Tips

Menjomblolah Seperti Surat An-Nuur

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

 

jombloo-hijabJika fatwa Simone de Beauvior, “Perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan.” diqiyaskan secara ugal-ugalan pada urusan jomblomu, hasilnya begini: “Jomblo tidak dilahirkan sebagai jomblo, tetapi menjadi jomblo.”

Itu berarti kau harus yakin seyakin-yakinnya, jika perlu seyakin kau akan bisa menyambut Lailatul Qadar tahun ini, bahwa meresahkan status jomblomu hanyalah kerjaan sia-sia. Sangat tak diperlukan, sebab memang tak memiliki alasan logis apa pun untuk dicemaskan. Dan kau pasti tahu, dengan sedikit cerdas tentunya, apalah yang perlu dipikirkan dari sesuatu yang sangat tidak diperlukan.

Kini bayangkan kau sedang mandi. Untuk apa coba kamu memikirkan bagaimana cara menyabun, toh kamu sudah sangat tak perlu memikirkannya, kendati kamu niscaya menghadapinya. Dengan sendirinya, kau sudah menyabuni sekujur tubuhmu tanpa kecuali. Sesekali tititmu dengan agak lama.

Ini persis dengan statusmu yang jomblo; untuk apa memikirkannya dengan penuh kegalauan, toh kamu sama sekali tak perlu memikirkannya. Dengan sendirinya, hidupmu terus bergerak maju menempuhinya, to?

Percayalah kini, mejomblo itu bukan kok sebab kamu terlahir untuk menjomblo , tapi ia terbentuk “menjadi jomblo”. Sebuah proses hidup yang tak terhindarkan.

Jika kau terus berkutat dengan frase pertama (terlahir untuk menjomblo), sudah pasti kau akan terus galau, resah, gundah, lelah. Emangnya, semakin tinggi level galaumu, semakin parah update status-statusmu perjam, lalu  keadaanmu berubah, gitu? Kan, nggak!

Pikiran galau itu malah serupa antibiotik: kian diasup, kian menuntut dosis lebih. Sampai pikiranmu bebal, sampai tubuhmu tak lagi sanggup membedakan ini pengajian atau tongkrongan. Lihat saja status-status mereka yang melulu ngelanturin frase pertama itu, dari waktu ke waktu semakin beranjak ke level great sale. Dari membugili diri dengan perasaan yang tak jelas juntrungnya hingga share pin yang mestinya personal sekali.

Jadi segera beralihlah ke frase kedua itu (terbentuk “menjadi jomblo”).

Kata “menjadi”, sebagaimana dimaksud Simone de Beauvior, adalah “habitat”. Itu nurture, bukan nature. Sesuatu yang taken, kita ciptakan, bukan given, adikodrati.

Pertanyaannya, mengapa kau menciptakan habitat menjomblo?

Surat an-Nuur, ayat 31, memberikan jawaban naqli mengapa situasi menjomblo yang demikian sama sekali bukan pilihan yang salah, apalagi patut diresahkan. “Katakanlah kepada kaum wanita mukmin, hendaklah menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah memperlihatkan perhiasannya kecuali yang lazim terlihat….

Ada 3 clue yang dicetuskan ayat ini. Dalam kajian Dr. Abdullah Saeed, disebut “kata kunci”. Ia sangat berguna untuk memahami “moral ethic” sebuah teks, agar penyimpulan kita cespleng.

Satu, jagalah pandanganmu. Dari mata turun ke hati. Oke, ini pepatah lama yang tak terbantahkan. Jatuh cinta memang niscaya dimulai dari perjumpaan, pandangan mata. Tetapi catat, cara menatap orang baik, sekalipun ia simpatik, berbeda jauh dengan mata orang yang penuh berahi. Cara menatap orang yang berniat mencari istri beda jauh sama cara menatap orang yang berniat mencari pengganti sabun dan lotion belaka. Maka, kinerjakanlah matamu dalam taraf yang bermartabat.

Dua, jagalah kemaluanmu. Kemaluan bukan hanya soal kelamin. Titit dan vagina. Bukan. Kemaluan adalah sekujur diri; dari lahir hingga batin. Simbolisasi yang mudah direpresentasikan adalah titit dan vagina. Sehingga, logikanya, jika kau tidak memelihara simbolisasi terbesarmu itu, sejak saat itulah kau patut menyandang pangkat binatang.

Oh, come on, manusia berakal takkan memasarkan kemaluannya, bukan? Sesuatu yang disimbokan sebagai martabat, bagaimana mungkin sanggup dilecehkan?

Dalam tataran praktisnya, simbolisasi kemaluan ini bisa berupa apa saja: dari status, chat, lirikan, fashion, dan seterusnya. Maka, kata Ali bin Abi Thalib, jika kau tak lagi memiliki rasa malu, berbuatlah semaumu. Nyetatuslah semaumu; komenlah semaumu; galaulah sekehendakmu. Sampai tuek, sampai elek.

Tiga, jangan perlihatkan perhiasanmu selain yang lazim. Sengebetnya kau untuk segera digebet, plis deh, jangan tampakkan berahimu ke khalayak luas. Jika ada lelaki yang mengajakmu kenalan, plis deh, jangan tampakkan bahwa kau sangat tak tahan dinikahi. Biarkanlah ia bekerja selazimnya, naturally. Apa-apa yang natural akan menghasikan mestakung. Sebaliknya, apa-apa yang tak natural akan membuahkan anomali.

Bagaimana mungkin mestakung akan berpihak padamu bila di tengah malam kau tletek di jalanan dengan celana pendek yang sangat dangkal? Hanya para lelaki bertitit berahi, bukan cinta sejati, yang akan menjodohimu. Pikirkan, itukah pasangan yang kau idamkan guna melepas jomblomu?

Mestakung itu, dalam bahasa Islam, disebut sunnatullah. Dalam bahasa sains, disebut hukum kausalitas. Ia akan selalu bekerja jujur sesuai habitat kita. Habitmu baik, kau akan dapat pasangan baik. Habitmu great sale, kau akan mendapatkan pasangan great sale.

Lelaki rajin shalat, pintar ngaji takkan pernah mengimami cewek murahan. Pula, lelaki karbitan takkan pernah diterima oleh cewek setia yang selalu menjaga martabatnya.

Saat Tuhan mengeluarkan ayat yang menjamin setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan, seharusnya itu sudah lebih dari cukup bagimu untuk percaya bahwa pasanganmu akan datang pada saatnya. Soal ia kelak datang dalam rupa pangeran atau preman, liriklah lagi habitatmu selama “menjadi jomblo”.

Ayolah, santai saja, kau pasti tahu kok cara-cara teknis An-Nuur mengajarkanmu berhabitat “menjadi jomblo”; kau pasti mengerti kok tujuan akhir berpasangan itu untuk bahagia, bukan melepas kemaluan belaka.

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • maria handayani

    LIVECHAT P`O`K`E`R`V`1`T`A
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    ##