Dua hati cukup!

Tentang Penulis

Erika Hidayanti

Erika Hidayanti

pejuang LDR yang kalo ditinggal jadi jomblo lokal