Curhat

Move On atau Belum Tak Akan Membatalkan Puasa

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

jombloo-move-onBeberapa saat sebelum memasuki bulan Ramadhan, beberapa orang atau lebih tepatnya beberapa kubu, sibuk memperdebatkan kapan seharusnya puasa dimulai dan tentang siapa harus menghormati siapa selama bulan suci itu. Bagi saya siapapun mereka yang terlibat dalam perdebatan itu, nasibnya lebih ironis daripada jomblo manapun. Meski mereka sering mengatasnamakan diri sebagai kaum terpelajar, terdidik, agamis, atau apalah. Sebab tak seorang jomblo pun yang akan mengumbar kesepian dengan perdebatan sia-sia. Catat itu!

Mereka harus belajar pada Cak Rusdi. Daripada ikut dalam perdebatan yang hanya akan membingungkan kaum awam, belionya lebih memilih untuk memberi edukasi tentang perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Jelas itu lebih bermanfaat. Baik bagi yang sudah berpasangan atau yang baru belajar move on.

Khusus bagi mereka yang baru belajar move on, persoalan batal-membatalkan menjadi sangat penting. Mereka senantiasa bersemangat membaca daftar perbuatan yang dapat membatalkan puasa, dengan harapan belum move on masuk di dalamnya. Mengingat, tanpa harus menunggu Ramadhan sekalipun, sesungguhnya mereka telah berpuasa. Apalagi kalau bukan berpuasa dari cinta dan kasih sayang.

Demi memutus status quo bayangan mantan, membatalkan puasa mereka anggap jalan terbaik. Setidaknya, dengan begitu mereka bisa tetap bebas menggoda mbak-mbak warung jamu. Bukan manyun di balik selimut sembari menahan lapar, lalu dengan senyum semu harus cukup bahagia mendapat ucapan selamat berbuka dari iklan sirup. Duh.

Sayangnya, dari berbagai versi daftar perbuatan yang membatalkan puasa yang mereka baca, tak satupun yang memasukkan belum move on sebagai salah satu di antaranya. Semua hanya berkutat pada hal-hal yang normatif saja seperti makan, minum, bersenggama dengan istri (biasanya bagian ini tak mereka baca), melakukan kemaksiatan, memasukkan sesuatu dengan sengaja ke lubang-lubang di tubuh, dan musyrik.

Pada akhirnya hanyalah kekecewaan yang mereka rasakan. Move on atau belum, puasa mereka tak akan batal. Artinya, mereka harus rela menyerahkan kebahagiaannya pada iklan sirup. Sedang mantan mereka, mungkin tengah berbuka dengan kekasih barunya. Astaghfirullah.

Lalu apa sebenarnya sebab move on atau belum tak masuk dalam daftar perbuatan yang membatalkan puasa?

Pada dasarnya, move on atau belumnya seseorang itu ditentukan oleh kehendak hatinya. Perasaannya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah cinta. Sedangkan, cinta adalah akar dari segala hal baik di dunia ini. Semua yang didasari olehnya perbuatan baik. Karena itu, bila ada yang mengaku mencintai, namun pada akhirnya menodahi, sesungguhnya ia tak cinta. Melainkan terjebak hawa nafsu.

Sementara, inti dari berpuasa adalah menahan nafsu. Bukan menahan cinta. Untuk itulah yang membatalkan puasa adalah perbuatan yang didorong oleh nafsu, bukan cinta. Sebaliknya, perbuatan yang didorong oleh cinta justru mendapat keutamaan yang lebih di bulan Ramadhan. Misalnya berzakat, yang didorong kecintaan pada sesama.

Memang cinta tak selalu menyenangkan. Dalam mencintai Allah di bulan Ramadhan, kita meninggalkan seluruh hawa nafsu, yang berarti kesenangan duniawi. Padahal kita tengah mencintai Allah tanpa menduakannya. Ihdinassirotol mustaqim.

Begitupun bila kita benar-benar ingin mencintai kekasih, calon kekasih, atau mantan kekasih kita. Mesti dengan pegorbanan. Meskipun, itu artinya kita harus siap mengesampingkan kesenangan pribadi kita demi kesenangannya. Seperti melihatnya berbuka dengan kekasih barunya, sedangkan kita hanya berteman acara komedi Ramadhan yang membosankan.

Namun, percayalah, di bulan Ramadhan ketika segalanya dilipat gandakan, tak hanya kegundahan yang berlipat rasanya, tapi juga kebahagiaan. Dan, kegundahan yang kalian rasa sekarang hanyalah cara Allah menambah pahala puasa kalian. Tak ada puasa tanpa lebaran. Begitupun tak ada kegundahan tanpa ratapan kebahagiaan.

Move on memang tak semudah membaca tiga kali al-ikhlas, dan balikan lebih sulit lagi. Jadi, bersabarlah. Adzan maghrib pasti berkumandang pada saatnya!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian