Curhat

Mendekonstruksi Wacana Pacaran

Luqman Abdul Hakim
Ditulis oleh Luqman Abdul Hakim

jombloo-chelsea-islan-demoSewaktu malam, saya tidak sengaja menemukan sebuah link website yang mengarahkan saya pada suatu tulisan yang menarik. Kalau tidak salah judulnya adalah “Pacaran dan Mode of Production”. Dalam tulisan tersebut, penulis, bung Kholid Syaifullah, menjelaskan secara singkat bahwa ternyata wacana pacaran hari ini dalam tataran teoritis dan juga praksis adalah dampak dari mode produksi kapitalisme.

Bung Kholid, yang merupakan aktivis jomblo ini mungkin ada benarnya juga ketika meminjam analisis Marx tentang unsur yang membentuk masyarakat yaitu penguasaan atas kegiatan produksi selalu mempengaruhi ide-ide yang berkembang dalam masyarakat. Seketika selesai membaca tulisan yang amat kreatif dan juga menggugah kesadaran saya sebagai seorang jomblo, saya memutuskan untuk menulis sebuah analisa lanjutan tentang wacana “pacaran”, yang hari ini, menurut bung Kholid telah ter-kapitalisasi.

Untuk melanjutkan analisa tersebut, saya akan menggunakan pisau analisis yang secara periode muncul setelah teori Marx, yaitu teori hegemoni dari Gramsci dan dekonstruksi dari Derrida. Karena setelah wacana “pacaran” ter-kapitalisasi, pada saat itu pula mulai muncul penguasaan atas segala macam pengertian “pacaran” yang menguntungkan para pemilik modal.

Lalu jika yang diuntungkan adalah pemilik modal, siapa yang dirugikan?

Tentu bagi para manusia yang punya pacar mereka mungkin tidak merasa rugi, karena mereka menganggap makan di restoran mahal, nonton bioskop, membeli coklat, dan segala macam bentuk romantis yang menjadi wacana “pacaran” yang terkaptalisasi adalah hal yang lumrah dan membahagiakan mereka dan pasangannya. Kalimat pembelaannya ketika mereka sadar uang mereka terus terkeruk oleh kegiatan romantis tersebut adalah bahwa “cinta memang butuh modal dan pengorbanan”.

Tetapi sebenarnya ada pihak yang lebih dirugikan akibat kapitalisasi pacaran, yaitu para jomblo.

Jomblo sebagai pihak yang dianggap tidak menguntungkan karena kegiatan mereka jauh dari hal-hal romantis seperti telah disebutkan diatas, bagi para pemilik modal akhirnya dipinggirkan. Definisi jomblo lantas selalu diidentikkan dengan seorang yang kesepian, orang yang berantakan, dan menyedihkan. Jomblo selalu dihina, dan dianggap sebagai liyan, karena dalam alam pikir kehidupan modern yang dikuasai oleh kapitalisme, selalu terdapat polarisasi untuk memperkuat posisi yang pusat.

Inilah yang dikritik dan dikecam oleh Derrida dan juga para penganut Postmodernisme. Bagi mereka, yang pusat sebenarnya dibentuk oleh pemilik kekuasaan dan berpihak pada yang memiliki kepentingan. Segala narasi besar selalu punya selubung ideologis yang pada akhirnya hanya menguntungkan satu pihak dan mengekspolitasi pihak lainnya. Dalam wacana “pacaran” hari ini, perentangan antara pihak yang berkuasa dan yang dikuasai terwujud dalam pertentangan pemilik modal dengan orang yang berpacaran dan juga jomblo.

Sebenarnya bukan orang yang memiliki pasangan yang menjadi musuh dari jomblo, tapi para pemilik modal. Orang yang hari ini punya pasangan pun sebenarnya adalah korban dari kapitalisasi pacaran. Hanya saja posisi mereka kadang menjadi agen yang semakin memperkokoh proses penanaman wacana “pacaran” ke alam pikir masyarakat banyak.

Untuk memperkokoh proses tersebut, maka para jomblo adalah berada dalam posisi subordinat yang paling dieksploitasi. Alih-alih saya menyetujui tulisan bung Kholid bahwa jomblo harusnya bangga karena tidak menjadi korban kapitalisasi pacaran, saya malah beranggapan bahwa jomblo adalah korban yang paling dirugikan.

Untuk orang-orang yang punya pacar, mereka masih mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan walaupun telah tereksploitasi oleh pemilik modal. Sedangkan jomblo, mereka tidak. Bayangkan, karena terpengaruh oleh masyarakat yang berpegang teguh bahwa seseorang yang bahagia adalah yang memiliki pasangan dan sering makan direstoran bersama, nonton bioskop bersama, sering berkomunikasi lewat telepon atau social media, jomblo terpaksa melakukan hal tersebut dengan gebetan yang mencuri hatinya.

Namun alangkah malang nasib jomblo, segala yang dilakukannya berakhir malang, bukan kebahagian yang didapat setelah uang habis dibelanjakan, malah sakit hati dan kegalauan akibat cintanya bertepuk sebelah tangan. Jelas, disini keuntungan pemilik modal lahir dari kapitalisasi pacaran atau dalam bahasa Marx, merupakan nilai lebih dari aktivitas jomblo.

Lalu dimana posisi orang yang sudah berpasangan dalam kapitalisasi pacaran?

Ada kalanya mereka berposisi sebagai korban yang aktivitasnya menguntungkan pemodal dan merugikan mereka. Namun, karena kesadaran yang sudah dihegemoni oleh pemilik modal, mereka menganggap aktivitas tersebut adalah hal yang lumrah dan wajar untuk membahagiakan pasangan. Tetapi ada saat dimana orang-orang yang telah memiliki pasangan ini bak menjadi aktor intelektual yang semakin mengubur kesadaran masyarakat akan eksploitasi pemilik modal dalam wacana “pacaran” yang telah terkapitalisasi.

Mereka ikut menyindir para jomblo sebagai pihak yang paling menyedihkan karena tidak mampu untuk melakukan aktivitas romantis yang terwacanakan dan mengekspose kehidupan asmara mereka di publik lewat berbagai macam media. Semuanya dengan tujuan untuk menunjukkan eksistensinya yang berada di pusat dan untuk semakin membenamkan posisi jomblo yang berada dipinggiran. Hal ini yang membuat jomblo makin berusaha keras mengikuti dan beradaptasi dengan wacana “pacaran” yang terkapitalisasi, padahal mereka tidak sedang memiliki pasangan yang harus dibahagiakan.

Untuk itu, dekonstruksi atas wacana “pacaran” hari ini menjadi penting. Kita harus menyadari bahwa segala definisi atas “pacaran” telah dikuasai dan ditanamkan hanya untuk kepentingan suatu pihak. Harus ada suatu usaha untuk kembali memaknai apa itu ”pacaran” agar para jomblo tidak lagi mengalami ketertindasan. Bahwa memiliki pasangan adalah hal yang membahagiakan adalah betul adanya, tetapi bukan berarti harus menumbalkan orang yang tidak punya pasangan hanya untuk menunjukkan eksistensi mereka yang berpasangan.

Antara yang berpasangan dan yang tidak hari ini harus bersatu sebagai pihak yang dieksploitasi. Semuanya harus berusaha mendekonstruksi wacana pacaran, karena wacana tersebut yang terejawantahkan sebagai aktivitas konsumtif yang berlebihan adalah hanya untuk kepentingan para pemilik modal. Untuk itu maka, mari bersatu untuk melawan segala macam bentuk penindasan, “Para jomblo sedunia, bersatulah!”

Tentang Penulis

Luqman Abdul Hakim

Luqman Abdul Hakim

Berupaya memaknai sendiri kata cinta