Curhat

Mendukung Berdirinya PKI

Kadin Kumala
Ditulis oleh Kadin Kumala

jombloo-tan-malaka
Saya agak sensitif bila mendengar nama PKI. Sedari bangku sekolah dasar, saya diajarkan untuk membenci nama PKI. Pokoknya semua yang ada PKI-nya. Sebab, PKI merupakan ancaman bagi NKRI dan bisa jadi otak di balik semua permasalahan umat. Jika anda diputusin pacar, curigalah kalau PKI penyebabnya.

Namun, kini pandangan saya telah berubah. Setelah menghadapi kenyataan bahwa saya hidup sebagai orang yang tertindas, maka saya harus berbuat sesuatu. Saya mesti merencanakan suatu gerakan revolusi. Ya, saya pikir ini waktu yang tepat untuk mengumpulkan segenap massa dan menegakkan bendera PKI.

Tapi bagaimana mungkin? Bila wakil rakyat macam Pak Deding Ishak, masih menyalahkan PKI atas penyerangan rumah ibadah di Tolikara. Mendengar pernyataan beliau, saya betul-betul muak. Jelas sekali bahwa beliau hendak menakut-nakuti tentang bahaya laten PKI. Padahal, menurut saya PKI adalah solusi terhebat untuk menyelamatkan saya dan manusia-manusia jomblo lainnya di negeri ini. Sebagai wakil rakyat, beliau harusnya peduli dengan nasib jomblo (jomblo juga rakyat, kan?).

Jomblo di negeri ini juga termasuk kaum proletar. Kaum kelas bawah. Kaum yang dipandang sebelah mata. Kaum yang tertindas! Selama ini kita, kaum jomblo, hanya dijadikan objek bully dan lawakan, baik di media sosial bahkan komedi stand-up (terima kasih Raditya Dika) bisa kita lihat setiap hari, terutama di malam minggu, para pemilik modal itu (baca: yang punya pacar) mengolok-olok kita sebagai “Si Pecundang” atau “Si Lemah”. Dan kita hanya diam menahan hinaan itu, sembari berdoa kepada Tuhan agar menolong nasib. Sudah cukup! Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, bila mereka sendiri tidak berusaha mengubahnya.

Yang tidak kita sadari selama ini adalah: kaum adikuasa itu (baca: yang punya pacar) mengambil keuntungan dari kita. Dengan adanya kita, mereka dapat mengangkat derajatnya. Bukankah tiada si kaya, bila tiada si miskin; tak ada si cantik, bila tak ada si jelek; tak ada status pacaran, bila tak ada status jomblo. Jadilah waktu hidup dan tenaga kita diperas pontang-panting buat cari pacar dan jodoh, hanya untuk jadi bahan tertawaan mereka.

Dan yang paling penting tanpa kita sadari, kita menyimpan potensi kekuatan massa yang hebat. Menurut perhitungan Mas Kokok Dirgantoro, setidaknya ada 30 juta jiwa lebih jomblo di negeri ini –perhitungan Mas Kokok bisa dipercaya. Walau nampak bercanda dengan tambahan tawa digital “hahaha”, sebenarnya Mas Kokok mengisyaratkan bahwa perlu didirikan sebuah partai yang menaungi kaum jomblo. Ya, maksud beliau adalah PKI.

Coba kalian bayangkan ketika PKI hidup di negeri ini, hidup para jomblo mungkin tak sengenes sekarang. Di bawah bendera partai kita akan beraksi massa, menuntut segala ketidakadilan yang selama ini jadi penyebab terpuruknya nasib jomblo. Tak boleh lagi ada yang punya pacar lebih dari satu. Tak boleh lagi jam kerja 8 jam per hari, supaya jomblo punya waktu untuk cari pacar. Tak ada lagi jomblo yang dinistakan. Sama rasa sama rata. Semua orang punya kesempatan yang sama dalam mendapatkan pacar.

Saya tahu mewujudkan hal ini tidaklah mudah. Tapi, Tan Malaka pernah bilang bahwa revolusi itu bukanlah ide yang luar biasa dan istimewa, bukan juga suatu perintah dari manusia yang luar biasa. Revolusi bisa diraih dengan aksi massa. Maka dari itu, saya himbau untuk teman-teman jomblo sekalian, mari teriakkan “kaum jomblo sedunia bersatulah!” dan bergabunglah bersama saya dalam upaya mendirikan PKI, Partai Kasmaran Indonesia.

Bukan, bukan PKI yang Partai Komunis Indonesia itu.

Tentang Penulis

Kadin Kumala

Kadin Kumala

Cuma manusia biasa. Biasa tak dianggap, biasa dilupakan.

  • Tri Em

    “Jika anda diputusin pacar, curigalah kalau PKI penyebabnya.”

    Hati-hati, Bung. Waspada, diculik aparat seperti bekas calon mertua. Bahaya. Kamu merupakan orang penting di situs ini.

    • Kadin Kumala

      Kalau Samirah ternyata intel. Aku rela, kok, dimata-matai, diculik, atau apalah.

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    D.8.E.B.7.E.6.B
    #