Curhat

Rindu dan Hal-Hal Yang Melibatkan Perasaan

Candra Malik
Ditulis oleh Candra Malik

jombloo-rinduPanggung Q-Academy spontan menjadi heboh ketika saya menghadiahkan buku kepada Ramzy, satu di antara empat host kontes musik religi di stasiun televisi Indosiar. Irfan Hakim dan Rina Nose yang lebih dulu mengenal saya dari panggung lainnya, yaitu AKSI (Akademi Sahur Indonesia) — sejenis kontes calon pendakwah di kanal tivi yang sama — ingin juga mendapat buku ketiga dari empat buku karya saya itu.

Indra Bekti, host yang satu lagi; dan dua komentator, yakni Ivan Gunawan dan Soimah; serta tiga juri tetap yaitu Saiful Jamil, Cici Paramida, dan Nassar, juga menerima buku berjudul Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu itu dari saya. Selanjutnya, panggung hiburan di Bulan Suci Ramadan 1436 H malam itu menjadi marak dengan puisi Cinta dan Rindu. Kumpulan tweet #FatwaRindu mencuri perhatian dan disiarkan live.

Tapi, siapa yang tidak memiliki Rindu? Siapa yang tak mendadak puitis sejak jatuh Cinta? Di ruang tunggu artis di studio 1, Irfan Hakim tiba-tiba keluar dan melontarkan sebuah pertanyaan lugas,”Gus, berarti Gus playboy dong? Pandai bikin kata-kata indah begitu.” Saya tak hendak menulis apa jawaban saya atas pertanyaan kawan baruku itu selain secuplik saja: “Saya memelajari manusia, terutama soal perasaannya.”

Tidak sulit menulis Fatwa Rindu menjadi seakan setiap dan seluruhnya adalah pengalaman pribadi. Sebab, apa yang saya alami dan rasakan dalam Cinta dan Rindu niscaya Anda alami dan rasakan pula – meski dalam situasi dan kondisi kita masing-masing. Jika berhasil menemukan polanya, mudah bagi kita mengerti perasaan orang lain ketika ia jatuh atau bangkit dari Cinta dan Rindu. Tema besarnya selalu sama.

Selalu tentang sendiri dan sepi, atau berdua dan bahagia. Pun bisa jadi tentang orang ketiga dan hal-hal soal percaya dan curiga, cemburu dan ragu, setia dan khianat, perjumpaan dan perpisahan, serta perihal yang itu-itu saja dengan drama, alur, lakon, dan aktor yang berbeda. Karena melibatkan perasaan, tiap pengalaman menjadi khas. “#FatwaRindu yang ini gue banget,” sangat sering saya dengar.

Oleh karena itulah, Jomblo tak perlu berkecil hati. Setiap kita pasti pernah jomblo. Pernah sendiri. Jika kemudian berdua, itu juga belum tentu pasangan hidup yang cocok, pun belum pasti jodoh. Siapa tahu itu hanya sekadar lintasan pendek dalam hidupnya yang tak berhubungan dengan tema besar dari kehidupannya. Kesendirian lebih baik daripada kesepian yang bersekutu menjelma keramaian — padahal rapuh.

Tuhan memang membenci seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan. Idiom Sufi memiliki petuah penting yaitu “tidak mengenal jika tidak merasakan” dan “tidak merasakan jika tidak mengalami.” Artinya, pengalaman memang benar-benar guru terbaik. Dan menjadi Jomblo pun menjadikan Anda seorang guru. Anda mempunyai modal yang sangat cukup untuk mulai menulis pengalaman tentang sendiri, sepi, sunyi.

Saya yakin seorang Jomblo pun merasa cemburu, ragu, berharap, putus asa, tak kenal lelah sekaligus mudah menyerah, dan rasa-rasa lain yang dirasakan oleh mereka yang berpasangan. Sebab, tiap yang bernafas merasakan Cinta dan Rindu — dengan keragamannya. Jika belum memiliki pengalaman sendiri, kita bisa mendapatkan perasaan itu dari pengetahuan, pengamatan, pergaulan, dan persenyawaan yang dibikin sendiri.

Ada rasa yang sesekali muncul di benak mereka yang berpasangan: letih. Ini perasaan yang melampaui jenuh, risau, dan gamang. Mereka jenuh dengan pasangan, risau dengan orang ketiga yang hadir dalam babak-babak tertentu kehidupan, dan gamang mengambil keputusan antara bertahan dengan pasangan lama atau memilih pasangan baru. Pada saat-saat seperti itulah, menjadi Jomblo layak Anda syukuri.

Manusia berpasangan yang mengalami tiga hal di atas; yang masuk dalam satu bejana besar bernama bejana keletihan, mengenang masa-masa jomblo dengan perasaan berkecamuk. Oya, Jomblo tak selalu berkonotasi tak punya pasangan. Jomblo sah-sah saja dimaknai memiliki hubungan tapi tanpa komitmen. Jadi, punya pasangan, sih, tapi tidak benar-benar berpasangan. Dia dan pasangan semacam itu sama-sama tidak terikat.

Namun, hubungan tanpa komitmen tak bisa dituduh tidak melibatkan Cinta dan Rindu. Sebagaimana pula sebaliknya: hubungan dengan komitmen tak selalu mengenai Cinta dan Rindu. Dua rasa sejati ini dimiliki oleh setiap insan; baik ia Jomblo atau manusia berpasangan. Baik dalam hubungan dengan maupun tanpa komitmen. Hanya diri sendiri yang sungguh-sungguh tahu mengenai apa yang kita rasakan, bukan orang lain.

Di sinilah letak penting seorang teman dalam hidup kita. Teman yang mengerti kesendirianmu, dalam sepi dan ramai. Teman yang bisa menjadi sahabat tanpa  harus menjadi pasangan. Kalau kelak di kemudian hari teman Anda itu menjadi pasangan Anda, kalian berdua sudah mengalami perjalanan panjang untuk saling mengerti maupun saling tidak mengerti dan saling bertahan untuk tetap saling menemani. Indah, bukan?

Jomblo tidak benar-benar sendiri, kok. Atau tidak harus selalu sendiri. Banyak Jomblo lain selain Anda. Eh, maaf, itu jika Anda memang Jomblo ya. Jika Anda berpasangan, saya harus mohon maaf lagi karena sempat menengarai pembaca tulisan ini adalah Jomblo. Tentang mengapa saya tak menulis ini dengan bahasa yang mendayu-dayu, atau dengan kata-kata Cinta dan Rindu, itu ikhtiar saya menjaga perasaan Anda.

Tentang Penulis

Candra Malik

Candra Malik

Praktisi Tasawuf yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan