Curhat

Lebaran, Jomblo Memaafkan Siapa?

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

jombloo-lebaranDi salah satu sudut kota yang sedang bergerak menuju ke arah metropolitan  dengan jumlah jomblo yang lumayan banyak, Sidoarjo, saya merenungkan satu pertanyaan: bila lebaran datang tepat ataupun diundur sehari, sedangkan tanda-tanda jadian itu tak kunjung terlihat, para jomblo memaafkan siapa?

Memaafkan mantan, Dul!” Sebuah suara gaib tiba-tiba muncul dan dengan sotoy-nya menjawab pertanyaan saya.

Kenapa sotoy? Ya karena ndak semudah itu jawabannya. Pemberian maaf bagi jomblo adalah sebuah perkara yang kompleks. Terlalu banyak variabel yang mesti dihitung, sama banyaknya dengan jumlah air mata yang harus dikeluarkan.

“Yowes, terus variabel yang banyak itu opo wae, Dul?” Suara gaib itu kembali bertanya.

Begini, kalau sebuah persamaan kuadrat membutuhkan minimal dua variabel, jomblo lebih dari itu. Rumus memaafkan paling sederhana bagi jomblo yaitu: jumlah mantan + jumlah pacar mantan + jumlah ditolak gebetan + jumlah ditolak mertua x jumlah hari selama menyendiri = sulit ikhlas dan move on serta terlalu banyak air mata.

Ya, memaafkan memang bukan perkara mudah. Karena maaf, seperti cinta, tak cukup di lisan saja. Melainkan harus sepaket dengan hati. Sehingga, maaf yang keluar bukanlah sekadar maaf musiman. Saat musim jadian memaafkan, pas putus dongkol lagi.

Nah, berikut adalah beberapa tahap untuk dapat memaafkan secara utuh:

Pertama, maafkanlah diri sendiri. Karena memaafkan berarti meminta maaf juga, maka cara terbaik untuk melatihnya adalah dengan memaafkan diri sendiri. Bila memaafkan dan meminta maaf pada diri sendiri saja kau masih gengsi, bagaimana dengan orang lain.

Padahal, kesalahan diri sendiri cuma satu: tidak membiarkan ia terbuka untuk sosok lain. Sedangkan, orang lain mungkin punya daftar kesalahan yang lebih banyak. Tentunya itu akan menjadi hal berat.

Kedua, maafkanlah waktu. Sebagai sebuah hal yang statis berjalan maju, tentu waktu sering kau anggap biang keladi dari seluruh sakit hatimu. Kau selalu berandai-andai bilakah waktu dapat diputar kembali, mungkin ia tak akan meninggalkanmu.

Dengan memaafkan waktu, sama saja kau sudah mampu memaafkan kesalahan paling mustahil dimaafkan. Artinya, bila waktu yang tak mungkin merubah kesalahannya saja kau maafkan, apalagi manusia yang masih bisa berubah? Jelas akan lebih mudah.

Ketiga, barulah maafkanlah orang-orang yang padanya kau kesal. Mantan, pacar mantan, gebetan yang nolak, mertua yang nolak, dan lain-lain. Meski pada kenyataannya mereka tak akan pernah merasa bersalah, dan merasa aneh ketika kau bilang telah memaafkan mereka.

Tak apa, sesungguhnya kata nabi, sebaik-baik di antara kalian yang menyimpan permusuhan adalah yang terlebih dahulu meminta maaf dan memaafkan.

Jadi, agar kau menjadi jomblo paling baik sejagad, maafkan mereka. Jangan malu datang reunian, meski harus ketemu mantan bersama pacar barunya. Jangan gengsi datang ke pernikahan mantan, meski kau tak tahan menahan air mata berlinangan.

Berlakulah arif dan legowo karena lebaran InsyaAllah akan jatuh pada tepat pada waktunya. Masih ada hari buat menyiapkan semuanya. Kalaupun memang kau benar-benar tak mampu, kau bisa absen di lebaran kali ini, bilang tak mudik pada keluarga tapi mendekam di kosan sendirian. Saya pikir itu lebih baik ketimbang menjadi munafik seperti pejabat yang maafnya hanya selebar banner di jalanan.

Selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Dimulai dari jombloo ya 🙂

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    !