Curhat

Menyikapi Permohonan Maaf dari Mantan

Kholid Syaifulloh
Ditulis oleh Kholid Syaifulloh

jombloo-maafDalam hari-hari yang fitri ini, hampir semua orang melontarkan kata-kata permohonan maaf. Dari saudara, kerabat, gebetan, juga mantan. ‘Mohon maaf lahir dan batin ya, maaf-maaf bila ada salah kata dan tindakan’. Sekiranya begitulah kalimat yang terucap. Orang yang menerimanya pun seperti otomatis menerima permohonan maaf itu karena berfikir lebaran adalah momentum saling memaafkan.

Bagi yang punya kekasih, mungkin kalimat seperti itu dianggap hal biasa. Tapi bagaimana dengan jomblo? Khususon jomblo yang pernah tersakiti oleh mantan?

Di kala takbiran atau selesai sholat Ied, dapat pesan ‘mohon maaf’ dari mantan merupakan hal ¬†unik tersendiri dalam pikiran. Itu pasti. Sebab romantisme suatu hubungan akan terus membekas dalam ingatan. Juga hubungan dengan mantan. Apalagi pernah disakiti, diselingkuhin, diputusin sepihak, ditinggal kawin, dsb.

Di hari-hari yang juga ‘baru’ ini, sepatutnya para jomblo harus ‘membarukan’ pula cara fikirnya. Bukan apa, sebab masalah maaf memaafkan masa lalu jangan dianggap hal sepele seperti angin kentut. Apalagi bila masa lalu itu pahit. Bayangkan saja posisimu ada di pihak korban politik 65′ yang dipenjarakan Orba selama puluhan tahun. Di dalam penjara, kamu dapat siksaan hebat. Lalu setelah reformasi, petugas sipir sekonyong-konyong dengan entengnya minta maaf padamu soal perlakuannya dulu. Bagaimana? Membayangkannya saja mual, apalagi mengalaminya.

Kalau yang jadi korban adalah jomblo-santri pengagum Gus Dur, mungkin tinggal berucap saja dalam hati, ‘Maafkan saja, lupakan jangan! Biar jadi pelajaran’. Mudah sekali. Namun saya menawarkan hal lain. Bahwa permohonan maaf harus didasarkan pada kenyataan konkrit.

Misal, ketika kedapatan mantan minta maaf via BBM, renungkanlah sejenak betapa kejamnya ia menindasmu dulu. Buat hitung-hitungan apa saja perlakuan buruk yang pernah dilakukannya, berapa kali dan apa dampaknya buatmu. Minimal dalam ruang logika. Sehingga sikap dan lakumu terhadap permintaan maafnya sesuai dengan panduan kalkulasi yang logis. Itu baru adil. Tak sekedar terbawa euforia lebaran begitu saja yang identik dengan saling memaafkan.

Mungkin sebagian orang akan bilang memaafkan dosa sebagai cermin kedewasaan diri. Itu benar. Tapi kedewasaan bukanlah kata mutiara yang didapat tanpa melewati proses yang agak rumit. Kau dulu disakiti oleh mantanmu dan ia minta maaf, lantas atas nama kedewasaan kau memaafkannya begitu saja? Itu bukan kedewasaan, melainkan kecerobohan yang tak berdasar. Bikin perhitungan supaya ia tak menyakiti orang lain lagi selain dirimu.

Maaf bukan sekedar ada dalam kata-kata, tapi juga harus terealisasi dalam bentuknya yang nyata. Dalam surat balasannya kepada Goenawan Mohammad soal ide rekonsiliasi korban politik 65′, Pram bilang: ‘Gampang amat meminta maaf setelah semua yang terjadi itu. Saya tak memerlukan basa-basi’. Sama ketika mantan minta maaf via BBM. Itu cuma basa-basi. Gampang amat. Tegakkan keadilan. Setidaknya kau dapat meluapkan rasa sakitmu dulu: ‘Mohon maaf biji matamu. Tak segampang itu. Ku doakan kau dapat ganjaran yang sama, seadil-adilnya, sehormat-hormatnya’.

Maka dari itu, sebaiknya para jomblo lebih teliti dalam menyikapi ‘mohon maaf’ dari mantan di kala lebaran. Lebaran memang momentum untuk memaafkan. Tapi maaf butuh perhitungan konkret supaya keadilan bagi keduanya terealisasi. Jangan sampai lebaran menjadi kedok mantan dalam upaya ‘menormalkan’ rasa sakit yang ia lakukan dulu. Selamat lebaran!

Tentang Penulis

Kholid Syaifulloh

Kholid Syaifulloh

Sedang mencoba jadi aktivis jomblo