Curhat

LGBT Bukan Urusanmu, Mblo

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

jombloo-danbo-art
Ciri khas anak muda (baik yang berusia muda beneran atau tidak) ialah kuatnya kehendak untuk membangun “politik identitas”. Apa itu? Menurut Judy Lattas, seorang pengajar studi-studi tentang perempuan di Macquarie University, “politik identitas” adalah “menekankan rasa keterlibatan, secara pasti dan sepenuhnya, terhadap golongan tertindas.” Pokoknya, segala apa yang “tampak tertindas” selalu seksi untuk dibela sedemikian tak terhingganya. Ya demi membangun “politik identitas” itu tadi. Soal benar atau tidak, preklah itu.

Tak heran to, seiring disahkannya pernikahan antarsejenis di Amerika, yang jelas-jelas tak ada hubungannya dengan kita-kita di Indonesia ini, geliat “politik identitas” untuk membela kaum LGBT (Lesbi, Gay, Biseks, dan Transeksual) sebagai “kaum tertindas” menguat begitu kencang. Nyaris semua platform publikasi memuatnya, dari akun-akun personal hingga media-media online-nya. Isinya ya mudah diterka: perkelahian pro dan kontra. Selebihnya yang lain, bersuara dengan netral. Atau sebodoh.

Hasrat “politik identitas” dan hotnews LGBT ini klop sekali. Aktualitasnya dapat, buah politisnya jelas. Tutup ketemu tumbu. Yang tidak ikutan membahasnya, atas dasar pandangan apa pun, atau bahkan tanpa pandangan apa pun saking kupernya, terposisikan tidak eksis, selanjutnya tidak cerdas lagi peka.

Ngehek betul, kan, orientasi dan esensi “politik identitas” ini.

Maka mari maklumin lagi bila di antara para khatib LGBT itu berderet kaum jomblo yang mengambil peran “politik identitas”-nya. Yes, kayak kamu. Ya, kamu, siapa lagi? Betapa antiknya to “politik identitas” itu bekerja.

Tetapi, ayolah, saya ingin mengajak Anda semua menepis itu dulu, untuk “terlibat” dalam “politik identitas” seputar LGBT itu. Setidaknya, anggap saja ini sejenis diskusi.

Saya akan mulai dengan mengutipkan pandangan legendaris Simone de Beauvior, filsuf Prancis yang amat besar jasanya pada feminisme Prancis. “Seseorang tidaklah dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan.” Iya, begitu. Anda bisa mengeceknya di buku Peter Beilharz, Teori-teori Sosial.

Di era de Beauvior, diskusi tentang LGBT tak memiliki tempat, sebab belum mencuat ke permukaan. Masa itu dikebaki oleh ontran-ontran relasi lelaki dan perempuan dalam struktur masyarakat dan negara. Masa di mana persepsi tentang Grand Narrative tertuntut untuk mencakup segala hal, dari teoretik hingga praktik, sebab bila tidak, ia akan dinista tak berguna.

Tetapi kini? Kita tak bisa menutup mata akan keberadaan kaum LGBT. Sekecil apa pun statistiknya di hadapan kita. Inilah latar bergesernya fokus Grand Narrative yang harus serba tahu-serba tahu itu, dari isu feminisme menuju isu LGBT.

Melalui argumennya, Simone de Beauvior jelas saja  berada di kiblat “nurture”. “Perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan.” Konstruksi sosial-politik-psikis-kultur menjadi pembentuknya, bukan adikodratinya.

Jika ditarik secara analogis, kita bisa nyatakan: “LGBT tidak dilahirkan sebagai LGBT, tetapi menjadi LGBT.”

Benarkah?

Tentu Anda sangat bisa mendebatnya. Tergantung posisi “politik identitas” yang Anda ambil. Untuk menyanggah argumen de Beauvior yang “nurture”, Anda tinggal mengambil posisi “nature”. Beres. Argumen saintifik? Ah, apalah yang tidak bisa digandulkan sekarang ini sih?

Cara melawan de Beauvior yang nurture kan menjadi sangat enteng: bahwa menjadi LGBT adalah given, bukan taken. Kodrati, bukan konstruksi. Dari langit bukan dari bumi. Lalu Anda bisa lebih mengukuhkannya dengan slogan semisal: “Jiwa yang terjebak di tubuh yang salah.”

Begitu, kan, statemennya selama ini?

Argumen manakah yang benar? Nature atau nurture? Dijamin, takkan ada habisnya. Sebab ya begitulah memang karakter benturan “politik identitas”, yang tentu bersandar pada bahu-bahu Grand Narrative untuk mengukuhkannya “seolah terbenar”.

Tenang saja, saya takkan meriuhkan debat nature vs nurture ini kok. Soal Anda, ya terserahlah mau bermakmum pada mazahab yang mana. Tiadalah yang melarang di era Presiden Jokowi yang selalu apes dinyinyirin itu.

Hanya saja, saya sangat ingin mengajak Anda kembali ke rumah, hinggap lagi di bumi, tidak terus-menerus melayang di angkasa “politik identitas”, di cakrawala Grand Narrative, agar tahu arah jalan pulang, bahwa kamu ini jomblo lho, lha kok ngabisin energi banget untuk menggeber “politik identitas” yang bukan kamu banget? Apa gunanya kamu sibuk mengurus legalisasi pernikahan sejenis nun jauh di Amerika sana, yang notabene tak hingga ke dalam rumahmu to?

Ayolah, kamu harus sedikit berani menepis cemooh Mazhab Frankfurt yang mengunggulkan filosofi  di lantai teratas dan statistik di lantai dasar; bahwa bagaimanapun sudranya rasionalitas teknis (begitu klaim Habermas), ia adalah realitas empirik.  Betapa praktikalnya menikah dengan lawan jenis kayak kawan-kawanmu yang lain di sekitarmu, ia adalah realitas empirik yang selalu dan akan selalu melingkari kehidupanmu di sini.

Eh, begini maksud saya. Contoh sederhananya begini.

Ada kawanmu yang borjuis barusan mentraktirmu ice coffee latte, beef steak, plus french-fries, dan mineral water di sebuah kafe elit. Dua jam kamu berbincang dengannya. Dalam rentang dua jam itu, kamu berada di “awang-awang” borjuisme. Kamu alpa apa pun di sekelilingmu, termasuk hujan yang meluncur deras di beranda kafe. Borjuis kok, ya ndak takut hujanlah. Malam terus melaju sedemikian pekatnya.

Dua jam pun lewat, lalu temanmu yang borjuis itu berlalu. Kini, kamu kembali ke bumi, ke parkiran, dan kamu melihat motor bututmu basah kuyup kedinginan. Kamu tiba-tiba ingat, jika motormu basah, nyetaternya sangat susah.

Ceritakan pada kami, apa yang ada di kepalamu kini?

Saat kamu takzim dengan “politik identitas” LGBT itu, kamu lupa to bahwa kamu jomblo. Kamu lalai pula to untuk menyadari bahwa apa yang kamu bela mati-matian itu adalah kejadian di Amerika, yang itu tak mungkin kejadian pada dirimu di sini. Begitu kamu selesai memposting pembelaanmu yang mati-matian, ngungun beberapa saat, kamu baru sadar bahwa kamu ternyata masih sendirian saja, kehabisan rokok, tanpa kopi lagi.

Sesuatu yang tak membumi, yang bukan kamu banget, untuk apa ya dibela mati-matian? Bukankah akan lebih efektif bila kamu memikirkan siapa yang akan kamu sanding tahun depan di pelaminanmu; bagaimana cara memulai kenalan; hingga bagaimana meyakinkannya bahwa kamulah sosok yang tepat menjadi pasangan sejatinya meski kini kamu masih luntang-lantung gitu?

Mengurusi LGBT sebagai “politik identitas”-mu kini, tentu ndak salah. Apalah yang salah di dunia ini toh semuanya bisa dicarikan argumen pembenarnya. Tetapi saya rasa akan lebih afdal bila kamu mengurusi hal-hal yang membumi, keseharian, berdaya guna jelas, terutama untuk masa depanmu sendiri. Ya mikir nyari pasangan beneran itu tadi sebagai aksi “politik identitas”-mu yang sejati, sebab itu selevel dengan memihaki keterpinggiranmu sebagai manusia berumur yang nggak laku-laku.

Kendati colekan begini bakal dicibirin sama Mazhab Frankfurt, jangan cemaslah, sebab masih ada Abraham Maslow yang akan membelamu. Beliau ini mengatakan, “Sains dan filsafat tiada gunanya bila tak memberikan manfaat nyata.” Dengan kata lain, “politik identitas” membela LGBT itu sumir banget bagimu, sebab itu bukan urusanmu, apalagi sampai membuatmu alpa pada keterpinggiran nasibmu sendiri yang selalu anyep.

Dong, kan?

Hah, ora? Walah, yo pantes jomblo mulu. Haa…

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles