Curhat

Jangan Sok Bicara Kemanusiaan

Ananda Ahmad
Ditulis oleh Ananda Ahmad

jombloo-mmulutJomblo tobat cari pasangan. Waria tobat jadi laki-laki lagi, tapi itu pun kalau dia minum extrajoss dan airnya sampai tumpah. Bahkan jomblo akut yang sudah bertahun-tahun kesepian, yang tingkat mendalami dan menghayati kesunyian sudah jauh melampaui keyakinan para jomblo makrifat, tetap saja terpikat oleh lawan jenis. Lah kamu, yang baru satu dua kali dikecewakan, kok ya mudah banget mengatasnamakan kemanusiaan?

Menyoal LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di America sono, kemaren pada koar-koar menyebut “Berjihad di tanah Arab sana saja bisa, masa menjadi pendidik di negeri sendiri enggak bisa?” Sebentar. Sekarang saya tanya: kamu pro Amerika? Tapi banci yang ngamen buat menafkahi—entah kehidupan siapa saja—tidak membikin kamu tertarik, atau bahkan (maaf) jijik sekadar memberikan uang receh kepadanya. Padahal kamu pun tahu, misal kamu kasih duit goceng atau ceban, mereka langsung menyanjungmu ‘ganteng’ atau ‘cantik’.

Nyelip di mana rasa kemanusiaanmu, wahai antek-antek cinta yang neolib?

Harfiahnya sebuah pernikahan adalah membangun sebuah hubungan sepasang manusia dengan adanya status pernikahan. Lalu negara mengesahkan hubungan itu lewat buku nikah. Membangun pernikahan artinya membangun sebuah keluarga baru, di mana terdapat suami yang berperan sebagaimana hak dan kewajibannya, juga istri yang insya allah enggak lagi bikin kita gigit jari seperti saat kamu naksir pacar orang.

Ketika kasus pembunuhan gadis cilik bernama Engeline masih tampak di layar kaca televisi, mampukah kamu membayangkan jika kelak Duo Pedang macam Bang Ipul dan Mbak Nassar, tiba-tiba menggelar resepsi pernikahan, kemudian televisi-televisi swasta nonstop menyiarkan tentang hal tersebut, melebihi pernikahan Kak Raffi dan Kak Gigi, atau bahkan melampaui betapa hebohnya nujuh bulanan Mas Anang dan Mbak Ashanty, sampai-sampai membikin Mbak Syahrini patah hati? Tentu decak kagum dan jutaan tepuk tangan pentonton tidak akan membikin Menteri Agama di negara ini lantas menyetujui pernikahan sesama jenis. Nggak percaya?

Lewat akun Twitter pribadinya, Pak Lukman menegaskan bahwa ‘dalam konteks Indonesia, perkawinan adalah peristiwa sakral dan bagian dari ibadah. Negara takkan mengakui perkawinan sesama jenis’. Pak Lukman juga berharap semoga kejombloan tidak membikin orang gelap mata dan menghalalkan segala cara. Tidak lupa beliyo mengajak para jomblo supaya tidak berkecil hati karena Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Kalau ini saya ya setuju. Karena hidup menjomblo tidak melulu berpasangan dengan guling, sabun, atau tiang listrik.

Menyoal LGBT mengingatkan saya dengan JONRU (jomblo niru-niru) yang koar-koar menyuruh para mahasiswa turun ke jalan, sementara dia hanya duduk di depan HP atau laptop, lalu Facebook-an dan Twitter-an. Boro-boro baca jombloo.co, wong status di fanpage FB-nya saja selalu membikin ia terhibur saat membaca kolom komentar di akun tersebut. Tapi saya pun tidak lupa pada pepatah masa kini: statusmu harimaumu.

Biarlah di Amerika sono yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Sementara di negeri jomblo ini, kita hanya perlu menghargai keberadaan LGBT. Sebab mendiskriminasikan sebuah golongan menurut saya itu hal aneh. Tapi tak perlu sok-sokan berjuang mendukung pernikahan sesama jenis padahal rakyat Papua sana ditembaki saja tidak ada pedulinya. Jangan kemanusiaan taik kucing, lah.

Tentang Penulis

Ananda Ahmad

Ananda Ahmad

Pria kepengin gondrong, segondrong ingatan tentang mantan.

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    !

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    ##