Curhat

Marginalisasi Jomblo dari Sudut Pandang Jomblowers

Yulyana Mustikawati
Ditulis oleh Yulyana Mustikawati

jombloo-antiklimaksPerlu kita sadari bahwa status jomblo sering kali dipandang rendah dalam status sosial dan berdampak menurunnya produktivitas diri. Buktinya, banyak anak muda bilang alasan punya pacar salah satunya sebagai penyemangat belajar (terus, kalo jomblo kudu nggak produktif alias males?)

Status jomblo juga jadi sandangan berat buat pemiliknya hampir di setiap lini kehidupan. Sebagai contoh jomblowers yang setia mendengar curhat sobatnya tentang pacar sobatnya yang singkat kata playboy/playgirl. Sulit bagi jomblowers mendengar cerita sobatnya saat sobatnya itu mencoba mempertahankan hubungan mereka padahal semua sudah terkuak tentang pengkhianatan cinta pasangannya… Sembari mendengar curhatan sobatnya, hati jomblowers berkecamuk.. Udah tahu kalau dikhianati, disakiti, dibohongi tapi tetep mengejar status pacaran yang tidak membahagiakan (kadang-kadang dengan alasan untuk menghindari status jomblo).

Bukannya dengan kasus itu kita bisa tahu kalau pasangan kita bukan orang yang baik. Alih-alih mempertahankan hubungan tapi bagi jomblowers betapa keras usaha sobatnya untuk menjauhi status jomblo. Begitu burukkah status jomblo untuk disandang? Sebagai jomblowers kadang di situ letak kementerengan status jomblo. Jombolowers nggak punya conflict of interest saat menilai sikap seseorang. Kacamata jomblowers lebih jujur dan alami.

Status jomblo pun lebih mentereng ketimbang hanya mempertahankan status memiliki pasangan padahal di dalamnya banyak konflik-konflik yang nggak karuan. Ingat kata om Mario, wanita yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik begitu pula sebaliknya.

Oke marginalisasi status jomblo juga berlanjut saat datang lebaran dan mulai mengunjungi/dikunjungi kerabat baik dekat maupun jauh. Jomblowers lagi-lagi terusik dengan kesendiriannya, ditambah lagi pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan status jomblo. Okelah anggap saja pertanyaan tentang jodoh, pasangan, gandengan yang sering diungkapkan sanak kerabat hanyalah bagian dari tradisi yang begitu melekat sehingga tidak bermaksud secara langsung menyudutkan jomblowers.

Banyak sanak saudara yang sudah lama tak berjumpa menanyakan pekerjaan, yah, pekerjaan berkaitan dengan ketahanan pangan seseorang mengingat negeri ini pernah mengalami kesulitan pangan di masa yang laluuu. Kemudian pertanyaan berlanjut ke arah pasangan di mana jomblowers mulai nggak nyaman untuk duduk santai melanjutkan perbincangan.

Saat jomblowers mengungkapkan kesendiriannya di saat itu pula sanak kerabat seperti mengungkapkan keprihatinannya. Pertanyaan ini memang penting dan berkaitan dengan pencapaian di usia reproduktif. Tapi status jomblo juga nggak kalah keren. Paradigma keren untuk status jomblo ini agaknya perlu dibangun.

Dalam dunia kejombloannya pasti ada pencapaian yang jomblowers dapatkan. Jomblowers pasti mandiri, di saat tugas-tugas sobatnya dibantu pacar. Jomblowers juga punya jiwa kegigihan dalam memperjuangkan sesuatu. Dalam kesendiriannya jomblowers juga mengatur dirinya sendiri mulai dari aktivitasnya di kampus, pekerjaannya, keuangannya, dll. Singkat kata jomblowers punya kelebihan dalam me-manage kehidupannya.

Bisa dibayangin sobat-sobat yang pada punya pacar dikit-dikit diingetin kegiatannya sama pacarnya, sampai-sampai segala sesuatu seolah-olah lapor sama pacar. Hmmm, kemandirian, kegigihan, kemampuan memanage kehidupan yang dimiliki jomblowers bisa menjadi bekal untuk kehidupannya kelak saat berumah tangga, saat menghadapi dunia yang sebenarnya.

So.. dilihat dari fenomena ini, bisa jadi akan datang suatu masa di mana riwayat status jomblo yang pernah diemban di masa lalu menjadi indikator yang kuat dalam pemilihan jodoh (trust it!!!). Hal ini mengingat daya juang dan kegigigahan jomblowers dalam menjalani kehidupan tentunya menjadi nilai plus tersendiri.

Oke guys, stop marginalisasi status jomblo, jomblo itu keren dan terlebih lagi jomblo itu nggak dosa….

 

Tentang Penulis

Yulyana Mustikawati

Yulyana Mustikawati

Mahasiswi asal Yogyakarta