Curhat

Kisruh Agama dalam Perspektif Jomblo

Jati Setya
Ditulis oleh Jati Setya

jombloo-imagine-Kasus perusakan tempat ibadah yang bermula di Tolikara hingga berlanjut ke Solo, Purworejo sampai dengan Bantul cukup mengusik nurani kejombloan saya. Setelah beberapa kali ngepoin jagad maya, saya menyadari betul perkara ini sangat potensial membuihkan konflik bertameng agama. Mulai dari politisi, ustad karbitan, sampai dengan pejuang cinta jihad agaknya gerah jika ndak ngetuit masalah begituan. Walhasil, perkara ini pun dilewati dengan event provokasi belaka. Memprihatinkan.

Memang, saat ini untuk kasus yang di Bantul itu motifnya masih diselidiki, namun saya kok mengendus bau-bau pembalasan. Lepas benar atau tidak, saya hanya ingin bilang, sudahlah. Mau berpijak dari sudut pandang agama apa pun, yang namanya membalas sebuah perkara dengan perkara buruk lainnya tidaklah dilegalkan pun menyelesaikan masalah.

Kalau ada yang masih ngeyel dengan statement tadi, yuk ngopi dulu sambil buka surah Al Araf (56): Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Anak SD pun tahu kalau balas dendam itu perkara ndak baik. Nah, sekarang kepengen jadi manusia yang dapet rahmat atau enggak, ya monggo. Keputusan ada di tangan.

Oke, sampai di sini saya bisa nebak para jomblo yang tidak sabaran kawin itu pastilah bertanya-tanya, la kaitannya masalah ini sama jomblo apa to? Gitu kan? Bagus, berarti kamu jomblo kritis.

Gini, mblo, masalah ini sebenernya mirip dengan kehidupan jomblowi-mu. Serius. Masalah balas dendam. Jomblo dalam perspektif publik diidentikkan dengan makhluk yang ngenes cinta, terseok dalam status, teraniaya dalam hubungan. Pokoknya hina dina gitu. Melasi tenan. Dan, kondisi itu dimanfaatkan oleh sekalian oknum untuk ngompori jomblo agar membuat perhitungan dengan mereka (baca: mantan, pacar mantan, gebetan, pokoknya yang pernah bikin remuk hati). Salah satu caranya, ya dengan tidak semudah itu memaafkan mereka, perlu dibuat perhitungan dulu, perlu kalkulasi. Kurang lebih gitu, ya, katanya?

Oalah mblo, hidup kok serepot itu. Mbok ya belajar dari kisah baginda Rosul sama Abu Bakar Ash-Shidiq itu. Kisah saat baginda Rosul ninggalin Abu Bakar lantaran ndak bisa nahan marah atas celaan seorang Arab Badui. Saat itu, apa coba yang Rosul bilang? “Sewaktu orang Arab Badui itu datang lalu mencelamu dan kamu tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah.” Beliau melanjutkan, “…namun, ketika kamu menanggapinya serta kamu membalas makiannya, maka seluruh malaikat pergi dan hadirlah iblis di sisimu.”

Guru besar saya, ustad @Yusuf_Mansur, sangat menganjurkan pada kita utamanya saat berdoa, agar mendoakan orang lain juga, siapa pun dia. Insya Allah, kita bakal didoain balik. Nggak tanggung-tanggung mblo, yang doain kita adalah para malaikat. Wuah, mantep kan? Makanya, pas lagi dijahatin sama mantan, misalnya, jangan bales jahatin, manfaatin tuh waktu dikelilingi malaikat buat doain orang lain banyak-banyak. Doain saya biar enteng jodoh, misalnya. Percayalah, tiada kebaikan yang akan dibalas selain dengan kebaikan pula.

Jadi, mblo, kamu ndak selalu dan emang ndak perlu kok membalas kejahatan mantan. Buat apa? Buat menggali lagi luka yang masih menganga? Stop! Itu jomblo cemen, bung! You may lose the battle but you win the war. Biarlah mantan berpuas diri menari-nari dengan kebahagiaan semunya. Malaikat tetap tahu kok, siapa yang jadi juaranya. Tsah!

Oleh karena itu, ayolah mblo, lebih bijaklah menghadapi berbagai situasi. Asah kepekaanmu. Jadilah jomblo dengan kualitas hidup satu atau beberapa tingkat di atas mereka yang pernah menganiaya cintamu. Jangan mudah goyah imanmu oleh berbagai kompor-kompor tidak bertanggung jawab. Saya yakin kok, mblo, kamu pasti bisa.

Tentang Penulis

Jati Setya

Jati Setya

Jati Setyarini. Jomblo harapan mertua. Cinta Allah, Rosul, dan kamu.

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D*8*E*B*7*E*6*B
    ###