Curhat

Kapan Kawin dan Hal yang Menyertainya

M.H.Dharmakhusala
Ditulis oleh M.H.Dharmakhusala

jombloo-stress

“Kapan kawin?” Barangkali ini pertanyaan paling mutakhir yang akan dijumpai setiap manusia dewasa di penghujung usia perak mereka. Pertanyaan yang terkadang hanya sebagai kalimat basa-basi untuk membuka dialog antar dua kerabat atau sahabat ini, akan berbeda tekanan moralnya jika dilemparkan kepada seorang yang tingkat kejomloanya telah berurat karat. Walau hanya sesimpul senyum untuk menggenapkan pertanyaan tersebut, tapi percayalah, ini akan mengganggu ketenangan batin seorang yang kau tanyai itu.

Sejatinya “kapan kawin” adalah sebuah tanya biasa saja. Seperti pertanyaan kapan kapan lainnya, kapan lulus, kapan move on, kapan naik haji, kapan ganteng, pertanyaan hanya butuh jawaban. Apapun itu, setelah terjawab, maka kelar perkara. Datangnya pun bisa saja tak terduga. Seperti pada satu malam minggu yang sunyi. Engkau sedang menyusuri rak demi rak untuk mencari buku yang kau cari di sebuah toko buku seorang diri. Tiba-tiba teman semasa kuliah menyapamu penuh rindu. Ia menggendong anaknya yang kira-kira belum genap satu tahun. Suaminya ikut tersenyum. Setelah nang ning nang ning nong obrolan seputar kabar-kabar masa silam, meletuplah sebuah pertanyaan sederhana yang membudaya “kamu kapan kawin?”.

Aku heran. Kenapa orang selalu usil dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengorek-ngorek macam begitu. Apakah ini sebuah bentuk perhatian, murni basa-basi, atau penganiayaan secara santun? Bisa kesemuanya, tergantung siapa dan bagaimana bentuk hubungan kekerabatannya dengan pihak yang ditanya.

Kalau orang tuamu yang nanya, itu jelas bentuk perhatian. Kau tentu tau, derita anak adalah derita orang tua. Padahal belum tentu sebaliknya. Bila kau jomlo, ibu bapakmu akan merasa, setidaknya dua kali lipat derita yang kau tanggung. Maka, menanggalkan jomlo adalah bentuk rasa baktimu pada mereka.

Berbeda jika yang bertanya seseorang yang baru saja kau kenal. Misalkan. Pada sebuah perjalanan kereta, kau terlibat obrolan dengan penumpang di dekatmu. Kau ngobrol hal-hal yang entah, barangkali tentang karut marut tata kelola persepakbolaan negeri ini, tentang gampangnya orang menghujat yang lain, tentang LGBT, dan akhirnya tentang status percintaan yang barang tentu terselip tanya “kapan kawin?”. Ups, sampai disini dialog agak tersendat-sendat. Engkau menceritakan manis-kecut-pahitnya menempuh jalan kejomloan. Situasi seperti ini tak perlu kau pahami sebagai tindakan represif. Karena jelas, lawan bicaramu hanya mengurai basa-basi supaya obrolan kian merekah.

Namun, inilah kiranya bentuk penganiyaan dalam balutan kesantunan. Ketika telah lama tak pernah berkabar dengan mantan kekasihmu yang, disadari atau tidak masih saja bayangannya bergelayutan di curam hatimu. Tiba-tiba Ia datang dengan kehangatan yang hampir sama seperti saat perjumpaan pertama yang membikin kedua hati saling meluruh dan jatuh berbunga-bunga. Kau dan mantan kekasihmu itu sedikit bermelankoli dalam sebuah memoaribilia kisah bersama. Kemudian Engkau terbang menyusuri babak demi babak kisah suram asmaramu, menjumput buah manis dalam pohon kasih yang pernah kalian pupuk bersama. Engkau ingin membawanya sekarang. Ingin mengulangnya lagi. Tapi naas, sayap-sayapmu berguguran saat perjalalanan pulang. Engkau tersungkur, makblekk. Tersadar bahwa benar adanya yang di hadapanmu ini mantan kekasihmu, yang buru-buru pamit pulang dan menyelipkan sesuatu, seperti undangan. Sambil tersenyum Ia menutup babak tragis, “kamu kapan nyusul kawin?”.

Sudahlah jom, barangkali memang Engkau di lahirkan hanya untuk menyusuri lorong kesunyian. Satu jalan yang penuh nilai-nilai ketauhidan. Karena kesunyian adalah situasi yang pas untuk menempuh ketiadaan. Sesungguhnya “kapan kawin” itu tidak benar-benar ada. Seperti halnya saat kau lulus kuliah. Tanpa “kapan lulus”, toh Engkau tetap akan lulus juga bukan?. Tapi, ya, beginilah. Roda kehidupan akan terus menggelinding dan orang-orang tak henti bertanya. Seperti bentol, “kapan kawin” hanya perlu kau garuk. Bentol lagi, garuk lagi. Nanya lagi, ya, jawab lagi.

“Terrus kapan kawin, inget, kesehatanmu itu loh?!”.

Tentang Penulis

M.H.Dharmakhusala

M.H.Dharmakhusala

Jomlo yang kepingin gondrong

  • maria handayani

    LIVECHAT P`O`K`E`R`V`1`T`A
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    !